
"Gimana, gimana?"
"Nikah? wah, Bapak fix kena sawan!" aku lepas tangan pak Karan dari pipiku, dan aku arahin tanganku ke jidatnya, dan satu lagi aku tempelin punggung tangan ke jidat nong-nongku sendiri.
"Nggak, panas!" kataku lirih.
"Saya tidak sakit dan apa itu kena apa tadi? sawan? saya tidak sedang kena sawan," pak Karan nyingkirin tanganku.
"Saya yakin Bapak itu kebanyakan ketemu setan kayaknya ya, jadi aneh begini. Makanya, Pak, istighfar. Kita ini sepaha, eh sepupu. Mana ada sepupu nikah? nggak usah ngadi-ngadi, deh!" kataku yang mau meraih handle pintu tapi malah dicegah adek sepupu.
"Memang aturan darimana saudara sepupu tidak boleh menikah?"
"Astaga!" aku tepok jidatku sendiri. Ini pak Karan lagi nge-hank apa gimana sih.
"Ya nggak boleh, lah Bapak! ada ikatan kekerabatan diantara kita. Kita itu hubungannya masih saudara dekat, dan setauku itu nggak boleh, Pak!" aku jelasin pelan-pelan.
Nggak dipungkiri ya, pak Karan itu kan pria mature yang 'uwow' banget, baik dari segi tampang dan dompet. Pokokna mah, idaman semua mertua kecuali galak dan nggak sabarannya itu yang suka bikin orang trauma.
Tapi sesomplak-somplaknya, aku nggak mungkin menghianati cinta akang Ridho yang udah mendarah daging. Aku masih berpegang teguh pada kesetiaan.
"Bapak sing eling, kita ini ada hubungan kekeluargaan!"
"Kalau begitu kita jangan jadi saudara,"
"Ya nggak bisaaaaa Markonaaaaaahhh! eh, maksud saya, ya nggak bisa lah, Bapaaaaaaaak! udah jangan ngerjain saya dengan obrolan absurd ini, Pak. Saya lagi banyak urusan," kataku sok penting.
"Dan lagipula, saya sudah punya kandidat lain..." lanjutku.
Dia memelukku untuk beberapa saat. Kayaknya ini orang cuma butuh ada yang nemenin sebenernya. Makanya nggak ada angin nggak ada ujan atau gledek, cowok sedingin ini tau-tau ngajak nikah. Aku tau dia kesepian, tapi bukannya dengan semua hal yang dia miliki, itu malah bikin dia gampang buat mencari pendamping hidup.
"Menikah itu bukan seperti beli terasi di warung sebelah, Pak..." aku bicara agak lembut. Pak Karan diem aja.
"Menurutku Bapak cuma salah mengartikan kebersamaan kita selama ini," kataku lagi. Kali ini dia menggeleng. Sedangkan mataku melihat ke arah tombol-tombol yang ada di sisi pintu mobil.
"Sok tahu kamu!" jawab Pak Karan, dia memelukku lebih erat.
"Saya tau persis dengan apa yang saya rasakan," ucap pak Karan. Astaga, karanya bilang suka tapi tetep aja galaknya nggak ilang-ilang.
Elah, kadang bilangnya aku sekarang saya. Labil banget nih si bos. Sabar, Revaaaaa resiko cewek cantik ya begini. Aku ini terlalu mempesona sampai-sampai orang kayak batu karang gini aja bisa kesengsem sama aing.
Tanganku menggapai tombol yang ada di pintu dan...
Klik.
Kunci pintu terbuka. Aku melepaskan pelukan adek sepupu dengan cepat
"Lain kali kita bicara lagi, yang jelas ada hal penting menungguku. Bye!" aku buka pintu dan keluar dari mobil.
Aku setengah berlari mencari kendaraan yang bisa mengantarku kembali ke kontrakan.
Bersyukur ada satu kang ojek yang pakai jaket ijo yang lewat ketika aku melambaikan tangan dan agak jalan ke tengah.
"Awaaaas, Mbaaaaak!" teriak si kang ojek yang ngerem mendadak.
Ciiiiiiit!
