Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ridho Ngambek


"Masuk, Va! bu Wati nyuruh kita buat makan bareng," kata Ridho main nyelonong keluar bikin aku kaget.


"Iya, Dho..."


"Ini baju dipake, Pak! baju Bapak itu udah dari hutan belum ganti," Ridho langsung naro satu celana pendek sama kaos di tangan pak bos.


Terus tuh orang masuk lagi, kayaknya Ridho emang lagi bad mood parah.


Pak bos yang mau naro baju diatas meja segera aku cegah, "Bener kara Ridho, sebaiknya Bapak ganti baju..."


"Saya kan bilang kalau saya itu..."


"Ssssuuuuut!" tanganku mendorong mulut pak bos supaya nggak nyap-nyap mulu. Dia tepis telunjuk aing yang hampir kebablasan.


"Dengan pakai baju ini tidak serta merta membuat pak bos mendadak panuan atau kudisan! percaya deh sama saya! Nanti sampai rumah Bapak yang megah dan mewah itu, Bapak bisa mandi kembang tengah malam pakai bunga 7 rupa dari 7 sumber air yang berbeda supaya Bapak terhindar dari penyakit aneh setelah memakai baju ini!" aku nyerocos sedangkan pak bos geleng-geleng kayak orang lagi wiridan.


"Saya tidak mau!" kata pak bos.


Aku segera beranjak dari kursi dan nengok ke pak Karan.


"Udah deh, Bapak eh dedek sepupu nggak usah protes-protes! cepet pakai bajunya!" aku pura-pura marah sambil nunjuk ke baju yang ada di tangan pak Karan. Dan sebelum kaos melayang ke muka ku, aku langsung ngibrit.


"Dasar bocah nakal!" umpat pak Karan yang masih bisa aku denger suaranya dari dalam rumah.


"Dedek?" gumamku sambil noleh ke belakang sekilas dan lanjut halan ke ruang tengah.


Bu Wati dan Karla lagi natain makanan, kita lesehan lagi makannya kali ini.


"Lah? Ridho kemana? tadi dia yang manggilin eh, malah orangnya nggak ada. Di kamar kali ya?" gumamku dalam hati yang terdalam.


"Duduk Nak Reva..." ucap bu Wati.


"Saya panggil Ridho dulu," ucap Reva.


"Tuh Ridho nya ada di belakang Nak Reva..." ucap biyungnya Karla, otomatis aku noleh ke belakang.


Dan bener, tuh manusia jangkung udah ada di belakang aing. Pantesan aja dari tadi jantungku berdebar-debar, eh ternyata ada calon partner of my life sedekat ini sama akikah.


"Makan, Dho..." ucapku yang geser ke kanan kasih Ridho jalan, dia jalan ngelewatin aku sambil tangannya nyamber tangan aing, uh boleh pamer nggak, sih. Dan sesuai perkiraan sodara-sodara kalau si Karla ngeluarin jurus sinar mata x pas liat tanganku dan tangannya saling bertautan.


Ridho ngajakin aku duduk, tapi tuh muka lempeng-lempeng bae. Mulut yang biasa ngoceh mendadak diem. Deuh kalau ngambek gemesin banget sih.


"Aku ambilin ya, Dho?" ucap Karla.


"Nggak usah, La. Ntar aku ambil sendiri aja, lagian kita nungguin pak Karan dulu..."


Dan ya, yang baru aja diomong sekarang nongol dengan out fit santai kek di pantai. Akhirnya dipakai juga tuh baju, well apapun pakaiannya sebenernya mah bagus-bagus aja dipakai pak bos. Dia duduk di sampingku. Jadi nih wanita cantik lagi duduk diantara mamas-mamas ganteng, bisa dibayangkan betapa gedegnya si karet nasi warteg, beuh mukanya udah merah kayak sambel balado.


"Maaf, makan malam seadanya, Pak..." ucap nu Wati yang memang tau kalau pak Karan bos kite-kite.


"Terima kasih, Bu..." ucap pak bos.


"Ayo, silakan silakan..." ucap bu Wati menawari kita semua untuk makan.


