Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sadar Diri


Aku denger sayup-sayup orang manggilin namaku.


"Revaaa? sadar, Revaaa?"


"Dokter, dokter tolong!" suara pria berteriak. Aku ngerasa badanku melayang, lebih tepatnya dibawa berlari. Aku lihat sekilas, ternyata aku berada dalam gendongan pak Karan. Wajahnya panik.


Dan aku direbahkan di brankar dan nggak tau di dorong kemana. Kepalaku nyeri, aku ngeliat beberapa orang berseragam yang mulai memeriksa keadaanku.


"Nona ... anda sudah sadar?" ucap seorang dokter laki-laki.


Karena aku udah melek, aku pun ditanya-tanya sambil diukur tekanan darah oleh perawat. Nggak lama setelah itu, adek sepupu dateng.


"Bagaimana keadaannya?"


"Nona Reva sedang hamil, Tuan. Maka dari itu dia merasakan pusing. Dan itu wajar dialami oleh ibu hamil di trimester pertama," sahut si dokter.


"Hamil?" adek sepupu lantas ngeliat ke arahku.


"Tidak ada hal serius, jadi saya akan berikan obat anti nyeri saja, dan Nona Reva bisa beristirahat di rumah," kata dokter.


"Kalau begitu, saya permisi, Tuan..." lanjut dokter itu.


"Ya terima kasih,"


Aku sih alhamdulillah nggak perlu nginep atau dirawat di rumah sakit. Aku yang masih kliyengan mencoba buat bangun.


"Tiduran dulu aja, kalau masih pusing,"


Nggak ada tatapan dingin, nggak ada juga tatapan galak atau nyebelin. Yang aku liat cuma raut wajah kaget dan cemas.


"Apa ada yang lain yang kamu rasakan?" tanya pak Karan.


"Nggak ada,"


"Syukurlah, kamu bikin saya cemas saja, Reva..." ucapnya.


"Besok aku akan---"


"Ssh, bukan waktunya membahas itu," adek sepupu gelengin kepalanya.


Mungkin aku yang moodnya kayak roaller coaster ngadepin si Dera itu, jadi aku mrepeet aja tuh ngomong dengan emosi yang meluap-luap ke pak Karan yang berakhir dengan kejadian kayak gini. Yang ujung-ujungnya apa? ngrepotin orang, cakeeuuup!


"Dok? dimana istri saya?" suara laki-laki yang menjadi guru taekwondoku selama ini.


"Nama istri anda siapa?"


"Reva, Reva Velya. Dimana dia?" aku denger suara kangmas.


"Oh, Nona Reva? ada di sebelah sana," suara wanita yang mungkin perawat yang berjaga di sini.


Dan seketika kangmas muncul dengan muka nggak kalah cemas, Pak Karan nengok ke belakang ngeliat suami aing yang ngos-ngosan.


"Kamu nggak apa-apa?apa yang sakit? gimana keadaan anak kita? hem?" Ridho mencium keningku dan mengabaikan keberadaan adek sepupu.


"Aku nggak apa-apa," kataku.


"Ehem," pak Karan berdehem.


"Jangan berisik, ini rumah sakit!" lanjut pak Karan.


Yeuuh, si Bapak. Dia tadi aja teriakan kayak di hutan, aku yang pengsan aja bisa kebangun gara-gara suaranya yang nggak kira-kira.


"Bagaimana anda bisa disini?" Ridho berdiri di samping aku yang masih rebahan.


"Karena saya yang bawa Reva kemari," sahut pak Karan.


"Aduh, aduh, kalian kalau mau ribut mending diluar. Kepalaku tambah nyut-nyutan tau nggak?"


Akhirnya mereka berdua diam tanpa diminta. Dan sekarang kangmas lagi ngurusin administrasi dan obat yang bakal dibawa pulang.


"Apa tidak sebaiknya kamu dirawat saja?" tanya adek sepupu.


"Aku nggak apa-apa,"


"Masih aja takut rumah sakit..." ledek adek sepupu.


"Aku nggak takut, aku cuma bakal lebih cepet sehat kalau istirahat di rumah," aku ngeles.


Nggak tau kenapa dia menatapku dalam. Kayak ada hal yang pengen diucapkan tapi nggak bisa.


"Sayang? ayo kita pulang sekarang," ucap Ridho yang tiba-tiba aja nongol.


"Akh," aku bangun dengan dibantu Kangmas.


"Kalau masih pusing aku gendong aja sini,"


"Nggak, nggak usah. Aku masih bisa jalan, lagian malu..." aku gelengin kepala.


"Ehm, aku pulang. Makasih udah bawa aku kesini," kataku sama adek sepupu.


"Ya," jawabnya singkat.