"Astagfirlaaaaah! Mbaaaaaak udah bosen hidup apa gimana?" kang ojek buka setengah helmnya biar puas marahin aku. Dan aing sama sekali nggak pedulu, aku langsung naik ke motornya.
"Cepet jalan!" aku tepok bahu si kang ojek.
"Elah si Mbak, main ningkring di motor saya. Saya mau ambil orderan penumpang di perempatan sana!"
"Halah cancel aja! ntar saya bayar 2x lipat! udah cepetan jalan!" kataku maksa.
"Beneran 2x lipat loh, Mbak! ojo ngapusi!"
"Sabar, Mbak. Pakai dulu helmnya, biar aman!" kang ojek nyodorin helm, baru juga naro helm di kepala, si abang-abang jaket ijo ini langsung nge-gas motornya!
"Astagaaaa! yang bener dong bawa motornya! saya mau kejengkang iiniiiiiii!" aku teriak.
"Maap, Mbaaak! nggak sengaja!"
Vangke emang, kang ojek ini hampir aja mencelakai wanita idaman pria masa kini. Sat set sat set, si kang ojek selap-selip kendaraan yang ada di depannya, itu juga aku yang nyuruh. Soalnya aku takut, Ridho keburu dateng dan dia tau aku nggak ada di kontrakan. Bisa gagal total rencana ke kampungnya Karla.
Setelah melewati jalan yang berliku, akhirnya aku sampai juga ditempat tujuan. Dan pas aku turun, bertepatan dengan datangnya Ridho dari arah belakangku.
"Darimana?"
"Ehm," aku bingung harus jawab apa.
"Dho, bayarin abang ojeknya, Dong! duitku di dalem, ntar aku ganti!"
Ridho mengernyit heran, dan pas dia ngeluarin uang lima puluh ribuan aku cepetan nyerocos.
"Tambahin 50 lagi, Dho!"
"Banyak banget? emang kamu ngojek dari mana sih?" tanya Ridho.
"Ehmmmm..." aku garuk-garuk kepala.
"Kok mahal banget, Bang? emang dia ngojek darimana?" Ridho nanya sama abang ojek.
Aku rebut dompet Ridho dan ngambil uang 50 ribuan dan langsung nyamber uang yang ada di tangan Ridho buat aku kasihin ke abang ojeknya, itung-itung latian jadi istri. Duit suami adalah duit istri, duit istri tetap duit istri, kan begitu ya.
"Makasih, Mbak!" abang ojek segera pergi setelah duit diterima dan dimasukin ke kantong.
Aku pun balikin dompet ke tangan pemilik aslinya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Va. Kamu habis darimana?" tanya Ridho.
"Oh itu, jalan-jalan aja..."
"Ehm, kita mau berangkat sekarang? aku siap-siap dulu!" aku may mlengos ninggalin Ridho, takut ditanyain macem-macem. Aku nggak bakat bohong.
"Tunggu dulu..." Ridho narik tanganku.
"Ngobrolnya di dalem aja, panas nih. Skincare lagi mahal, ntar aku gosong, Dho..." aku ngajak Ridho ke dalem, seenggaknya aku punya sekian detik buat mikir alesan yang tepat kemana aku pergi tadi.
Ridho ngikutin dari belakang, aku tau dia pasti mencium gelagat aneh. Tapi aku pura-pura nggak tau aja.
Setelah sampai di dalam, aku nodong pertanyaan ke Ridho soal keberngkatan kita hari ini. Hal itu ngebuat dia lupa buat nanya ini itu sama aku.
"Jadi kamu nggak dapet pinjeman mobil?" aku nanya serius.
"Iya, tau nih si Fikri bilangnya mobilnya lagi ngadat, nggak bisa buat perjalanan jauh..." kata Ridho.
"Emang nggak ada lagi temen yang bisa bantu?"
Ridho menggeleng sebagai jawabannya.
aku gregetan nih sama Ridho. Kan nggak mungkin kita kesana pakai ilmu kebatinan atau naik kuda kayak di film-film kolosal.
"Terus kita naik apa dong kesananya, Dho?"
"Bus!" Ridho nyodorin dua tiket bus yang dia keluarin dari saku jeans-nya dan nyerahin kertas itu
"Kita berangkat nanti malam," lanjutnya.
...----------------...