
Nggak tau seberapa lama aku tidur, tapi yang jelas mataku ngebuka dikit tapi badanku sulit banget buat digerakkin.
"Siapa itu, siapa laki-laki itu. Jangan-jangan ada penyusup?" batinku.
Aku mulai panik, karena aku hanya bisa melihat dengan samar-samar, "Gimana nih? ada yang mau mencuri? atau ada yang mau ngejahatin aku?"
Aku nyoba merem lagi terus buka mata biar lebih jelas ngeliatnya. Tapi laki-laki tadi udah nggak ada. Yang ada perempuan rambutnya sebahu, pakai dress putih. Nengok kesini.
"Gadis?" aku bertanya-tanya dalam hati.
Dia keliatan lebih rapi, tapi muka masih pucet. Sorot matanya tertuju pada satu arah.
Dia kayak lagi tersenyum dan menunggu seseorang. Nggak mungkin ayang Ridho aku kan yang dia tunggu?
Gadis kayak ngulurin satu tangannya, buat ngeraih sesuatu dengan muka penuh harap.
"Apaan sih si Gadis?" lagi-lagi hanya batinku yang bersuara.
Dengan satu tangan terulur, tapi satu tangan yang lain ngebuka pintu.
"Ikut aku..." ucap Gadis.
Dan aku ngeliat satu sosok laki-laki yang tadi sempat aku liat samar-samar. Dia juga pakai kemeja putih bawahan cokelat. Dari belakang mirip banget sama kangmasku.
Aku tambah panik, "Jangan-jangan ayang Ridho selekong sama hantu?" batinky meronta.
Gadis tersenyum penuh arti, sedangkan si pria ini jalan mendekatinya dengan perlahan-lahan. Sumpeh hati aku udah nggak bisa berkata apa-apa lagi.
"Nggak mungkin kan aku kalah pamor sama hantu? nggak, ini nggak mungkin..." aku mencoba untuk teriak tapi nggak bisa.
Aku nyoba bangun tapi nggak bisa, badanku kaku nggak bisa buat digerakkin sama sekali.
Mulut mangap kayak ikan yang kehabisan air, "Dho, Ridhoooooooooo!" ucapku mencegah ayang Ridho menyambut tangan Gadis.
Sekali lagi, aku nggak bisa ngeliat wajah si pria tapi dari postur badan dan model rambutnya beneran mirip sama kangmasku.
Perlahan tanfan si pria terulur tapi mereka belum bersentuhan.
Aku teriak, "Jangan, Dho! jangan tinggalin aku Dhooooooo...! aku setia sama kamu, Dhooooo!" lagi-lagi suara itu cukup di dalam hati.
Kayaknya ada yang mencekik leherku sampai suaraku susah untuk keluar, aku pengen teriak nggak bisa. Aku cuma bisa ngeliat adegan slow motion ini dengan hati yang tercabik-cabik.
"Gimana caranya pacarku direbut sama hantu? masa iya Ridho lebih suka sama makhluk ghoib daripada aku yang masih berbentuk manusia?" aku gelengin kepala nggak percaya dengan apa yang akan terlihat di depan mata.
Perlahan tangan mereka bersentuhan, tatapan Gadis tertuju padaku. Dia mendekatkan dirinya pada si pria, lebih tepatnya dia sedang berbisik di telinga oria yang sama sekali belum nengok tapi aku yakin banget kalau pria itu Ridho. Tatapan Gadis begitu tajam melihatku, seakan pengen nunjukin kalau dia bisa memiliki ayangku itu.
"Nggak, nggak boleh! jangan peluk ayang aku begoooook!" aku pengen teriak saat kedua tangan Gadis menyentuh pundak kokoh ayang dan aku bisa melihat wajah Gadis yang tersenyum dengan misterius.
Aku makin kelabakan saat Gadis benar-benar memeluk Ridho di depan mataku, "Nggak, aku nggak boleh biarin tangan laknat wanita itu menyentuh pacarku!"
"Aaaaarrrhhhhhhhhhhh," aku nyoba buat gerakin tangan atau kaki.
"Dhoooo, Ridhooooooooo!" aku panggil-panggil Ridho biar dia insyaf dan balik ke jalan yang benar.
Gadis tersenyum saat tangannya memeluk pria yang ada di hadapannya itu, namun seketika wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan. Kuku-kuku tangannya berubah menjadi panjang dan hitam, dia berusaha mengarahkan itu pada punggung pria yang sekali lagi aku yakini itu Ridho.
"Jangaaaaaaaaaaaaaaaaaan!" aku teriak sekuat tenaga.
Dan ternyata aku terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh wajahku.
"Hey, kamu kenapa, Reva?" tanya seseorang yang aku hafal banget suaranya.