Aku perlahan turun dan berjalan keluar. Sedangkan pak Karan masih di posisinya dan ngeliatin aku yang semakin jauh.


"Kamu nggak bilang kalau aku pingsan kan, Mas?" aku nanya Ridho sembari dipapah.


"Nggak, mama nggak tau. Tenang aja..." ucap kangmas.


Kami pun akhirnya pulang. Aku nanya dimana si Arlin katanya dia udah disuruh Ridho pulang waktu Ridho nyampe di rumah sakit.


"Jadi Arlin yang ngasih tau kamu, Mas?" aku nanya Ridho.


"Iya," jawab Ridho singkat.


Kangmas lanjut nanya, "Lagian ngapain kamu di kantornya pak Karan?"


"Ehm, aku mau balikin perusahaan. Kalau diceritain awalnya gimana, panjang kayak sinetron. Jadi intinya, kenapa perusahaanku bisa kerjasama dengan perusahaan lain karena ada campur tangan pak Karan. Ya udah, aku pikir aku mungkin nggak becus ngurus perusahaan itu dan aku mau balikin ke pemilik aslinya," aku jelasin secara gamblang, kenapa aku bisa nyangkol ke kantornya adek sepupu.


Ridho diem, nyimak aku yang mrepet terus kayak knalpot bocor.


"Lagian aku lagi hamil juga, aku mau ngurangin aktivitas. Dan ... aku udah punya suami, paling nggak ada orang yang bertanggung jawab atas aku dan anak yang ada di kandunganku saat ini, iya kan?" aku nengok ke arah kangmas.


"Iya, Sayang. Aku bakal menuhin kebutuhan kamu dan juga calon anak kita," Ridho ngelus lembut kepalaku sekilas.


Ya, lebih baik emang aku lepasin aja tuh perusahaan. Lagian, dengan bayang-bayang na Karan Perkasa emang bikin perusahaan itu lebih maju, tapi disisi lain aku kayak diremehin dan keliatan nggak ada power sama sekali. Mungkin emang aku tuh masih pantesnya di level karyawan, bukan pemimpin perusahaan. Kata-kata dari pak Dera ituh makjlebnya sampai to the bone, nusuk banget kata-katanya.


"Sayang? kok ngelamun, sih?" suara Ridho ngebuyarin semua lamunan aku.


"Nggak, Mas. Aku nggak ngelamun," ucapku tersenyum tipis.


"Kamu mau beli makanan apa? mumpung kita masih di jalan ini," tanya kangmas.


"Nggak usahlah, Mas. Paling mama udah masak di rumah, nanti kalau beli lagi yang ada jadi mubadzir. Nanti kalau aku ada yang dipengen tinggal deliverry aja dari rumah," kataku.


"Ya udah kalau gitu,"


Dan mobil ini ngebawa aku ke rumah tpat aku dan Ridho bernaung, menggantungkan sejuta harapan. Aku emang sadar diri dari awal, apa yang aku dapatkan selama ini semata-mata karena bantuan adek sepupu. Tapi mungkin sekarang saatnya aku fokus aja ke pernikahan aku sama Ridho, terutama dengan kehamilanku saat ini. Ravel udah ada yang ngurusin, yang bertanggung jawab sama kehidupan dia.


Jadi sebenernya bebanku udah berkurang banyak. Kalau mama kan ada bisnis toko kue dan catering yang alhamdulillah sampai saat ini masih jalan. Mungkin ini saat yang tepat buat aku nglepasin semuanya, dan balik ke kodratku sebagai wanita, istri dan calon ibu.


Setelah sekian lama, akhirnya kita sampai juga di rumah.


"Assalamualaikum," ucap Ridho yang selalu ngucap salam ketika masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam," aku nyaut dari belakang Ridho.


Rumah keliatannya sepi. Biasanya mama kan kalau aku pulang udah nyantai-nyantai di ruang tengah tapi sekarang kok nggak ada.


"Kenapa?" tanya Ridho.


"Mama kemana ya? tumben ini situasi rumah sepi kayak gini,"


"Mungkin lagi di kamar, lagian jam segini kan enakan juga tidur siang," ucap Ridho yang mapah aku naik tangga.


"Oh iya yah, ini masih siang. Aku ingetnya sekarang udah sore aja, Mas..." ucapku.


"Kalau kamu butuh mama, nanti aku coba ketokin pintu kamarnya," icap Ridho saat kita udah nyampe kamar.


"Nggak usah, Mas. Aku juga mau istirahat," ucapku yang rebahan di tempat tidur.


"Ya udah, aku ganti baju dulu ya. Gerah..." kata Ridho, aku pun mengangguk sebagai jawaban. Kangmas pun melenggang ke ruang ganti.


Dan sepintas aku ngeliat sosok makhluk yang datang disaat yang sangat tidak tepat.