
Dan disinilah diriku dan kangmas. Duduk kayak orang mau sidang skripsi yang dosennya killer abeeeezzz. Bener dah, ekspresi wajah nenek Darmi begitu menakyutkan, deuh si nenek jangan galak-galak ntar cepet tua loh.
Nenek natap kita tanpa ada sepatah kata pun. Bibirnya biasa berwarna merah karena dia suka banget sama yang namanya nyirih.
"Cuiiih!" nenek membuang surih yang ada di mulutnya pada sebuah kaleng yang dilapisi plastik.
"Jadi kamu kemari ingin kembali menyentuh alam lain? hah?" lanjutnya.
"Emh..." aku menatap Ridho.
"JAWAAAAB!" bentak nek Darmi.
"I-iya, Neeeek..."
"Menurut info teman saya hilang di hutan, dan barangkali saja dia menunggu pertolongan. Sama seperti saya dulu. Saya kembali kesana tujuannya hanya ingin menyelamatkan teman saya itu..." jelasku, biar si nenek jangan salah paham.
"Memangnya kamu sudah tau pasti dia masih hidup, hah?" tanya nenek Darmi.
"Tidak, Nek. Itu ... itu hanya perasaanku saja. Karena.."
"KARENA APAAA?!"
"Karena dia hadir dalam mimpiku, bukan hanya itu dia juga sempat menghubungiku lewat telepon..." aku mencoba jujur.
"Maaf, saya menyela, Nek..." Ridho menggenggam tanganku, dia menatap nenek Darmi yang dari tadi mengintimidasi.
"Reva ini kesini ingin tau apakah temannya itu masih hidup atau tidak. Dan kalau masih hidup, Reva ingin meminta tolong untuk menarik kembali temannya itu dari alam goib. Kami mohon bantuannya, Nek," kata Ridho.
"Benar-benar menyusahkan!" ucap nenek Darmi.
"Buuuu..." bu Wati mengelus lengan ibunya.
"Kau juga tau kan? menembus dinding alam lelembut itu penuh resiko!" ucap nenek Darmi pada bu Wati.
"Bantulah mereka, Bu..."
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap nenek Darmi.
"Cepat ambilkan bokor tembaga, isi dengan air dan bunga 7 rupa!" suruh nenek Darmi pada bu Wati.
"Baik, Buu..." ucap bu Wati.
Nenek Darmi menatap kami berdua secara bergantian sebelum akhirnya pergi menuju ke belakang.
"Nak Ridho, ibu minta tolong belikan bunga 7 rupa di pasar. Pasarnya sekitar 3 kilometer dari sini, ibu akan menyiapkan sarapan dulu untuk nenek..." ucap bu Wati.
"Hanya bunga saja, Bu?"
"Iya hanya itu saja, oh ya melatinya lebih banyak daripada bunga yang lainnya ya..." imbuh bu Wati.
"Ibu tinggal dulu," ucap bu Wati seraya beranjak menyusul nenek Darmi.
"Aku ke pasar dulu, ya?" ucap Ridho.
"Terus aku?" aku nunjuk hidungku sendiri.
"Tunggu disini aja, aku nggak lama kok..."
Aku menggeleng, "Nggak ah, nggak mau! aku ikut kamu aja, Dhooo...!"
"Masa tega sih ninggalin aku disini?" aku kembali memelas.
"Kan ada bu Wati, ada nenek Darmi juga..." kata Ridho.
"Ikuuuuut..." aku narik-narik kemeja yang dijadiin outer sama Ridho.
"Ya ya udah deh, ayok!" kangmas ngegandeng tanganku buat keluar dari rumah tua ini.
Kan kan kan!
Belum apa-apa udah gempor, ini 3 kilometer itu by kaki atau by ojek sih?
Daritadi kita jalan belum nemu pangkalan ojek. Ini orang pada kemana coba, masa iya ojek cuma malem doang kan aneh banget.
"Dho, bener nggak sih itu peta online?" tanyaku.
Maap, maap aja kita nggak sebut brand ya, astogeh.
"Dhoooo .... wooooy!" aku ngegeplak lengannya yang keras kaya papan kayu. Kebanyakan nge-gym ini si Ridho.
"Iyaaa woy! jangan tereak juga kali, Va! kupingku sakit nih!" Ridho ngusap telinganya.
"Abisnya kamu ditanyain diem-diem bae!"
"Ya sabar dulu cintaku, ini mamasnya lagi liat map. Kan tau sendiri tadi nggak ada rumah penduduk, ini aku juga lupa-lupa ingat jalan yang tadi dilaluin bu Wati!" kara Ridho.
"Tadinya inget, tapi pas ngepasin sama map kok beda. Aku jadi bingung..."
