Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Dedek Uyul


Malam itu Ridho beneran udah pindah ke kosan yang cuma berjarak dua rumah dari kontrakan yang ditempati aku dan Mona.


Pagi ini hari yang cerah tanpa hambatan, memar di wajah pun mulai pudar. Tapi masih ada bekas-bekasnya memang.


Aku melihat minyak oles dari Karla.


"Ini beneran minyak buat nyembuhin luka atau buat goreng ikan, woy?" aku ngoceh sendiri.


Lalu sedetik kemudian aku ketawa, "Hahahaha, ada-ada aja otak kamu Reva! kalau iya emaknya Karla ngasih minyak goreng, itu namanya nge prank!"


Aku melihat wajahku di cermin sambil sesekali memencet bagian yang memar, "Awh! kalau dipencet masih atitt ternyata. Ya udahlah, cobain aja dulu kali, ya? siapa tau jadi cucok!" dan aku mulai membuka botol kaca bening itu.


Ini udah jam 9 pagi, Mona uda pergi ke kampus. Dia nyumpel mulutnya pakai roti oles. Maklum aja, ini yang tinggal di kontrakan dia nggak bisa meracik makanan. Daripada di kampus dia diare kan mending makan makanan yang emang udah jelas rasa dan kualitasnya.


Aku baru aja mandi, dan sekarang aku lagi ngolesin muka pakai minyak dari biyungnya si karet nasi.


"Kok rasanya adem, ya? ini minyak apaan, si? kok rasanya enak banget di kulit..." aku mengernyit melihat sisa cairan yang ada di jari telunjukku yang tadi aku pakai buat ngoles.


Tapi sejurus kemudian, mendadak aku jadi ketar-ketir. "Eh, ini nggak bikin kulitku yang sehalus kulit bayi ini jadi merah kaya si Karla kan, ya?"


"Ah, coba aja dulu. Kalau nggak dicoba kan mana tau hasilnya..." aku udah kayak orang sutres, nanya sendiri jawab sendiri.


Aku melepas handuk yang melililit di kepalaku yang benjolnya udah lumayan kempes. Pak Karan sebenarnya udah mekso supaya aku mbalek meneh ke rumah sakit. Tapi aku nggak mau, atut!


Aku colokin hair dryer buat ngeringin rambut yang basah karena habis keramas. Perlahan rambutku menjadi kering kena hawa panas dari alat tadi. Setelah itu aku menyisir rambut panjangku.


Daripada di rumah mulu mending aku ke minimarket di ujung jalan sana. Pengen beli sosis yang bisa langsung dimakan. Rasa hot lava jadi favoritku.


Aku yang udah cucok meong pun ambil dompet dan cuss jalan ke mini market. Dengan celana 3/4 dan kaos yang agak kegedean, aku berjalan keluar dari kontrakan. Dan masker disposible pun tak ketinggalan menutup sebagian wajahku.


Nah, waktu aku lagi jalan. Aku melihat pria paruh baya menarik tangannya ke belakang. Ternyata dia sedang menggendong anak kecil tanpa baju dan hanya memakai celana putih diatas paha. Sudah tau lah ya jawabannya?


Si Bapak itu kayak lagi muter aja nggak jelas. Kayak ngabsenin satu persatu rumah yang dilewatinya.


Aku mempercepat langkahku dan memegang dompet posesif, aku ingin segera melewati orang itu. Dan aku pura-pura aja nggak liat itu penampakan.


Tapi sialny itu si bocah gundul sempet nengok ke aku dan tersenyum penuh arti. Wah, aku makin cepet jalannya, sampai aku nabrak orang yang baru keluar dari mini market.


"Awwww! kalau jalan yang bener dong, Mbak!" kata perempuan yang nggak sengaja aku tabrak.


"I-iya, Mbak. Maaf!" aku langsung ngibrit masuk ke dalam mini market.


Akhirnya aku bisa bernafas lega, "Huuufh, sumpeh lucu nggak serem iya," aku ngomentarin dedek uyul yang nggak sengaja lagi patroli nyari sasaran target di jalan.


Aku langsung ambil keranjang dan milih camilan apa aja yang pengen aku beli.


"Wih, ada makaroni level 15, bisa bikin bonjrot nggak nih?" aku melihat satu bungkus makaroni pedas yang kayaknya enak banget kalau dicemil sambil nonton tivi. Aku masukin 3 bungkus makaroni itu. Lalu mengambil beberapa bungkus keripik kentang, roti tawar dan beberapa biskuit.


