Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kruwes Lagi


Nggak usah nunggu satu malam lagi, aku minta sekarang aja udah cuss ke kampung halamannya Ridho. Percuma soalnya, remek-remek juga badan aing, kata istirahat cuma pemanis doang. .


Sebelum out, kita pamitan dulu sama mama. Takutnya dicariin gitu. Kalau Ravel mah nggak aku yakin bakal nyariin karena dia lagi fokeus sama Dilan.


Aku bawa baju seadanya aja, karena males juga bongkar-bongkar muatan juga.


"Kira-kira ibu kamu suka nggak ya sama aku?" aku mulai khawatir.


"Nggak tau juga, Va. Suka atau nggak kan relatif, tapi ibuku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan anaknya. Jadi kamu tenang aja..." kata Ridho.


"Kamu dateng ucluk-ucluk bawa istri apa nggak melayang tuh panci-panci di rumah?"


"Nggak, Sayaaaang. Cicilan panci belum lunas, ibuku nggak bakal ngebanting-banting..." seloroh Ridho.


Ya ampun, semakin ngomong sama Ridho semakin sutres yang ada akunya. Untuk mengatasi kegugupan ini, nggak sadar aku minum terus darutadi. Sampai rasanya perutku jadi kembung.


"Masih jauh, tidur aja..." kata Ridho, dia ngelus ubun-ubunku sekilas.


"Kalau aku tidur, yang ada mukaku bengep..."


Kita sempet berehenti sebentar di rest area. Biar kakinya Ridho nggak kram juga nginjek gas mulu. Kita sempet nyari makan juga karena kebetulan pada minta jatah nih cacing-cacing dalam perut.


Perut kenyang kita lanjut perjalanan. Makin deket, makin deg-degan. Takut nggak diakui sebagai mantu.


"Udah sampai, yuk turun..." ucap Ridho saat mobil kita udah sampai di sebuah bangunan lantai satu tapi lumayan luas. Dari luar, ini kayak bangunan baru gitu. Mungkin habis direnovasi.


"Ini rumah kamu?" tanyaku bego.


"Bukan. Ini rumah ibuku. Rumah aku kan nanti sama kamu," kata Ridho yang sontak bikin pipiku fanash sodara-sodara.


"Turun, yuk?" ajak Ridho, tapi aku masih lengket aja sama jok mobil.


"Gimana kalau---"


"Nggak bakalan. Udah deh, ibuku bukan kayak ibu-ibu di sinetron, kamu jangan overthingking gitu," serobot Ridho. Dia keluar dari mobil dan ngebuka pintu biar aku ikutan keluar.


"Ayok," ajak Ridho yang udah ngulurin tangannya.


Aku cuma takut ibunya Ridho shock dapet mantu kayak aing yang cantiknya paripurna. Rasanya tuh jedar-jeder nggak karuan, beneran.


Ridho ngetok pintu dan mencetin bel. Dan seseorang muncul dibalik pintu, "Ridhooo?" ucap wanita itu.


"Assalamualaikum, Bu..." Ridho ngucapin salam.


"Waalaikumsalam,"


Wanita itu lalu memandang ke arahku lalu memandang Ridho kembali, "Ayo, masuk..."


Kita berdua masuk ke dalam. Beuuh jangan di tanya. Nih kaki rasanya gemeter, bisa nggak nih acara beginian dipending sampai aing siap mental gitu.


Dan sekarang kita ada di ruang tamu, belum duduk masih berdiri.


"Bu, kenalin ini Reva. Istri Ridho..." ucap Ridho. Aku tersenyum sambil meraih tangan wanita yang Ridho panggil ibu.


Ibunya Ridho mengusap kepalaku, "Akhirnya Ridho bawa kamu juga ke rumah ini," jata ibunya Ridho.


Aku mendongak, mastiin ini beneran ibunya Ridho nggak marah.


Baru juga ngomong gitu, tangan ibunya Ridho yang habis ngelus kepalaku pindah ke kuping anaknya, "Dasar bocah nakal! kenapa nikahnya mendadak begitu?!! ibu kan jadi nggak bisa liat kamu ijab qobul!!"


"Aaaawwwkhhh, bu sakit buuuu?!!"


Aku yang liat kuping Ridho dikruwes sama emaknya ikutan ngilu.


"Kan Ridhoo udah telpon, Bu buat minta restu..." ucap Ridho yang badannya doyong ke kanan.


"Kruwes aja bu, sampe dower tuh kuping?!!" ucapku dalam hati.


