Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Tinggal Duduk Susah Amat


Aku segera pakai baju yang dikasih pak bos. Daripada minjem bajunya si Karla lagi kan, mending juga pakai baju gratisan dari pak bos, masih baru lagi. Aku segera bergegas keluar menyusul mereka yang udah berdiri di teras depan.


"Lama!" Karla nyeletuk aja. Kalau aja nggak ada emaknya udah aku samber balik tuh perempuan.


"Bu terima kasih sudah membantu saya menemukan Reva. Berkat bantuan ibu dan nenek Darmi, kami semua bisa kembali dengan selamat..." ucap Ridho yang sekarang jadi juru bicara kita semua.


"Hati-hati dengan anak itu, karena kecerobohannya akan sering membuat kesusahan!" kata nenek Darmi sambil menunjuk ke arahku.


Astaga ni nenek, enak banget kalau nunjuk orang. Dia kagak tau aja yang bikin ruwed hubungan aku sama Ridho kan cucunya sendiri.


"Iya, Nek. Maafkan Reva ya, Nek..." kata Ridho.


Lah, Ridho minta maaf emang aing salah apa. Orang aing yang digebukin mulu ama nih nenek, dua kali loh aku kena gebug. Aku dilirik sinis sama nenek Darmi sedangkan aku hanya bisa tersenyum kaku.


"Sudah, Nak Ridho. Yang penting sekarang kalian semua sudah kembali dan tidak kurang satu apapun," kata bu Wati bikin adem, dia tersenyum ke arahku.


"Kalau begitu kami semua pamit, Bu ... Nek..." ucap Ridho sembari menyalami kedua wanita beda generasi itu.


"Terima kasih atas bantuannya," kata pak Karan yang juga mengikuti apa yang dilakukan Ridho.


Dan pas aku mau salaman sama bu Wati, si Karla nyerobot aja.


"Biyung, Karla pamit. Nek ... Karla pamit, jangan lupa jaga kesehatan..." ucap Karla sembari mencium tangan ibu dan neneknya.


"Hati-hati," kata Nek Darmi.


"Kabari biyung kalau kamu sudah sampai di sana," kata bu Wati.


"Pasti..." jawab Karla.


"Bu ... saya pamit, maaf sudah merepotkan..." aku ngomong sama bu Wati sambil menempelkan punggung tangannya di jidat nong-nongku.


"Sama-sama, Nak Reva. Jaga diri kamu baik-baik..."


"Anak sembrono ini mana bisa menjaga diri," celetuk nenek Darmi.


"Astaga, sabar ... sabar..." ucapku dalam hati.


"Saya pamit ya, Nek..." ucapku sambil menyalami tangannya.


"Hem!" nenek Darmi cuma dehem aja.


Dan kami semua jalan menuju mobil pak bos. Kita bertiga kompak diem sebelum disuruh masuk pak bos. Tuh bos galak udah masuk duluan di kursi depan.


"Kalian mau sampai kapan berdiri disitu?" tanya pak bos, jutek.


"I-iya, Pak..." aku pun reflek buka pintu dan duduk di tengah-tengah.


"Geser!" suruh Karla.


"Nggak mau!" aku sebenernya nggak ngerti kenapa nih orang nyuruh aku geser, cuma karena aky nggak suka cara ngomong dia aku jadi nggak mau geser.


"Astaga, kalian berdua bisa tidak jangan ribut?" kata pak bos.


"Tauk nih, duduk tinggal duduk susah amat!" aku nyeletuk, dan Ridho pun ternyata buka pintu sisi sebelah kananku dan langsung duduk. Nah, pas Ridho udah duduk anteng disamping aku, aku baru ngeh kenapa nih karet bungkusan nasi ngotot pengen duduk di tengah itu supaya bisa deket sama Ridho.


"Oh, jadi karena ini..." aku senyum penuh arti.


"Aku mau duduk di tengah, kamu keluar dulu..." kata Karla sambil narik tanganku.


"Ya ampun maksa banget sih," aku tepis tangan Karla.


"Astaga, kalian jalau ribut saya tinggal disini! Karla kamu mau ikut tidak? kalau mau ikut, masuk dan duduk dengan tenang!" pak bos menginterupsi perdebatan aku sama Karla.


"Iya, Pak..." jawab Karla takut-takut.


Dan ya akhirnya si Karla kicep, dia nggak berani ngelawan si bos. Aku juga kalau jadi Karla ya nggak mungkin nekat ngejawab apalagi ngelawan. Aku nengok ke samping kiri dengan senyum penuh kemenangan. Sedangkan Karla udah pasti mukanya asem banget.


"Seneng?" tanya Karla setengah berbisik, dengan raut wajah keselnya.


Pas aku jawab gitu Ridho nyenggol lengan aku, mungkin dia denger dan nggak mau terjadi keributan lagi di dalem mobil, bisa-bisa kita semua dijadiin sate sama si bos.


