
"Dugaan apa, Pak?" aku penasaran.
"Luka di lenganmu infeksi. Minumlah," pak Karan memberiku obat yang ada di dalam kotak.
"Ini pereda sakit, seenggaknya badanmu tidak akan demam," lanjut pak Karan sambil memberikan satu keping biskuit dan air mineral.
"Kamu isi perut kamu dulu sebelum minum obat ini. Wajahmu ini udah mirip zombie, cepat minum..." pak Karan ngoceh mulu dah perasaan.
Oke, aku nggak boleh tepar disini. Minimal aku harus bertahan sampai aku bisa keluar dari hutan terkutil ini. Tapi masalahnya, aku itu paling susah nelen obat. Mana yang dikasih pak Karan tabletnya gede banget, ini aku ancurin jadi serbuk aja kali ya.
Aku makan satu keping biskuit yang tadi dikasih sama pak bos, nggak ada ngaruhnya di lambung sebenernya. Masih kruyukan perutku tuh, tapi lumayan lah daripada lu manyun.
Aku liat Ridho sama Karla lagi bolak balik ikan, baunya sih enak enyony begini.
"Hey, malah ngelamun! cepat diminum obatnya," suruh pak Karan.
"Sebentar saya cari batu dulu, Pak..." aku celingukan cari batu yang bisa buat ngegeprek nih obat.
"Batu buat apa? minum obat pakai air bukan pakai batu," pak Karan gemes sama aing.
"Ya elah sejak kapan manusia minum obat pakai batu, Pak. Orang jaman purba juga tau kalau batu nggak bisa dikunyah apalagi diminum. Saya mau ancurin ini obat, biar jadi serbuk. Kalau obatnya segini gedenya saya nggak bisa nelen, yang ada obatnya nanti keluar lagi..." aku ngejelasin sambil nunjuk obat yang masih tertutup.
"Astaga, berenang tidak bisa, minum obat juga tidak bisa. Lalu kamu bisanya apa?"
"Bisanya ngerepotin orang, Pak. Passion saya jadi beban dunia..." jawabku ngasal dan nemu dah nih batu lumayan buat ngulek nih obat anti nyeri, mungkin bisa ngobatin juga hati aing yang lagi nat nut liat Ridho ama Karla juga.
"Astaga, sini!" pak Karan ngerebut batu dan mulai ngegeprekin nih obat.
"Sekarang buka mulut kamu," ucap pak Karan yang udah mulai buka bungkusan obat yang udah alus.
Nah, pas mulutku udah mangap sambil ngedongak, eh si Ridho dateng.
"Ngapain kamu mangap madep langit begitu, Va?" tanya Ridho.
"Minum obat," jawab pak Karan yang pegang rahangku dan siap meluncurkan si obat yang udah jadi serbuk.
"Minum obat kok harus banget sampe kayang begitu, Va?"
"Uhukkk!" omongan Ridho bikin aing pengen ketawa dan si obat otomatis nyembur kemana-mana termasuk ke mukanya si bos dan Ridho.
"Minum!" tanganku nyari botol air.
"Minum obat nggak usah pakai nyembur juga kali, Va..." Ridho ngebersihin mukanya pakai tangan.
Glek.
Glek
Glek.
Demi apa obatnya pait banget, badanku sampe bergidig dan julurin lidah karena rasanya yang nggak enak.
"Paaaiiiit!" aku kipas-kipas mulutku yang rasanya nggak enak banget.
"Namanya obat pasti pahit, kalau manis itu permen!" pak Karan nepuk pipinya dan bajunya yang kena semburan naga dari akikah. Dia nutup kotak dan masukin ke dalam tenda.
"Ikan bakarnya udah mateng, aku ambilin ya?" Ridho ngelus kepalaku.
Ih, aku paling suka kalau kepalaku lagi diusek-usek gitu sama Ridho. Liat senyumnya yang uhuy banget pagi ini aku jadi inget kejadian semalem yang aku sama Ridho, ehem. Ah, malu ah jangan dibahas.
Ridho melambai ke aku sama pak Karan, kita di suruh nyamperin ke api unggun yang nggak jauh-jauh amat sebenernya dari tenda.
