Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Dia Datang Lagi


Semalaman aku menggigil, badanku nggak enak banget pokoknya. Sebelum aku molor, aku denger Ridho masih ngobrol sama pak bos. Nggak begitu kedengeran karena mereka berdua ngomong lumayan lirih.


Dan sekarang aku kebangun, untung posisi jaket pak Karan masih nutupin badan bawah aku. Berarti aku tidur lumayan anteng nggak blangsakan kayak si Karla. Noh tadi kepala dimana sekarang dimana, nggak jelas banget, aku yakin sih nih orang tidurnya muter kek gasing anak SD.


"Hoaamm, jam berapa sih?" aku nyari hape.


"Gila masih jam 3 malem, tapi kok aku ngerasa tidur udah lama banget," aku garuk-garuk kepala. Aku coba rebahan lagi, sekilas aku melihat sebuah bayangan bergerak dari luar tenda.


"Ah, paling juga pohon goyang kena angin," aku mencoba nggak takut.


"Teh..." suara seseorang yang sangat aku kenal.


"Si bocil? bukannya kata Ridho kalau tenda udah dilindungi mantra? apa si karet lupa nih nggak komat-kamit sebelum dia molor?" aku ngeliat Karla yang tidur mosak-masik, pengen aku iket tuh kaki.


Aku buka tenda dikit buat ngeliat Ridho sama pak Karan.


Sreet.


Begitu tenda aku buka ada angin yang masuk dari celah resleting yang kebuka.


"Masih pada tidur,"


Aku tutup tenda lagi dan pas aku nengok ke belakang, munculah si bocil itu.


"Astaghfirllah!" aku terkejut sangat nih bocah tiba-tiba nongol gitu ae.


"Ssssst!" bocah itu menyuruhku untuk diam.


"Kok kamu bisa masuk kesini?"


"Temen Teteh yang itu lupa untuk membaca mantra pelindung, jadi aku bisa masuk dengan bebas..."


"Nama kamu siapa? kita udah sering berinteraksi tapi aku nggak tau nama kamu," ucapku yang emang penasaran.


"Elin," ucap hantu yang ada di dekatku ini.


"Kenapa kamu sampai kesini, Elin?" tanyaku bisik-bisik.


Si bocil menengadahkan tangannya, ia ada sebuah daun yang tergeletak di tangan mungilnya itu.


"Candak ieu, ieu tiasa ngabantosan supados tiasa lami dina leubeut cai..." katanya pakai bahasa yang aku nggak ngerti, subtitle nya ya tolong.


"Kamu ngomong apaan, aku nggak ngerti suwer!"


"Teteh ambil ini, ini bisa membantu Teteh untuk bernafas lebih lama di dalam air," si bocil akhirnya nerangin pakai bahasa yang kita berdua paham.


"Berapa lama? satu jam? dua jam?" aku naikin satu alis, dia menggeleng.


"Tidak selama itu, tapi aku kira ini akan cukup membantu Teteh saat nanti menyelam ke dalam air," kata si bocil dengan khas rambut basahnya.


"Diapain ini daun? ditempelin di jidat, di hidung apa dimana?" aku mengambil tiga lembar daun itu dan memperhatikan dengan seksama.


"Dikunyah dan ditelan, ini aku ambil dari hutan ini..."


"Yakin nggak salah? nanti aku malah pingsan lagi," aku agak ragu.


"Tidak ada waktu untuk tidak percaya, Teh. Setelah Teteh berhasil mengembalikan cincin itu mungkin Teteh tidak akan bisa melihatku lagi," ucap si hantu ini, dia terlihat agak sedih ya.


"Kenapa kamu mau bantu aku? padahal kita beda alam dan nggak saling kenal sebelumnya,"


"Teteh mirip dengan kakak perempuanku. Sssttt, ada yang datang. Aku pergi..." dan si hantu itu hilang gitu aja.


Aku nggak mungkin neriakin namanya, aku menggenggam daun itu dan memasukkannya ke dalam saku jas pak bos.


"Vaaa? kamu ngomong sama siapa, Va?" tanya Ridho dengan suara serak-serak becek.