Si Karla buang muka ke arah jendela, dan aku bisa duduk nyender dengan nyaman. Kalau pak bos, diem-diem bae di depan. Sedangkan Ridho, baru aja buka hape, nggak rau ngechat sama siapa. Jangan bilang kalau dia selingkuh dari aing, oh tidak bisa. Aku itu nominasi tunggal buat jadi istrinya Ridho, dan nggak boleh ada yang menggeser posisi itu. Ngeliat aku yang nengok ke arah dia, Ridho masukin hape ke dalam saku dan nengok balik ke aku.


"Aku udah kabarin Mona, kalau hari ini kita pulang..." ucap Ridho tiba-tiba.


"Ibu kamu udah nungguin di kontrakan..." lanjut Ridho.


"Ibu?" mataku berkaca-kaca.


"Iya, ibu kamu. Ibu kamu sedang menunggu kedatangan anaknya yang sudah hilang sebulan belakangan ini..." lirih Ridho, dia ngehapus air mata yang meluncur ke pipiku.


Nggak cuma itu, Ridho nyenderin kepalaku di bahunya. Aku sih bodo amat sama yang disebelah kiri, lagian kan Ridho yang mempersilahkan diriku buat nyender bukan cuma di bahu tapi sekarang aku udah nyungsruk di dada kangmas.


"Ehem!" suara deheman pak bos bikin aku sadar kalau kita lagi numpang di mobil orang.


Aku pun langsung tegakin badan dan ngusap air mataku yang udah mblewer kemana-mana.


Banyak hal yang bakal aku tanyain sama mama, terutama yang berhubungan dengan papa. Aku natap mata Ridho, dia cuma ngangguk. Aku nggak tau dia bisa baca isi hati aku sekarang atau nggak yang jelas tatapan mata dia nyejukin banget. Dia kasih dukungan dengan terus menggenggam tangan aku.


Dan si Karla tiba-tiba aja gerak, benerin posisi duduk kayaknya dia sengaja geser supaya aku kejepit dan nggak nyaman deh.


"Karla, sempit tau!" aku yang lagi sedih mendadak emosi.


"Sorry, sengaja!" kata Karla dengan suara seraknya.


Aku nggak mau kalah, aku dorong lagi tuh perempuan biar mepet duduk di samping pintu mobil.


"Nggak usah rese, deh!" kataku tanpa ngelepasin genggaman tangan aku sama Ridho dan Karla matanya langsung memicing ke arah situ.


Sementara Ridho kayaknya milih buat pura-pura merem, dia kayaknya udah capek ngeliat aku sama Karla yang nggak ada akur-akurnya.


"Tangan, nggak usah pake pegang-pegang!" ucap Karla sambil bisik-bisik, dengan muka yang udah nggak bisa dikondisikan.


Aku cuma julurin lidah ke arah Karla, dan sekarang aku milih senderan ke Ridho daripada ngedengerin Karla ngoceh mulu.


"Jangan ribut mulu, nggak enak sama pak Karan," lirih Ridho, mata merem tapi ternyata dia nggak tahan buat nggak komen.


"Bukan aku yang ribut, tapi nenek lampir itu!" aku jawab dengan suara yang nggak kalah lirih juga.


Lumayan lama buat kita ngelewatin kawasan hutan dan bisa nemuin jalan raya. Tiba-tiba aja, pak bos minta orang yang nyetirin kita ini buat berenti di depan minimarket.


"Belikan minuman dan beberapa camilan! saya lapar! dan belikan juga untuk mereka yang di belakang," ucap pak bos.


"Baik, Tuan..." ucap si pria tadi. Dia turun dari mobil dan jalan menuju supermarket.


Nggak lama tuh orang bawa kantong belanjaan lumayan banyak. Dia sodorin satu kantong gede ke arah kita.


"Silakan Nona..." ucap si pria yang kini udah duduk di kursi kemudi.


Aku lepasin tangan Ridho dan nyamber kantong keresek tadi, "Emh, makasih..."


Mobil pun jalan lagi, perjalanan masih jauh aku liat pak bos mulai membuka minumannya dan aku denger suara glak glek dari mulutnya. Aku pun jadi ngerasa ikutan haus.


Ridho yang semula senderan ke jendela kini tegakin badannya dan ngelirik ke arah ku yang lagi ngobok-ngobok isi belanjaan.


"Mau minum?" tanya Ridho.


"Hu'um..." aku ngambil satu botol minuman dan pas aku buka ternyata susah. Dan dengan pebgertiannya, Ridho ambil tuh minuman berasa dan ngebukain botolnya.


"Nih..." Ridho nyodorin aku minuman tadi, tapi ternyata ada tangan lain yang lebih cepet nyamber tuh botol.


"Makasih, Dho..." ucap si pemilik tangan tak beradab dengan suara menya-menye.


...----------------...