"Ya amplooooop! untung ya, untung..."
"Untung apa, Va?" tanya Ridho setengah bingung.
"Untung aku ngikut. Coba kalau nggak? bisa spai seabad aku nungguin kamu di rumah nenek Darmi yang galak itu!"
"Huuush, jangan ngomong sembarangan! galak-galak begitu kan dia mau nolongin kamu loh, Va. Dia itu orangtua, kamu nggak boleh ngomong yang aneh-aneh..." Ridho ceramah.
"Iya iya iya, nggak ngomong gitu lagi. Terus ini jalannya gimana? aku capek!"
"Kita duduk dulu aja, kayaknya internetnya buffering. Lagian biasa kan map kadang suka aneh-aneh ngasih jalannya?" Ridho main duduk di bawah pohon sambil nunggu wangsit.
"Kayaknya di depan sana ada jalan. Mungkin kita bisa ketemu kang ojek!" ucap Ridho sambil nunjukin hapenya ke aku.
"Jalan lagi?" aku baru aja duduk, ngelurusin kaki. Eh, mau diajak gempor lagi.
"Terus maunya? digendong? kamu kan berat, Vaa! dosa kamu banyak, aku takut nggak kuat!" seloroh Ridho.
"Sembarangan!"
"Ya udah, yok?" Ridho bangkit dan setengah berjongkok membelakangiku.
"Ngapain?"
"Katanya capek? ya udah sini naik punggung aku, sebelum naik kepelaminan!" ucap Ridho.
Deuuuh si abang kalau ngegombel suka nggak liat-liat sikon. Aye kan jadi maluuu.
Aku yang ditawarin punggung pun langsung nemplok, daripada harus jalan kaki. Ini otot kaki udah lemes, capek. Mana nggak bawa air minum kan, bisa-bisa aing semaput dimari. Pingsan maksudnya ya.
Sementara Ridho gendong aku di punggungnya. Aku yang pegang hapenya sambil nunjukin ke arah mana kita harus jalan. Semoga nggak semakin nyasar, ya. Soalnya dulu waktu belajar peta buta, aku sering bolos. Jadi suka bingung gitu liat peta begini, peace. Tapi jangan bilang-bilang kangmas Ridho ya. Ntar aku digetok.
"Kanan apa kiri?" tanya Ridho saat kita dipersimpangan.
"Kiri?" ucapku agak ragu.
"Beneran?" Ridho kayaknya nggak yakin dengan jawabanku.
"Iya iya kiri!"
Dan Ridho pun jalan sesuai petunjuk dariku. Emang tuhan itu maha baik ya. Di depan, aku ngeliat ada rumah penduduk dan ada kayak saung gitu yang di depannya ngejogrog sepeda motor.
"Alhamdulillaaaah!" ucap Ridho yang kayaknya udah tepar karena ngegendong akikah.
"Turun, Va!" ucap Ridho, yang nurunin aku sebelum menghampiri saung itu.
"Aaarrrghh, pegelnyaaaa!" Ridho regangin otot pinggangnya yang nggak bisa dibayangin pegelnya kayak apa.
"Nggak kuat sok-sokan gendong. Rematik nggak tuh?" ucapku ngeledek Ridho.
"Kamu itu berat, Va! nggak ada yang kuat selain aku!" kata Ridho.
"Pak Karan kuat kok, dia nggak bilang aku berat!" aku inget-inget waktu dipanggul di pundaknya kayak karung beras.
"Jangan sebut-sebut nama dia, aku nggak suka! " kata Ridho yang bete.
"Kita kesana!" Ridho narik aku buat jalan menuju motor yang sengaja diparkir di depan saung.
"Permisi, Bang!" sapa Ridho pada orang yang tengah duduk dengan kaki menjuntai ke bawah.
Kalau aku sih lebih memperhatikan, ini orang atau bukan. Takutnya dia bukan manusia tapi setan yang lagi cosplay jadi kang ojek.
"Eh iya, ada apa, Mas?" pria itu merespon pertanyaan dari Ridho.
"Mau tanya, Bang. Pasarnya masih jauh nggak ya?" tanya Ridho.
"Pasar?"
"Iya pasar tradisional," ucap Ridho.
"Oh, iya deket kok, Mas. Paling satu setengah kiloan dari sini," jawab kang ojek.
Buseeeetttt dah, masa iya harus jalan lagi? Kaki nggak kuat, maap.
"Gimana?" tanya Ridho.
Aku cuma bisa mencebikkan bibir seksoy ku. Ya ampun, ini kita bisa pingsan kalau jalan mulu. Betis aing bisa jadi gede.
...----------------...