"Ikan bakarnya udah mateng..." Ridho ngedeket ke aku sambil bawa ikan yang dutaruh diatas daun. Dia bawa dua, satu buat pak Karan dan satu ada di tangannya, sedangkan Karla kataknya udah ambil bagiannya.
"Kamu bawa kecap?" aku heran kok ikan bakarnya kayak ada kecapnya gitu.
"Oh iya, aku bawa. Kamu mau ditambah lagi kecapnya?" tanya Ridho.
"Ehm," aku cuma senyum tipis.
Ridho ngambil botol kecap kecil dan dia kocrotin di atas ikan bakarnya.
"Aku suapin, kan tangan kamu lagi sakit..."
Aku bisa melihat aura-aura cembokur ya dari mata Karla, hem tapi jujur aja aku bingung harus buka mulut atau nggak. Bukan perkara Karla tapi...
Ridho udah mengarahkan ikan bakar ke mulutku tapi dengan cepat pak Karan menahan tangan Ridho.
"Dia alergi," kata pak Karan santai.
"Alergi?"
"Dia tidak makan ikan, masa kamu temannya tidak tahu kalau Reva alergi makan seafood dan semacamnya?" sindir pak Karan.
"Emang kamu alergi? tapi ini ikan tawar bukan ikan laut," tanya Ridho sama aku.
"Aku emang alergi mau air tawar atau air laut sama aja. Makanya kan aku nggak bisa berenang..." aku ngejawabin Ridho.
"Aish urusan berenang berbeda dengan kamu makan ikan atau tidak, Reva!" pak bos nyamber aja.
"Terus kalau kamu nggak makan ini kamu makan apa?" gumam Ridho.
"La? di tas masih ada mie seduh?" tanya Ridho karena tas persediaan makanan kan Karla yang bawa, dan tanggung jawab buat ngecekin isinya.
"Nggak tau!" jawab Karla, dia malah asik makan ikan.
"Kamu makan dulu aja, aku tadi udah makan biskuit," aku nunjukin ikan bakar yang baunya itu loh bikin aku mendadak laper banget, cuma sayang aku nggak bisa makan ikan. Padahal aku doyan banget aslinya, tapi ya daripada gatel sebadan-badan kan repot ya jadinya.
"Ya udah, aku makan ini dulu. Nanti aku cariin yang bisa kamu makan, mungkin masih ada persediaan di dalem tas," Ridho tersenyum.
Dan mereka bertiga makan ikan bakar dengan lahapnya, sementara aku cuma bisa pegangin perut. Setelah selesai mereka pergi buat cuci tangan, sedangkan aku jagain tenda.
Dan lagi-lagi aku melihat sekelebat perempuan dengan kaos biru dari kejauhan. Tapi cuma selewatan aja gitu, badanku yang lemah bikin aku males buat ngikutin.
"Ada apa, Va?" tanya Ridho yang ngeliat aku fokus ke satu titik, sampai nggak ngeh kalau Ridho, Karla dan pak bos udah balik lagi ke tenda.
"Nggak ada apa-apa, Dho. Kayaknya ada hewan yang lewat, tapi mungkin perasaan aku aja kali..." aku bohong lagi sama Ridho.
"Kirain ada apaan," ucap Ridho sebelum masuk ke tenda dan mengobrak abrik isi salah satu tas.
"Masih ada nih!" Ridho setengah berteriak.
"Alhamdulillah aku masih bisa sarapan," aku ngelus perutku yang udah demo daritadi.
"Aku bikinin dulu," kata Ridho.
"Reva juga bisa bikin sendiri kali, Dho..." kata Karla.
"Dia masih sakit, La..." kata Ridho yang keukeuh bikinin aku mie seduh.
Aku sih cuma narik satu bibir ku yang seksoy ini, deuh kasian emang ini karet nasi warteg. Tak semudah itu kamu bikin Ridho berpaling dari pesona aing walaupun body mu kayak gitar espanyola. Tapi aku yakin, Ridho itu jodohnya aing dan nggak ada yang bisa merubah itu.
...----------------...