Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Cahaya Kunang-Kunang


Nungguin para makhluk belanja ternyata lama juga ya. Para setan di hutan ini juga nggak mau kalah eksis sama kayak manusia.


Kita aja yang nungguin udah badmood banget. Gila aja, nggak bubar-bubar itu pasar. Apa perlu kita panggil satpol PP biar pada ngibrit?


Saking lamanya, hampir aja aku ketiduran, mbak Sena juga kayaknya udah capek dan meremin mata. Keliatan banget kalau dia itu lemes beneran bukan dibuat-buat. Mungkin energinya terserap banyak makanya dia kayak loyo dan nggak bertenaga.


Aku merem bentar, dan ngerasa ada orang yang panggil namaku tapi lirih banget. Suara mirip laki-laki, "Revaaaa..."


Setan mana aja, please jangan ganggu aku. Namaku udah kesebar di kalangan para hantu apa ya. Sampe pada kenal dan berusaha menarik perhatian aing yang sebenernya cuma tertuju pada ayang Ridho.


Ngomobg-ngomong ayang Ridho, dia pasti khawatir banget kalau tau aku nggak ada di dalam tenda dan hilang tanpa jejak.


Atau jangan-jangan dia nggak cemas dan malah jingkrak-jingkak terus jadian ama cewek laen? Kalau terbukti kangmas berani menduakan aing yang cantiknya menembus cakrawala dan antariksa ini, awas aja aku bakal jambak tuh giginya biar tau rasa.


"Revaaa..." suara laki-laki itu terdengar lagi. Aku jadi atut.


"Mbaaak, mbaaak Sena..." aku bisik-bisik.


"Kenapa, Vaaa?" mbak Sena nyaut dengan suara seraknya. Mungkin dia baru aja mau tidur tapi keganggu sama suara aing yang manggilin mulu.


"Mbak, ada yang lewat..." aku ngeliat ada makhluk yang mungkin lagi patroli.


Baru juga mbak Sena mau nyautin, aku langsung nyerobot lagi.


"Mbaaak diem aja, duduk nunduk. Nyamar jadi hantu. Kalau mereka bisa menjelma jadi manusia, kenapa kita nggak? kita cosplay dulu jadi hantu, Mbak?" ucapku yang langsung ngacakin rambut ke depan biar nutupin muka.


Pokoknya usaha dulu aja, kali aja berhasil. Tapi untungnya makhluk tadintuh nggak tau-tau nongol depan mata 'tadaaaa' gitu. Untuk beberapa saat aku terdiam, bener-bener menghayati peran sambil menunggu bala bantuan datang.


Setelah dirasa cukup aman, aku intip dari balik rambut yang menjuntai ke depan.


"Kayaknya udah sepi," aku dalam hati.


Aku nengok ke samping, "Mbak, mbak! kayaknya udah aman!"


Tapi mbak Sena diem aja. Matanya tertutup.


"Mbaaaak? Mbaaaaak?" aku goyang-goyangin bahunya, dia nggak bereaksi.


Aku seketika panik, "Mbak, Mbak Sena! ayo kita pulang, Mbaaakkk!"


Aku nggak mungkin tereakan minta tolong. Nggak ada orang disini, yang ada nanti kita mancing perhatian para makhluk dan itu bukan yang kita harapkan.


Seketika aku inget gelang yang dia pakaikan di tanganku, "Nggak, nggak mungkin! kamu nggak akan selamanya disini, Mbak! kita bakal keluar sama-sama!" aku mulai frustasi dengan keadaan saat ini.


"Emmmh!" mata mbak Sena kebuka sedikit.


"Aku mau tidur, Va..." kata mbak Sena lirih.


"Nggak, mbak! mbak harus tetep sadar! mbaak nggak boleh tidur, kita pindah dari sini!" aku coba angkat mbak Sena ke punggungku, berat aing nggak kuat.


"Aduh nggak bisa!" gumamku.


"Kamu pergi, Vaaa! makasih kamu mau datang kesini..." lirih mbak Sena.


"Mbak ngomong apa sih? aku nggak denger, Mbak?" aku coba bantu mbak Sena berdiri dan mencoba ngalungin tangannya ke pundakku. Kita akan berpindah sedikit demi sedikit.


"Vaaa, udah, Va aku capek!" kata mbak Sena.