Aku dan Mona kan suka ngemil, jadi harus ada persediaan jajanan di rumah.


Aku pindah ke lemari pendingin yang berisi berbagai minuman, "Yogurt yogurt yogurt..." mataku mencari minuman favoritku.


Tanganku dengan lincahnya mengambil beberapa botol minuman dengan rasa asam itu. Aku juga beli susu UHT buat si Mona, biar cepet gede.


Sewaktu aku lagi milih minuman yang lain, aku lihat bapak yang gendong dedek uyul tadi masuk ke dalam minimarket yang sama dengan aku.


"Anjiir, kenapa masuk ke sini, sih! mending aku langsung bayar ke kasir," aku langsung nyerahin belanjaanku ke kasir. Bapak tadi lagi keliling di rak-rak makanan ringan.


"Ini juga udah cepet, Mbak!" kata si masnya yang terus men-scan barang-barang yang aku beli.


"Pokoknya kalau itu dedek nyeremin bikin duitku ilang si masnya harus tanggung jawab!" aku ngomel dalam hati.


"Cepetan dong, Mas!" aku terus ngomong sambil sesekali melihat pergerakan si bapak tadi.


"Iya Mbak. Sabar, Mbak..." kata si masnya.


"Jadi totalnya..." belum selesai mas itu ngomong, aku langsung nyerobot omongan si mas kasir.


"Kembaliannya ambil aja!" aku sodorin uang sambil mata liat kemana-mana, ngawasin si bapak tadi.


"Yeuh si Mbak! ambil kembalian dari hongkong? ini Mbak nya malah kurang ngasih duitnya," kata si Mas tadi sewot.


"Emang aku ngasihnya berapa tadi?" aku mulai tambah panik.


"Mbak ngasihnya 100 ribu, sedangkan belanjaan ini harganya 156 ribu,"


"Ngemeng dong, Mas!" aku malah nyalahin si Mas nya yang kini ngelus dadanya, mungkin lagi baca ayat kursi.


Aku buka dompet dan ngeluarin uang lima puluhan dan sepuluh ribuan masing-masing satu lembar. Aku langsung kasih tuh duit sama mas kasir.


Dan jrengggg jeng jeng jeng!


Dedek nyeremin tadi tau-tau berdiri di sampingku, aku langsung ngejerit, "Aaaaaaa...!"


Aku main kabur dan keluar dari minimarket. Dan si Masnya pun teriak nggak kalah kencengnya, "Mbaaaaak, belanjaannyaaa!"


Aku yang udah lari terpaksa balik lagi, "Hhhh ... hh ... m-makasih, Mas!" aku ambil dua keresek putih yang ada di tangan mas kasir.


"Mbaaaak, kembaliannyaaaaa!" dia teriak lagi saat melihat aku berlari tunggang langgang.


"Ambil ajaaaaaa!"


"Mas, hati-hati duitnyaaaaaa! ada uyuuuuul!" aku teriak ngingetin mas nya yang tadi.


Kalau uangnya ilang bukan salah aku, ya! Aku udah ngingetin loh, tadi! Bodo amat dengan duit mas Kasir yang penting aku sekarang harus cepet sampai di kontrakan.


Aku buka dan langsung ngunci pintu. Aku lepas masker sambil nyender di pintu. Sedangkan belanjaan aku geletakin gitu aja di lantai.


Aku masih ngos-ngosan, "Edun! hahhh ... hhh ... nyeremin, cuy! m-masihhh pagih kenapah makhlukhh kayak gituh udah muncul? astagaaaa..."


Aku yang masih lemas pun membawa belanjaan tadi ke dapur. Aku ambil gelas dan mengisinya dengan air putih dingin yang aku keluarin dari kulkas.


Glek


Glek


Glek


Sejuknya air langsung meluncur mendinginkan tubuh ini. Aku tarik kursi lalu duduk sambil ngeluarin belanjaan. Aku masukin yogurt, susu dan sosis ke dalam kulkas, sedangkan yang lain aku biarin aja ngegeletak di meja.


Aku yang mau masuk ke dalam kamar nggak jadi setelah mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.


"Siapa yang dateng pagi-pagi?" aku mengernyit heran.