"Kamu mau makan apa? aku ambilin!" kata Ridho dengan nada datarnya.


"Itu urap, ayam sama sambel..." kataku. Dan nggak sengaja aku ngeliat mata Karla melotot kesini sambil mulutnya mleyat-mleyot bilang kalau aku disuruh ngambil makanan sendiri. Tapi aku cuma julurin lidah, ngeledek dia. Aku yakin sih itu tanduk siap nyerudug kapan aja.


"Sabodo teuing!" gumamku melihat ekspresi wajah Karla.


Kalau pak bos mah mandiri ya, ambil apa-apa sendiri. Mungkin dia juga udah keburu laper, jadi ya udah lah makan apa aja yang tersedia. Ini jauh lebih baik daripada waktu tersesat sama aku di hutan dan makan cuma snack cokelat yang sama sekali nggak ngeyangin perut.


"Makasih, Dho!" ucapku, Ridho cuma berdehem. Elah, masih aja ngambek.


Dan sekarang Ridho pun mulai mengambil piring yang lain buat dia isi nasi dan lauk pauk sedangkan pak bos udah mulai memamah biak makanannya.


"Enak, Pak?" aku spontan nanya karena dia makan kayak orang yang udah kelaperan banget.


"Ya begitulah!" jawab pak bos.


"Reva, makan. Jangan ngomong terus!" celetuk Ridho.


"Iya ini juga mau makan," jawabku.


Tapi ketika aku memulai suapan pertamaku aku baru sadar kalau disini nggak ada nenek Karla. Kenapa dia nggak ikutan makan bareng kita-kita. Karena penasaran aku pun memberanikan diri buat nanya ke bu Wati, biyungnya Karla.


"Bu, nenek Karla nggak ikut makan?" tanyaku hati-hati.


"Lagi istirahat, habis ini ibu anterin makanan ke kamarnya," ucap bu Wati. Aku cuma bisa manggut-manggut aja.


Sedangkan Karla makan dengan mata terus melotot ke arahku. Kenape dah tuh si Karla, makan mah makan aja keles.


"Maaf ya, ibu hanya masak seperti ini..." ucap bu Wati.


"Bu, ini tuh makanan enak banget. Apalagi ini nasi pertama yang kita makan setelah tersesat di hutan belantara, nikmatnya itu pasti bertambah berkali-kali lipat!" kataku.


"Betul, Bu. Apalagi ini ayam gorengnya masih panas, rasanya enak banget!" kata Ridho.


Bu wati tersenyum tapi tidak dengan Karla, tuh cewek masang muka asem mulu.


Dan karena kebanyakan masukin nasi ke dalam mulut aku pun cegukan.


"Hik! hik, hik!" aku tutup mulutku dengan punggung tangan.


"Minum, makannya pelan-pelan aja..." Ridho sambil nyodorin secangkir teh tawar hangat buat aku.


Aku minum dan alhamdulillah yang tadinya seret sekarang udah lebih lega.


"Ayo tambah lagi Nak Reva..." ucap bu Wati.


"Iya, Bu ... ini juga belum habis," jawabku.


Setelah makan malam yang sangat nikmat itu, aku bantu bu Wati beresin piring byat di bawa ke dapur.


"Saya bantu cuci piringnya, Bu..." aku berniat buat


"Sudah sudah biar ibu saja, Nak Reva pasti lelah. Lebih baik istirahat di kamar..." kata bu Wati. Tapi aku nggak enak hati, masa udah makan gratis eh nggak ikut bantuin cuci-cuci.


"Istirahat, sudah malam..." ucapan bu Wati membuat aku mau nggak mau balik kanan buat ke kamar.


"Ya sudah kalau begitu, saya istirahat dulu ya, Bu?" ucapku sebelum pergi meninggalkan bu Wati sendirian.


Aku jalan menuju kamar, tapi aku baru inget kalau Ridho masih mode ngambek.


"Aku samperin aja kali ya?" gumamku.


Dan ketika aku buka pintu kamar Ridho ternyata....


...----------------...