Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Si Mulut Pedas


"Revaaa! berhenti, kita belum selesai bicaraaaa!" teriak pak Karan.


Tapi aku nggak peduliin itu. Aku tetap melanjutlan langkahku.


Dan...


Braaaakk!!


Aku banting aja itu pintu ruangan manusia kutub. Biar dia tau kalau aku juga bisa marah dan sama sekali nggak takut sama dia.


"Dasar orang nyebelin!" aku memandang sekilas daun pintu yang habis aku banting tadi.


Ruangan udah sepi karena emang udah waktunya jam pulang kantor. Aku pencet tombol lift dengan nggak sabaran, saking keselnya. Untungnya bos sombong itu nggak ngejar, dia masih ngejogrog di ruangannya.


"Lama banget sih?!!!" aku mulai kesal dengan benda pengangkut manusia ini.


Aku pencet-pencet lagi, "Nggak tau apa orang lagi keseeeel, hah! aaarrrh, sialan nih lift! pengen ngajakin berantem kayaknya!"


Wuuuzzzz!


Namun, sekilas aku ngerasa ada seseorang yang lewat di belakangku. Sontak aku menengok. Mataku yang dipenuhi dengan amarah melirik kesana kemari tapi nggak ada satu manusia pun yang ditangkap oleh kedua indra penglihatanku. Aku yang mulai nggak ngerasa nyaman pun mencetin tombol lift itu lagi.


Kling!


Ada chat masuk ke hapeku mungkin aja dari Ridho. Aku berniat ngerogoh hape, tapi pintu besi yang aku tungguin daritadi tiba-tiba kebuka.


Tanpa pikir panjang lagi aku buru-buru masuk ke dalam dan pintu pun tertutup kembali.


Aku yang lagi marah sama pak Karan nggak nyadar kalau di dalam lift sendirian di jam sore kayak gini tuh rawan, ya rawan ketemu setan. Tapi mudah-mudahan nggak lah, aku kan udah nggak seratus persen bisa ngeliat mereka semua. Kecuali yang energinya sangat kuat.


Meskipun begitu, nggak dipungkiri kalau dalam hati ada perasaan was-was. Kotak besi ini membawaku turun ke bawah.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai 14.


Tapi nggak ada satu orang pun yang terlihat menunggu di depan pintu besi ini. Buru-buru aku pencet lagi. Ruangan pak Karan itu ada di lantai 20, lantai teratas ada rooftop biasa buat jadi landasan heli kalau pak bos mau terbang saingan sama burung.


Kalau lagi sendirian, aku nggak mau bicara sembarangan. Dan yang terpenting aku nggak boleh ngelamun.


Dan aku nggak perhatiin di lantai berapa lagi, ini pintu besi tiba-tiba kebuka lagi.


Tapi kali ini ada satu sosok wanita yang secara nyata berdiri dan kini berjalan masuk ke dalam lift tanpa melepaskan pandangannya dari cewek cantik dan menawan seperti aku.


"Nggak nyangka ketemu lagi!" ucap wanita ini.


Ting!


Pintu besi ketutup lagi, sedangkan aku masih memandang si wanita dengan cuek.


"Masih aja keluyuran di perusahaan ini?" ucap si wanita.


Dia ketuk-ketuk dagunya dengan jari jemarinya yang lentik "Oh iya aku lupa, kan kamu sepupuan sama yang punya perusahaan, ya? jadi walaupun udah hengkang dari sini tetep bisa keluar masuk dengan bebas!" sindirnya.


"Aku lagi males ngomong sama kamu ya Karla!"


Ya wanita yang berdiri di sampingku ini, si karet bungkus nasi yang masih setia dengan blush on orange yang disapuin di tulang pipinya.


"Gimana? udah dapet kerjaan? atau masih jadi pengangguran?" Karla nyindir lagi.


Aku berusaha nggak dengerin ocehannya yang nggak mutu itu. Dia ngeliat penampilanku dari atas sampai ke bawah.


"Emang cantik butuh banyak modal ya? kesini mau minta duit sama pak Karan? tuh, muka kayaknya udah mulai kucel ya. Ck ck ck, aku heran loh, kenapa Ridho bisa milih yang kayak gini!" Karla nyerocos mulu.


