
"Kita ke kosanku ya, Dho?" aku ngomong sama Ridho, kita lagi di dalam mobil yang Ridho pesan lewat online.
"Kamu aja kali, aku nggak!"
Aku langsung gaplok itu lengan kekar, "Kamu harus ikut, Dho!"
"Iya iya, ih! hih, galaknya pak Karan bisa nular di kamu ya, Va?" Ridho mulai rese.
Aku tarik lengan bajunya membuat jarak kami semakin dekat, "Aku mau ketemu Karla. Dia lagi nungguin di kosan aku, ada hal penting yang mau dia omongin ke aku, tapi aku nggak tau pastinya itu apa,"
"Karla?" Ridho rada lola nih.
Aku lepasin cengkraman tanganku di lengannya, "Tadi yang nelfon aku waktu di rumahnya pak Karan itu Karla. Dia bilang sama aku kalau hal buruk sedang menanti dan aku disuruh supaya cepat datang!"
"Jujur aku takut," aku menatap Ridho, mataku mengembun.
"Paling asal jeplak doang si Karla. Satu-satunya hal yang harus kamu yakini itu tuhan. Selama kamu masih percaya dengan kekuasaan tuhan melindungi umatnya, kamu nggak akan pernah takut dengan apa yang akan terjadi," kan kan tumben si Ridho ngemengnya bener.
"Bahkan aku lupa, Dho. Gimana caranya aku berinteraksi dengan tuhan, aku sudah jauh bahkan sangat jauh..." batinku.
Mobil melaju menuju dimana kosanku berdiri kokoh sekokoh semen titik titik. Ups, hampir aja keceplosan! Oh ya, aku baru inget kalau yang bayarin ini taksi ya si babang Ridho, unch unch baek banget kalau lagi baek. Emang top markotop. Dan sekarang aku dan Ridho turun dari mobil dan jalan ke kosanku.
"Tuh si karet nongol!" aku ngejeplak seenaknya ganti nama orang. Kalau emaknya Karla denger bisa dibejek-bejek aing pakai sambal bajak. Aku melihat Karla duduk di kursi tunggu nggak jauh dari pintu gerbang.
"Karla, Reva. Bukan karet!" Ridho sok sok-an ngebenerin. Padahal dia juga kan suka banget manggil aku oncom! Atau jangan-jangan Ridho ada rasa nih sama Karla? Kita langsung samperin tuh orang.
"Hai, Dho!" Karla nyapa Ridho duluan bukan aku.
"Hai," yang disapa langsung nyaut.
"Ehem, uhuk! kering nih tenggorokan," aku menyentuh leher jenjangku.
"Kebetulan tuh udah mendung paling bentar lagi ujan, kamu tinggal mangap aja tadahin air pakai mulut kamu yang suka ngomel nggak jelas itu," celetuk si kamfret Ridho.
Baru aja aku mau nyap-nyap, eh si karet menginterupsi percekcokan antara aku dan Ridho.
"Ya ampun, Va! hampir setengah abad aku nungguin kamu disini tau, nggak?" Karla ngibasin tangan di mukanya yang merah kayak udang rebus.
"Enggak!" aku jawab santuy.
"Ish, kebiasaan ngejawabnya!" Ridho noyor kepalaku yang benjol.
Aku langsung gaplok tangan tuh orang, "Sakit tau!" mataku ngelirik nggak suka. Nggak suka karena dia main toyor-toyor, ya? Bukan karena yang lain, tolong dicatet!
"Muka kamu?" Karla ingin menyentuh jidatku yang menantang dunia.
"Nggak apa-apa. Oh, ya katanya ada hal penting yang mau kamu omongin?" aku langsung todong Karla dengan pertanyaan.
.
.
Dan disinilah kita, di sebuah kafe yang lumayan sepi di jam siang menjelang sore.
Aku? Aku malu banget kuyang!
Dateng ke kafe dalam keadaan muka kayak gini, sangat-sangat tidak recommended, yes. Muka aku tutup pakai masker, dan kalau mau minum aku selipin sedotan dari bawah masker supaya tuh penghalang wajah bisa tetep stay di sana.
"Buka aja napa sih, Va?" Ridho nyenggol tangan aku.
"Dih apaan, sih?" aku senggol balik.
Karla tarik napas sebelum dia mulai ngomong, "Jadi waktu kita video call, Biyung sempet lihat muka kamu..."