"Hah ... hhhh ... Ri-dhoooo?" ucapku ngos-ngosan.
Sontak aku peluk dia, aku takut banget.
"Kamu kenapa?" tanya Ridho, aku menggeleng.
"Aku kaget kamu tiba-tiba teriak gitu..." Dia ngebelai rambutku. Aku peluk kangmas posesif sambil ngatur napasku lagi.
Dan sekilas aku ngeliat cewek berambut sebahu dengan dress putih lewat di depan kamarku.
"Gadis?" gumamku.
Sekali lagi aku menggeleng, "Nggak ... nggak ada apa-apa..." ucapku. Ridho mencium kepalaku beberapa kali.
"Makanya tidur itu jangan ngelewatin maghrib, nggak baik tau!" kata Ridho.
"Maghrib?" aku lepasin pelukan kangmas.
"Iya, ini udah hampir hampir jam 7 malem," Ridho nyelipin rambut di belakang telingaku.
"Berarti aku tidur lama banget dong?"
"Mungkin. Karena begitu aku sampe, lampu belum ada dinyalain..." jelas Ridho.
"Aku ngerasa badanku kaku semua, Dho..." kataku.
"Kamu dierep-erep atau tindihan kayaknya!"
"Aku ketindihan apa, Dho? Bantal? pantesan aku engep banget!" ucapku.
"Bukan ketindihan, tapi tindihan. Aduuh gimana sih jelasinnya, pokoknya itu kayak gangguan tidur karena makhluk halus. Kalau di dunia medis terkenal dengan sebutan sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Badan kamu lagi istirahat tapi sel-sel otak kamu masih aktif. Intinya nggak sinkron antara badan sama otak..." jelas Ridho.
"Oooohhh gitu. Tau nggak aku tuh takut banget!" kataku yang menatap dua bola mata Ridho.
"Aku liat kamu sama si Gadis pelukan..." lanjutku.
"Aku? pelukan? sama hantu? yang bener aja, Revaaa..." ucap Ridho.
"Mona kemana?" tanyaku.
"Mona lagi ada tugas, dia ijin pulang telat..." kata Ridho.
Dan seketika aku baru nyadar kalau aku belum ngejelasin rumah yang udah dipermak sedemikian rupa.
"Dho ... maaf, rumah ini--"
"Sssssut, biarin. Aku nggak mau mikirin itu. Dia kan memang suka berbuat seenak jidat sendiri," kata Ridho yang ternyata sama sekali nggak marah.
Aku kira dia bakal ngomel atau misuh-misuh ngambek nggak jelas. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Ridho santuy aja.
Seketika itu juga aku jadi merasa rugi karena dari siang udah stress duluan.
"Padahal aku udah nyegah si Arjun buat masuk-masukin barang, Dho..." aku jelasin dulu sama kangmas.
"Arjun cuma suruhan, Va. Walaupun kamu bilang nggak mau nggak mau juga, dia bakal tetap ngelakuin apa yang udah jadi tugasnya. Kalau dia nurutin kamu yang ada dia yg kena masalah,"
"Iiiiiihhhhh kok kamu pengertian bangeeeettt siiiiihhh?" aku jadi gemes dan lelendotan sama mas pacar.
"Woya jelas, Ridho tampan dan menawan emang sangat pengertian. Nggak rugi kamu dapetin aku, Va. Aku ini bibit unggul!" kata Ridho nepuk dadanya sendiri.
Astaganaga, dia begitu pedenya. Aku nggak bisa membayangkan gimana bentukannya anak kita nanti.
"Eheeeeeemmmm!" Mona berdehem depan pintu kamarku dengan satu tangan nangkring di pinggangnya.
"Yang pacaran yang pacaran!" ucap Mona niruin pedagang asongan yang biasa masuk ke dalam bus.
"Kapan dateng, Mon?" tanya Ridho, aku yang diliatin calon adik ipar pun duduk dengan tenang dan sopan.
"Pas kalian ngomongin bibit unggul!" kata Mona.
Kemudian dia masuk dengan tas kecil yang nyangkol di punggungnya.
"Kalau aku aja pasti udah disemprot tuh berduaan kayak begitu!" sindir Mona.
"Dia abis tindihan, Mon! makanya Mas dateng terus coba bangunin," jelas Ridho supaya adeknya nggak salah paham.
"Masa siiiihhh?" ledek Mona.
"Kalau nggak percaya, nanti uang jajan kamu Mas potong 50% ya!"
"Eh, jangan jangan!" Mona langsung panik.
"Yaelah, Mas Ridho gitu aja marah. Mona percaya kok! aku ke kamar dulu, daaaaaah" lanjut Mona.