Aku yang dihina abis-abisan, berusaha nggak terpancing. Kalau nurutin hati, pengen banget aku lakban itu mulutnya yang mggam beradab itu. Tapi aku di tempat orang, aku nggak bisa seenaknya.


"Nggak ada urusan sama kamu, La!" ucapku yang udah nggak tahan.


Karla tertawa mengejek, "Hahahahha, udah kere masih aja jutek..."


Astaga, cobaan apa lagi ini. Kok ya apes banget ketemu manusia ondel-ondel ini di sini. Mana lift lama banget turun ke lobbynya, bikin aing jadi darah tinggi


"Dengerin ya, Va! Ridho itu nggak beneran suka sama kamu, paling kalau dia udah bosen Dia bakal nyari aku dan ninggalin kamu!" ucap Karla dengan pedenya.


"Kalau dia suka sama kamu, dia nggak bakalan resign cuma buat ngejar aku!" aku tatap mata si karet bungkus nasi ini.


Sabar emang nggak ada batasnya, tapi disindir dan dihina mulu kayak gini juga bikin aku juga nggak bisa nahan buat nggak ngebales omongannya.


Dan untungnya lift kebuka saat udah nyampe di lantai lobby, aku segera keluar mendahului wanita cangcorang ini.


"Eeeits tunggu!" Karla narik tanganku, dia nahan aku.


"Apa lagi sih, La? nggak puas daritadi nyerocos mulu?"


"Aku denger, kamu sempet ke rumahku buat ketemu sama nenek, ya? ngarep banget nenekku mau bantu kamu gitu ya? hahahahah..." Karla tiba-tiba aja ngungkit soal kedatanganku ke rumah nenek Darmi.


"Hadeh, Revaa Reva. Nenekku mana mau bantuin orang yang udah bikin cucunya menderita karena kehilangan orang yang dia cintai. Lain kali kalau mau minta bantuan mbok ya dipikir dulu gitu ya pakai otak kamu!" Dia mau nyentuh pelipisku tapi aku segera menghindar.


"Tangan tolong dikondisikan, ya!" aku peringatkan Karla.


Ting!


Dari arah lift ternyata muncul pak Karan. Karla yang melihat itu pun langsung buru-buru menjauh, "Tuh saudara sepupu datang! sampai ketemu lagi, daaaah Revaaa cewek pengangguraan!"


"Astagaaa, mulutnya Karla bener-bener, ya!" aku kesel banget.


Tapi sekarang nggak ada waktu buat ngedumel, pak Karan semakin dekat dan aku harus buru-buru keluar dari gedung ini.


Sampai di depan aku jalan buat nyari ojek atau taksi, apa aja yang penting bisa bawa aku pergi dari tempat ini.


"Stop! stop, stoooop!" aku berhentiin salah satu taksi yang kebetulan lewat.


Aku buru-buru masuk ke dalam taksi itu, "Cepetan jalan, Pak!"


Aku nengok ke belakang dan ngeliat pak Karan memandang aku dari jauh setelah gagal ngejar aku yang udah kabur duluan. Dan setelah dirasa aman, aku ngadep ke depan lagi.


"Huuufh, salah besar aku datang ke tempat ini!" gumamku.


"Tapi kalau aku nggak dateng, aku nggak bakalan tau apa yang sebenernya udah dilakuin sama mantan bos yang merangkap sebagai adek sepupu aku.


"Apa aku harus nyari tempat lain buat tempat tinggal sementara?" aku bergumam.


Kling!


Hapeku bunyi, ada chat yang masuk dari Ridho


📱Kamu dimana? kata Mona kamu belum nggak ada di kontrakan.


Aku langsung balas.


📱Lagi naik taksi, otewe pulang.


Dan Ridho ternyata bales lagi.


📱Ya udah hati-hati di jalan. Habis mandi aku ke kontrakan. Kita cari makan bareng.


Aku masukin hape ke dalam tas, sedangkan pikiranku mengawang kemana-mana, "Apa aku harus cerita sama Ridho, kalau hari ini aku ketemu sama pak Karan?"