Dan akhirnya tuh kuping lepas juga dari cengkraman ibunya Ridho, "Kamu tiba-tiba nikah, bukan karena kamu udah---" ibunya Ridho ngeliat aku, lebih tepatnya ke perut.


"Ya sudah, kalau gitu. Kalian duduk dulu. Ibu buatkan minum..." ucap ibu mertua.


Aku cuma bisa senyum-senyum kikuk. Kuping Ridho merah banget.


"Sakit?" aku nanya ke suami.


"Banget!" ucap Ridho.


"Nggak sebanding sama badanku yang remek?!" kataku.


"Tapi itu kan demi masa depan kita, Sayang..." ucap Ridho tersenyum penuh arti.


Betewe, aku belum tau nih nama emaknya Ridho. Astaga, emang mantu durhakim aing ya.


"Dho, eh ... Mas ... nama ibu kamu siapa ya?" pertanyaan bego meluncur dari bibirku yang seksoy dan menawan ini.


"Astaga, nama ibu mertua sendiri kamu nggak taaauuu?!!" ucap Ridho ngalahon suara toa. Aku langsung bekep.


"Bisa nggak sih ngomongnya nggak usah kenceng-kenceng?!!!"


"Emmphh, emmph," Ridho ngangguk gelagepan. Soalnya bukan cuma congornya yang aku bekep tapi hidung mancungnya juga aku pencet.


Aku lepasin seketika, takut dia kehabisan napas.


"Hhh ... hhhh ... astaga, kalauh akuuh mammpushh gimanaaah?" Ridho ngos-ngosan.


"Nggak usah lebay. Jadi nama ibu kamu siapa, Dho. Kan kamu nggam pernah cerita juga, jadi gimana aku bisa tau," kataku kesel sama kangmas.


"Rumi Hapsari," ucap Ridho.


"Kalau Bapak kamu?"


"Udah almarhum," ucap Ridho.


"Iya tapi namanya siapa,"


"Bejo Baskoro," jawab Ridho, sambil dagunya nunjukin ke arah sebuah lukisan yang terpasang di ruang tamu. Ada ibu, Bapak, Mona kecil dan Ridho yang juga masih unyu-unyu. Lukisan itu kayaknya dibuat dengan melihat sebuah foto.


Soalnya, katanya kan bapaknya Ridho meninggal waktu Ridho juga masih kecil. Makanya dia jadi tulang punggung keluarga. Dan dilihat dari rumah ini, Ridho udah sangat bertanggung jawab dengan keberlangsungan hidup ibunya.


"Disini, nggak ada pembantu?" tanyaku. Soalnya tadi yang buka pintu kan ibunya Ridho langsung, dan kayaknya nggak ada suara-suara orang lain selain ibunya Ridho gitu.


"Harusnya ada, tapi mungkin lagi kemana gitu..." kata Ridho.


"Soalnya kan Mona nggak tinggal disini, jadi ada satu orang yang nemenin ibu. Biar ibu nggak kesepian..." lanjutnya.


Dari arah dalam, ibu mertua ngebawa nampan yang berisi minuman dan juga camilan.


"Biar saya saja, Bu..." ucapku yang mengambil nampan dari tangan ibu Rumi.


"Nggak apa-apa, kamu duduk saja..." ucap ibu mertua.


Beneran grogi banget dah ngadepin sikon beginian.


"Jadi, dulu kalian kenal dimana? soalnya Ridho kalau ditanya kapan nikah pasti selalu menghindar. Jadi kemarin waktu Ridho minta ijin buat nikah, ibu kira itu candaan aja..." ibu mertua natap fokus ke aku.


"Dulu kita pernah satu kantor, Bu..." ucapku sopan.


"Kalau diceritain panjang, Bu. Ibu nggak akan sanggup dengerinnya, soalnya berjilid-jilid," sambung Ridho.


"Kamu ini, untung ibu nggak punya sakit jantung. Tiba-tiba aja minta ijin buat nikah, dan sekarang bawa istri ke sini juga nggak bilang-bilang sebelumnya. Kalau tau kalian mau kesini kan ibu bisa masak makanan kesukaan kamu, Ridho..." ucap ibu.


"Malam ini kalian nginep disini, kan?" tanya ibu.


"Iya, bu. Nggak mungkin juga kita langsung balik," kata Ridho.


"Ya sudah ibu siapkan dulu kamarnya. Biar kalian bisa istirahat..." kata ibu yang kemudian bangkit dari duduknya.