Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nggak Mood!


Dan ternyata...


Brukkk!


Aku di dorong nenek galak ini.


"Jangan sentuh aku!" seru nenek Gayatri.


Dedek sepupu yang juga mantan bos aing langsung nolongin, dia bantu aku buat berdiri.


"Kau tidak perlu repot-repot membantu manusia iblis itu!" kata pak Karan yang menatap nenek Gayatri dengan sorot mata yang tajam.


"Kantiiiii, Sukantiiii..." teriak si nenek. Sementara darah yang keluar tak juga berhenti.


"Pak..." aku berusaha buat mendekat buat rlapin itu darah, tapi tangan aku ditahan sama pak bos.


"Biarkan saja!"


Dan yang tadi dipanggil pun dengan langkah terburu-buru mendekat.


"Nyonyaaa!" pekik wanita yang bernama Sukanti itu.


Dia segera mengambil tisu dan membersihkan darah yang mengalir dari hidung majikannya. Wajahnya makin pucet.


"Pergi kaliaan!" teriak nenek Gayatri bikin aku kaget. Suaranya itu loh, bikin orang jantungan!


"Aku bilang pergiiiiiiii!" dia teriak lagi.


"Ayo, Yah ... kita pergi," pak Karan mengajak ayahnya keluar dari rumah ini.


Aku cuma ngikutin kemana mantan bos ngegandeng tangan aing. Sampai di luar pak Karan pun berhenti.


"Pulanglah ke rumah. Emh ... ayah..." pak Reynold tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Nanti Karan pulang ke rumah, Yah! setelah mengantar Reva pulang..." ucap pak Karan.


"Baiklah, ayah tunggu..." ucap pak Reynold.


Dan ketika berdua berbalik badan tiba-tiba pak Reynold nanya lagi, "Sebenarnya kamu selama ini pergi kemana, Karan? kau seperti hilang ditelan bumi..."


Aku dan pak Karan memutar badan dan saling menatap sebelum pak Karan menjawab pertanyaan ayahnya.


"Ceritanya sangat panjang, Yah! tapi yang jelas


aku hilang bersama gadis ini, Reva. Dia anak dari om Dave, kakak kandung ibu..."


Ya udah pak Karan lanjut cerita kalau kita berdua hilang di hutan. Dan ternyata, tempat itu yang dicari ibunya untuk mengembalikan cincin terkutuk itu. Pak Karan menjelaskannya dengan singkat, tapi mengena yang intinya kalau kita telah melintasi dunia gaib.


"Maafkan Ayah..." ucap pak Reynold dia mendekat dan menepuk pundak pak Karan.


"Dan kau, Reva. Datanglah ke rumah jika kau ada waktu, bagaimanapun kau keponakan mendiang istriku dan berarti kau juga bagian dari keluarga ini..." lanjut pak Reynold.


"Pasti, Pak..." ucapku sopan.


"Panggil saja, Om. Kita ini keluarga. Ya sudah, kalian hati-hati di jalan..." ucap pak Reynold.


"Baik, Om. Kami permisi..." aku memberanikan menyalami tangan om ku itu sebelum aku pergi.


"Yah, kita duluan..." kata pak Karan.


Matahari mulai bergerak ke arah barat. Kayaknya ini udah pas banget kalau aku pulang ke rumah. Sekarang aku di dalam mobil bareng pak Karan, banyak hal yang terjadi hari ini. Sampai-sampai, otakku nggak bisa mencerna semuanya.


Satu hal yang aku mudeng, kalau besok ku resmi jadi beban keluarga dan negara.


"Kamu kenapa?" tanya pak Karan, tapi aku males ngejawab. Aku diem aja.


Aku lagi mikir gimana nasibku hari-hari berikutnya. Aku bukan orang kaya yang bisa selonjoran nonton drakor tanpa mikir besok mau makan apa, duit nyukup nggak ya buat beli pensil alis.


"Hey! ditanya malah diam saja! kamu kenapa?" pak bos lagi-lagi ngagetin.


"Astaghfirllah nyebut, Pak! ngagetin tau, nggak!" aku misuh-misuh, kesel banget ama nih manusia.


"Kamu itu saya tanya daritadi tapi diam saja!"


"Astagaaaa! kamu..."


"Apa? udah deh, Pak. Kalau Bapak mau berdebat, saya mending turun. Saya mau naik angkot!" aku udah ancang-ancang buka sabuk pengaman.


"Diam di tempat duduk kamu! saya antar kamu pulang," kata si bos yang makin kenceng aja nyetir mobilnya.


"Sekalian nganter ke rumahnya Karla bisa nggak, Pak?" aku nanya. Dan pak Bos yang kaget atau bagaimana, dia jadi ngerem mendadak.


"Astaghfirllah! Bapak bisa nyetir nggak, sih? bikin orang jantungan tau, nggak?" aku natap dia sinis.


Dalam hati aku curiga nih orang mau bikin aku wassalam duluan apa ya.


"Mau apa kamu ke tempat Karla?"


"Saya ada perlu,"


"Perlu apa?" pak Karan natap tajam.


"Ya ada perlu pokoknya,"


"Bukannya urusan cincin itu udah selesai? terus kamu kesana mau setor nyawa apa gimana? kamu tau bukan perjalanan ke rumah Karla itu melewati hutan belantara," ucap pak Karan, dan aku jadi inget kalau aku pergi sama ini orang alamat kesasar ke dunia lain lagi.


"Terus aku minta tolong sama siapa, dong? sama Ridho? oh tidak, majnun! aing lagi pundung sama itu orang!" aku dalam hati.


"Kesana sendirian juga nggak mungkin, aku nggak inget juga jalannya!" aku ngebatin lagi.


"Heh! kalau ditanya orang itu dijawab, jangan malah ngelamun!" pak bos ngagetin jiwa dan raga aing maung.


"Emangnya bapak orang?" aku nyeletuk, muka dia udah nggak enak.


"Apa?" aku liat mukanya, nggak takut aing mah.


"Kamu itu ditanya baik-baik,"


"Masalahnya hati dan pikiran saya lagi nggak baik-baik," aku nyerobot omongan dia.


"Saya nggak peduli!" jawab si bos.


"Ya udah ngapain nanya, bikin kesel aja!" aku baru kali ini berani kayak gini sama si bos, biasanya mah modal diancem dipecat aja aku udah kicep.


Ya udah akhirnya mobil jalan lagi, dan sekarang kita nyampe juga di kontrakannya Ridho yang sekarang aku tempatin.


Dan kita berdua keluar dari mobil, aku bawa barangku yang ada di dalam kotak.


"Kok pintunya kebuka kayak gini, sih?" aku ngomong lirih. Dan aku ngeliat ada sepatu laki-laki ada di teras.


"Assalamualaikum," ucapku sebelum masuk ke dalam.


"Waalaikumsalam," sahut mama dari arah dapur.


Aku sih nggak nawarin pak bos buat ikut masuk ya, tapi nggak tau nih mantan pemberi gaji bisa ngintilin mulu.


"Baru pulang, Va?" tanya mama sambil ngelirik ke arah tanganku yang bawa kotak.


"Iya, Mah..."


"Loh, ada Karan juga?" mama mengernyit.


"Iya tante, tadi nggak sengaja ketemu Reva dan sekalian saya antar kemari," jawab pal Karan.


"Oh, begitu..."


"Ya udah, Mah! Reva masuk ke kamar dulu,"


"Eh eh, tunggu-tunggu. Kamu bawa kotak apa itu, Va?" tanya mama.


"Kotak? ehmm ... anu, Mah..." aku bingung mau ngejawab.


...----------------...