Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Satu Jagung Berdua


Ridho bawain jagung bakarnya ke dalam mobil. Percaya deh, demi apa juga kalau lagi laper, rasanya semua makanan yang ada di depan mata rasanya enak semua.


"Hati-hati, panas..." kata Ridho ngasih satu jagung buat aku. Dia juga bawa wedang jahe yang baunya wangi banget.


"Makasih, tapi aku nggak---" ucapku tapi Ridho langsung nyerobot aja.


"Kamu udah kurus, makan satu jagung begini nggak bakal bikin berat badan kamu langsung melonjak sampai 5 kilo," Ridho deketin tuh jagung ke mulutku. Aku denger dia nyerocos begitu, fokusku malah sama bibirnya yang merah.


"Astaga, aku mikirnya apaan, siiih!" aku menggeleng mengumpat dalam hati.


Dan Ridho kayaknya salah sangka, dia ngiranya aku tetep nggak mau makan tuh jagung, "Makan dikit juga nggak apa-apa. Yang penting perut kamu ada isinya, nanti kamu sakit, Va..."


"Kalau kamu risih makan ini karena ada aku, aku bisa tunggu di luar dan kamu bisa makan dengan tenang..." lanjutnya.


"Nggak, nggak gitu! ya udah sini, aku makan..." aku mengambil jagung bakar itu, dan mulai menggigitnya.


Ridho beli cuma satu, mungkin repot bawanya juga. Dia taruh wedang jahenya di dashboard.


"Kamu nggak makan?" aku nyoba nanyain si Ridho yang duduk anteng sambil mainin jarinya di stir mobil.


"Kalau ditawarin jagung yang lagi kamu makan sih aku mau, Va..." ucapnya, aku naikin satu alis.


"Canda, Va. Kamu tuh sekarang seriusan banget sih?" lanjutnya.


Aku melanjutkan memakan jagung bakar yang lagi fanas tapi enyoy banget. Ngeliat Ridho yang ngelamun ngeliat jalanan kasian juga. Apalagi waktu di cottage, dia makan nggak seberapa. Untuk ukuran perutnya yang kotak-kotak dan keras kayak papan penggilesan, makan segitu nggak mungkin bikin kenyang juga kan.


Eh, kok aku malah mikirnya bentuk perutnya Ridho sih? nggak jelas banget. Kali aja bentuknya udah berubah, nggak kotak lagi. Elaaahhh, Revaaaa masih aja dibahas. Aku noyor kepalaku sendiri, pelan.


Akhirnya aku sodorin tuh jagung ke Ridho, "Mau, nggak?"


Ridho nengok, dia agak terkejut tapi jelas matanya berbinar bahagia, "Nanti kamu nggak kenyang...?"


"Barangkali ada apa-apanya kan aku nggak metong sendirian!" ucapku ngasal.


"Astaga, Reva. Kamu nuduh aku kasih apa-apa ke jagung kamu ini?"


"Ya nggak, udah makan aja!" aku jejelin tuh jagung ke mulutnya Ridho supaya dia nggak banyak omong.


Dan ketika jagung lagi digigitin sama Ridho, dia dorong kepalaku mendekat, dia tempelin mulutku di sisi jagung satunya. Jadi ... jadi jarak congor kita cuma dibatesin jagung ini.


Mataku bertabrakan dengan matanya yang udah lama aku kangenin, tapi aku segera melepas gigitanku pada jagung.


"Kamu duluan aja yang makan," ucapku yang menjauh dan duduk di kursi sebagaimana mestinya.


Ridho senyam-senyum nggak jelas. Dia tampak menggigit jagung itu dan mengunyahnya tanpa bisa ngelepas senyum menawannya. Aiih, aku bisa edun kalau kayak gini.


Ridho ngoperin jagung yang tadi udah dimakannya ke aku. Jadilah satu lonjor jagung bakar itu kita nikmati berdua. Dan pas minum wedang jahenya, perut rasanya anget banget.


"Kamu udah kenyang atau masih mau lagi?" tanya Ridho.


