Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Misuh-Misuh


"Aku Ridho beneran! nih, napak nih kaki!" kata Ridho yang nyadar kalau aku daritadi ngeliatin dia.


Lagian aneh, banget ucluk-ucluk dia kesini sambil bawa air. Mau apa coba. Situ mbah dukun? Heran.


"Ih, nggak mau! jangan maksa deh!" aku nolak botol air yang udah mau nempel ke bibirku.


Ridho naruh apa yang dia mau minumin ke aku, "Gini deh. Aku jelasin dulu, biar kamu pikirannya terbuka lebar,"


"Aku bisa kesini karena aku ke kantor kamu, dan kata Arlin kamu pulang cepet. Tapi dicari di apartemen juga nggak ada. Besoknya aku datengin lagi kantor kamu, kata Arlin kamu nggak masuk. Ya udah aku ubek-ubek tuh bandara, kali aja kamu kabur ke luar negeri..."


"Aku bayar orang buat nyari keberadaan kamu. Dan pas aku baru sampai di hotel, kamunya malah check out, dan aku liat ada yang ngikutin kamu dari dalam hotel itu sampai ke dalam taksi, makanya aku kejar kamu sampai kesini," kata Ridho.


"Peduli apa?" aku nyeletuk.


"Ya aku peduli, Va. Kalau nggak peduli, ngapain juga aku jauh-jauh minta air yang udah di kasih doa ini buat kamu. Dan ngejar kamu sampai kesini. Karena asal kamu tau aja, terakhir kita ketemu di kantor, aku liat ada satu sosok yang selalu nemplok di punggung kamu. Aku nggak tau kamu dari mana dan kenapa itu sosok bisa ngegendol sama kamu yang jelas setelah meeting aku langsung pergi ke kenalanku yang bisa ngusir makhluk begituan. Karena nggak mungkin aku ke rumah pak Sarmin, terlalu jauh..." jelas Ridho panjang lebar.


Jadi, yang bikin aku meriyang itu karena ada yang gemblok, pantesan kayaknya badan nggak karuan.


"Sekarang percaya?"


Aku otomatis nengok kali aja tuh etan masih ada di pundakku, dikira aku ojek gendong dia main nemplok seenaknya.


"Nggak ada, kayaknya dia nggak bisa nyebrang lautan. Jadi dia udah nggak ngikutin kamu,"


"Minum deh, nanti badan kamu lebih enakan..." Ridho keukeuh nyekokin aku pakai air putih yang katanya udah dibacain doa.


Glek!


Glek!


"Habisin," kata Ridho.


Aku habisin air yang ada di botol supaya bisa cepetan ngusir nih makhluk yang bikin hatiku senat-senit.


"Udah, kan?" aku mau berdiri.


Tapi pinggangku ditarik Ridho dan berakhir duduk di pangkuannya.


"Kamu kenapa sih?" dia naruh kepalanya di perpotongan leherku.


Aku mau lepasin, tapi pelukannya kenceng banget.


"Jawab aku, Va..."


"Buat apa dijawab?"


"Ya biar aku tau, Va. Salahku itu apa, kalau kamu cuma misuh-misuh, terus ujungnya kabur-kaburan kayak gini sampai kapan pun aku juga nggak ngerti yang bikin kamu kesel itu apa," ucap Ridho.


Hembusan nafasnya bikin aku merinding, geli.


"Salah aku apa? hemm? sampai kaburnya jauh banget nyebrang pulau segala," suara Ridho makin berat.


Aku cuma diem, ngeliatin tangan nih orang yang ngelingker di perutku.


"Ya, kamu sibuk banget. Aku dicuekin dan ... bayangan kamu kerja sama Rimar yang suaranya serak-serak becek itu bikin aku gedeg aja. Kalian bisa aja cinlok kan? apalagi sikap kamu kayaknya manis banget sama Rimar. Aku tuh kayak dimainin tau nggak sama kamu, Dhooooooo!"


Dan pas aku nengok ke belakang ternyata Ridho malah udah molor, "Aih, percuma juga dijelasin!" aku bangun dari pahanya Ridho dan pindah tempat.