"Jangan nyerah, Mbaaak! kita sama-sama berusaha. Bukannya Mbaak yang minta tolong ke aku? nelponin aku mulu?" kataku yang nyoba mapah mbak Sena dengan kaki yang nahan sakit.


"Nelpon?" mbak Sena malah balik nanya.


"Iya, Mbak..."


Bener kata pak Sarmin, dia bener-bener udah lemah. Mungkin karena terlalu lama di dimensi ini, tapi aku nggak bakal ngebiarin mbak Sena terjebak disini selamanya. Walaupun sampai saat ini aku belum nemuin caranya gimana aku bisa keluar.


Sreeeeetttt!


Sreeeeeeett!


Dengan susah payah aku tahan badan mbak Sena yang beratnya nadzubillah. Keliatannya doang kurus tapi dipapah begini aja aku hampir nggak kuat.


"Hah ... hhh ... hhh Ridhoooo, tolongin aku, Dhooo!" aku menjerit dalam hati.


Andai aku lebih teliti aku nggak mungkin nyasar lagi kesini. Tapi kalau aku nggak nyasar, aku juga nggak bakal ketemu sama mbak Sena. Tapi paling nggak harusnya nyasarnya sama Ridho, biar ada temen yang buat mikir gitu. Kalau kayak gini kan aku jadi bingung harus ngapain, gimana caranya supaya bisa balik lagi.


"Revaaaa..." suara laki-laki itu terdengar lagi.


"Siapa itu?" aku celingukan kali aja aja setan yang menangkap kami berdua, tapi nggak ada.


Aku lanjut memapah mbak Sena, dan sepanjang jalan aku ajak ngobrol terus supaya dia nggak tidur. Ya ampun gimana ini, aku cuma ngikutin insting kemana kakiku harus melangkah.


"Kembali, Reva..." ucap suara itu lagi yang sekarang lebih jelas.


"Aaarghhhh!" aku merasa kepalaku sangat sakit, kayak dipukulin orang sekampung.


"Mbaaak? mbakkk Sena kita kemana ini?"


Mbak Sena cuma gelengin kepala, fix dia udah nggak kuat banget pasti. Aku harus cepet nyari jalan supaya bisa balik lagi ke alam manusia.


Kaki sakit kepala sakit, aku setengah pincang nih jalannya agak sempoyongan juga ditambah harus bawa mbak Sena.


"Aaarghhh, aaarrrghhh! bertahan ya Mbak!" aku mempercepat langkahku, walaupun aku harus menahan sakit yang teramat sangat.


Dan tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang. Seakan akan merobohkan pohon-pohon yang ada di sekitar sini. Aku mendengar seperti orang yang membaca ayat-ayat suci al-qur'an.


Wwwwwuuuuuuzzhhh.


Brrraaaakkk!!!


Pohon yang ada di belakang kami tumbang karena sapuan angin.


"Aaakkkkhhhh!!!" aku segera menghindar.


"Hah ... akkhhhh!" aku memapah mbak Sena setengah berlari karena keadaan malam ini sungguh mencekam.


Braaaaakkk!!!


Satu persatu pohon itu tumbang diiringi pekikan para makhluk yang entah bersembunyi dimana.


Aku berusaha mempercepat labgkah kami, dan hanya mengandalkan penerangan dari senter yang ada di hape.


"Waktumu tidak banyak, Reva! ikuti saja cahaya yang ada di depanmu!" kata suara laki-laki itu.


Tiba-tiba saja ada cahaya kecil mungkin seperti kunang-kunang yang bergerak seperti menuntunku menemukan jalan. Aku nggak ada waktu buat mikir, suara siapa tadi atau apakah cahaya itu benar-benar mrmbawa kami ke tempat yang seharusnya atau bagaimana. Yang jelas, aku mengikutinya karena aku nggak mau wasaalam ketimpa pohon yang segede gaban itu.


Cahaya yang mirip kunang-kunang terbang itu perlahan berpendar menjadi cahaya yang lebih besar dan semakin menyilaukan mata.


"Aaaaaakkkkkhhhh!"


Sampai mataku tak sanggup lagi untuk melihat. Aku hanya bisa memejam sambil tanganku menutupi wajahku sendiri.


"Aaaakhhhh!"


Tubuhku lunglai dan semuanya menjadi gelap.


...----------------...


...----------------...