"Emh, nggak ada Dho. Aku cuma lagi ngomong sendiri..."


"Maaf, Dho aku bohong. Tapi nanti aku bakal cerita kok," aku ngomong lirih.


"Boleh, deh. Aku kedinginan nggak bisa tidur..." ucapku lemas.


"Buka..." suruh Ridho.


"Apanya? jangan macem-macem ya, Dho..." aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada.


"Astaga, kamu mikirnya apa sih? buka tendanya, gimana aku mau ngasih nih celana sama baju?" ucap Ridho.


"Oh, tenda. Ya bentar. Kamu madep kesana, jangan liat kesini..." aku nyuruh Ridho supaya jangan nengok ke tenda, aing malu. Auroooot bun auroot, ah.


Sreeeeeet.


Aku buka dikit tenda dan julurin tangan keluar. Ridho ngasih tanpa menoleh ke belakang. Aku tutup tenda lagi terus aku pakai baju yang udah lumayan lah bisa dipakai walupun lecek kek duit yang udah keliling dipasar.


"Tidur lagi, Va! masih malem," Ridho ngingetin.


"Ya, Dho..."


Setelah aku selesai pakai baju dan jeans, aku pun ngerebahin badan sambil nyanggah kepalaku pakai jaketnya pak Karan dan selimutan pakai jaketnya Ridho. Sebelum aku lipet tuh jas, aku ambil daun tiga helai tadi dan aku masukin ke kantong jeans. Sedangkan cincin masih menghiasi jari manisku.


"Aku nggak akan mengalah semudah itu. Aku yakin bisa ngembaliin kamu ke tempat semula..." aku mengusap batu pada cincin yang kini di dominasi warna hitam pekat.


Dan tanpa terasa, matahari sudah menampakkan sinarnya.


"Heh, bangun!" suara Karla bak alarm pagi yang bikin kuping aing budek.


"Apaan, sih!"


"Keluar, udah pagi!" Karla goyangin badanku yang rasanya sakit semua kayak orang lagi meriyang.


Sreeeeet.


Aku denger tenda di buka, sama siapa lagi kalau bukan Karla. Hawa dingin dan sejuk khas pegunungan masuk ke dalam tenda mengeluarkan hawa pengap yang semalaman terperangkap di dalam tenda.


Aku mau nggak mau ya harus bangun, "Hoaaammm, dia sih enak tidur cukup. Nah aku kan bangun-bangun mulu..." aku ngedumel ngeliat Karla udah keluar tenda mepet ke Ridho, aku yakin lagi caper dia tuh.


"Udah bangun, Va..." tanya pak Karan ngelongok ke dalem tenda.


Aku pun keluar walaupun dengan badan yang lemes nggak tau kenapa.


"Kamu sakit? atau luka kamu infeksi?" pak Karan nunjuk lengan baju aku yang robek.


"Nggak tau, Pak..." aku emang nggak tau kondisi luka ku ini.


"Kenapa, Va?" Ridho nyamperin.


"Kok kamu pucet? apa karena kedinginan semalem?" tanya Ridho.


"Mungkin karena luka di lengannya..." kata pak Karan.


"Kamu buat minum saja, biar saya yang mengecek luka Reva..." pak Karan menunjuk tempat Ridho tadi duduk sama Karla.


Aku liat ada ikan yang dibakar diatas api, kapan mereka nangkep ikan coba. Pantesan ada bau bakar-bakaran, ternyata ini nih sumbernya, si ikan yang udah berubah warna jadi kecoklatan, kayaknya sih udah mateng.


Pak Karan mengarahkan gunting ke lengan bajuku, "Eh, mau diapain, Pak?"


"Gunting baju kamu, lagian sudah robek seperti ini. Saya mau lihat luka yang kemarin, sudah lebih baik atau semakin parah..." pak bos nggak mau dibantah, dia main gunting aja lengan bajuku.


"Terserah Bapak aja lah," aku nggak ada tenaga buat berdebat sama nih manusia.


Perlahan dia buka perban yang dia ikat di lenganku, "Gimana, Pak?"


"Sesuai dugaanku," kata pak Karan.


...----------------...