Aku biarin aja, Ridho tidur dengan posisi duduk kayak gitu. Tengkleng nggak tuh kepala, bodo amat. Tapi lama kelamaan kasian juga. Emang aku tuh orangnya berhati lembut, jadi nggak tegaan. Walaupun dalam hati aku masih dongkol banget ama kelakuan nih orang.


Dan nggak tau kenapa aku juga jadi ngantuk, aku yang tadinya mual, pusing sekarang udah mendingan. Aku niatnya cuma meremin mata bentar, tapi kebiasaan malah kebablasan.


Mungkin karena badan udah enakan, tidurku jadi berkualitas. Tapi kok aku sekarang kayak di sebuah tempat yang banyak asepnya.


"Eh, kok banyak asep-asep kayak gini, siapa woy yang lagi bakaran sampah..?!! uhuuukk," aku mulai terbatuk.


Tapi acara ngedumel ini terhenti saat aku melihat satu sosok laki-laki yang sangat sangat familiar.


"Ridhooo?" aku melihat sosok tegap itu berdiri agak jauh dariku. Dengan ditemani asep-asep yang nggak tau darimana datangnya.


Aku mencoba mendekat, tapi langkahku terhenti saat aku tau ternyata ada perempuan lain yang perawakannya aku paham banget, "Rimar?" gumamku.


Dia berjalan mendekati Ridho, dengan gaya kemayunya dan lenggak-lenggok pengen ngalahin aku jadi super model madul masa kini. Hatiku terbakar, ngeliat tangan Rimar disambut sama Ridho, bukan tangannya aja. Tapi pinggangnya juga. Rimar nengok ke belakang dengan senyum misteriusnya. Dia memeluk Ridho dan mencoba mendekatkan wajahnya, "Stooooopppp?!!! apa-apaan kamu, haaaaahhhh...?!!" teriakku.


Aku jambak tuh perempuan, "Gatel banget sih jadi cewekkkk...?! rasain nih, rasain! kapok nggak....? hah?" aku jambakin rambutnya tampa ampun.


"Vaaaa, banguuuun, Vaaaaaaa!" ucap aeseorang yang suaranya nggak tau darimana seiring dengan tepokan di pipi yang kerasa panas dikit.


"Ehmmmm," aku nyoba buat buka mata. Dan yang aku liat di depan ya mukanya si Ridho.


"Ampun, jam segini ngelindur aja kamu, Vaa..." ucapnya. Sedangkan aku masih diantara dua dunia.


"Emmmh," aku nyoba bangun dan celingukan dengan mata yang masih kiyip-kiyip.


"Mana tuh cewek?" tanyaku dengan suara serak.


"Cewek? cewek siapa? astagaaa, masih ngelindur kamu, Vaa?" Ridho geleng-geleng kepala.


"Ngelindur?"


"Kamu pesen makanan, ya? tuh sampe dingin nasi gorengnya," ucap Ridho nunjukin nampan yang berisi minuman dan makanan.


"Jadi acara jambak-jambakan tadi cuma dalam mimpi?" ucapku dalam hati


"Vaaaa, hey. Jangan ngelamuuun!" Ridho dadah-dadah di depan mukaku.


Aku pun bangkit dari tempat tidur mengabaikan makhluk yang satu itu yangasih duduk di tepi ranjangku.


"Mau kemana?" tanya Ridho.


"Toileeet!" ucapku tanpa menengok.


Sampai didalem, aku basuh muka.


"Ya ampuuun, bisa-bisa siang aku ketiduran sampai ngelindur segala? perasaan dulu nggak pernah ngelindur, deh!" akubtepokin pipi dengan tangan yang dibasahi air.


Udah cukup seger, aku keluar lagi.


"Kenapa masih disini?" tanyaku ketus.


"Gimana badannya udah enakan? kamu tidur lama banget tau, Va..." Ridho nggak jawab pertanyaanku malah dia balik nanya.


Aku duduk di sofa sambil ngecek makanan yang ada di nampan.


"Ini udah dingin, aku udah pesenin lagi makanan buat kamu. Bentar lagi paling dateng..." kata Ridho sok perhatian.