"Udah, kita jalan aja. Udah malem juga..." kataku.


"Oke deh, siap laksanakan bu Bos!" ucap Ridho lalu keluar membuang sampah lebih dulu.


Nggak lama dia kembali dan duduk di kursi kemudi. Mobil ini perlahan bergerak, menyusuri malam.


Selama di perjalanan, kita sibuk dengan apa yang ada di pikiran masing-masing. Aku seneng akhirnya aku bisa ngerasain kayak gini lagi, jalan berdua sama orang yang aku kangenin selama dua tahun belakangan ini. Tapi aku juga takut, kalau aku pupuk lagi perasaanku buat Ridho, aku bakal ngerasain kecewa buat sekian kalinya. Aku takut ditinggalin lagi kayak dulu.


Dia mengusap pipiku, "Udah nyampe, kamu susah banget dibanguninnya..." ucapnya.


Aku sontak melihat keadaan sekitar, walaupun aku nggak begitu yakin karena aku juga baru ngumpulin nyawa, aku pun berusaha memperbaiki posisi duduk.


Ridho menjauh, memberi aku ruang buat gerak.


"Makasih," ucapku singkat yang membuka jas Ridho dan keluar dari mobil. Aku berjalan menuju lift yang ada di basement.


Setelah mengunci mobilnya, ternyata Ridho ngejar aku. Dia ikut masuk ke dalam lift yang nyaris tertutup tadi.


"Tas kamu ketinggalan lagi," ucapnya sambil nunjukin benda yang dia pegang.


"Astaga, bisa-bisanya nggak kebawa!" ucapku.


Ridho juga ngasih satu papper bag yang isinya bajuku.


Setelah sampai di lantai tujuan, kita berdua keluar dari lift. Aku kira Ridho bakal langsung turun lagi, tapi nggak gaes. Dia sekarang ngekorin aku sampai di depan unit, bahkan ketika aku udah buka kode akses pintu.


"Baiklah, selamat malam..." ucap Ridho tersenyum, dia memutar badannya.


"Sudah larut malam, pasti capek nyetir jarak jauh kayak tadi. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur disini malam ini," ucapku. Ridho berbalik.


Aku masuk ke dalam, dan diikuti Ridho yang kemudian menutup pintu unitku.


"Jangan salah sangka, aku hanya sedikit berbaik hati!" ucapku yang ngajak Ridho duduk di ruang tamu.


Aku emang nggak tega, ini udah hampir jam 3 pagi, dan dia harus nyetir lagi ke rumahnya yang aku nggak tau ada dimana.


"Ada kamar kosong disana, kamu bisa pakai..." ucapku menunjuk sebuah kamar.


"Oke, makasih..." ucap Ridho.


Menghindari kontak fisik yang mungkin terjadi, aku milih buat masuk ke kamar.


"Huuuuffhhh, akhirmya..." aku bernafas lega.


Aku taruh tas di meja rias, dan bergerak ke kamar mandi. Setelah ganti baju, aku keluar buat ngambil air.


Tapi pas ngeliat ke ruang tamu, ternyata Ridho tidur dengan posisi duduk.


"Kecapean banget kayaknya tuh orang!" aku bergumam.


Aku balik ke kamar buat ambil bantal dan selimut. Lalu, aku jalan ke ruang tamu dimana si Ridho lagi molor.


"Kepala bisa bantalen kalau posisi tidurnya keayak gini," lirihku sambil naruh kepala Ridho ke atas bantal di ujung sofa.


"Gila berat banget nih manusiaaaaa! huuuufhhh..."


Akhirnya aku berhasil bikin dia rebahan, aku selimutin biar nggak dingin. Dan aku pun berbalik, tapi tanganku ditangkapnya.


Ternyata si kupret buka matanya, aku yang ketauan nyelimutin dia pun cuma bisa ngalihin pandangan.


"Udah malem, aku mau tidur..." ucapku sambil lepasin tanganku dari Ridho dan ngibrit ke kamar sendiri.