"Biyung? maksud kamu ibu kamu?"
"Iya, Va. Biyung aku bilang, katanya sekilas dia melihat wajahmu berubah jadi hitam kemerahan..."
"Iya kan aku emang lagi pada kayak gini mukanya. Emang aku semengerikan itu? kaca mana kaca!" aku nadahin tangan minta kaca sama Karla, malah ditepok sama Ridho yang duduk disampingku. Aku cuma ngelirik dan menyembunyikan tanganku di bawah meja.
"Bukan, maksudku bukan karena muka lebam kamu, Va. Tapi gimana sih ya jelasinnya..."
"Mungkin Biyungnya Karla melihat kamu dengan mata batinnya. Dan yang dia lihat itu apa? hanya Biyungnya Karla dan tuhan yang tau!" ucap Ridho.
"Emang bisa gitu?" aku tanya sama Karla.
"Aku cuma dapat pesan dari Biyung, kalau kamu harus berhati-hati. Apalagi, nggak ada tameng apapun yang ada di dalam diri kamu, itu yang membuat mereka semakin senang mengejar kamu, Reva..."
"Tameng apaan? coba anterin aku belinya dimana,"
Ridho berdecak, "Astaga, bukan tameng itu! kamu pikir tameng yang dimaksud Karla tameng yang dipake prajurit perang di jaman kerajaan? maksudnya Karla tuh bukan tameng itu, Oncom!"
"Deuhh! kayaknya kamu tau banget sih apa yang Karla mau omongin? dari tadi tuh mulut nyerobot bae!" aku emosi gaes.
"Maaf ya, La. Dia suka kumat-kumatan, maklum aja itu kepala abis kebentur, jadi rada soak dikit..." Ridho nangkep tangan aku yang mau ngegaplok dia, dia umpetin di bawah meja. Dan secara sadar atau nggak sadar jarinya mengisi sela-sela jari milikku.
"Tapi kamu tau kan apa yang aku maksud, Dho?" giliran Karla nanya sama Ridho.
Ridho ngangguk, ngaduk minumannya dengan satu tangannya yang lain, "Iya aku ngerti kok, La. Oh, ya? aku bisa ketemu sama Biyung kamu? maksudku aku sama demit ini," kata Ridho yang udah nambahin satu panggilan aneh buat aku.
"Bisa tapi aku kan..." ucapan Karla menggantung, dia ketuk-ketukin kukunya di meja. Kebiasaan jelek si Karla ya begitu kalau lagi mikir tuh jarinya nggak mau diem atau anteng dan kalem seperti aku.
"Udah, gampang diatur itu mah! yang penting aku bisa ketemu sama Biyung kamu," ucap Ridho meyakinkan si karet.
"Sok iye banget dia mau ketemu Biyungnya si karet! Jangan-jangan dia mau ngelamar? ck! bisa-bisanya dia pedekate disaat temen lagi kesusahan, nggak ada akhlak emang ini si kamfret!" aku ngomong dalam hati sambil melirik Karla dan Ridho bergantian.
"Pokoknya kamu hati-hati," ucap Karla.
"Aku pulang, ya? Oh ya, ini titipan dari Biyung buat kamu..." Karla mengeluarkan satu botol kecil yang berisi minyak.
"Buat apaan ini?"
"Katanya oles aja di kulit kamu yang luka, biar nanti cepet kering dan nggak membekas," Karla menjelaskan manfaat dari minyak di botol bening yang kini berada di tanganku.
"Makasih ya, La..."
"Ya udah, balik duluan ya. Kalian yang akur, bye!" ucap Karla yang kemudian disusul tawa kecilnya.
"Nggak mau dianter, La?" seru Ridho saat Karla mau pergi.
Karla berbalik dan menggeleng, "Nggak usah, makasih...!"
Karla pun berjalan pergi meninggalkan kami berdua yang masih menikmati choco frappe. Melihat Ridho yang lengah, aku segera melepaskan tautan tangan kami.
"Modusin cewek nggak tau sikon banget, sih!" ucapku sambil mengaduk minuman yang masih dingin, tapi nggak cukup mendinginkan kepalaku yang pusing karena menangkap banyak informasi dalam satu waktu.
"Ciyeeee, ngambek!" Ridho ngledekin.
...----------------...