Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Perjalanan Pulang


Aku nggak bener-bener tidur kok. Aku cuma merem sambil nikmatin musik yang syahdu, ditambah situasi hujan sangat mendukung.


Adek sepupu juga diem-diem bae. Nggak ada suaranya.


"Nggak mungkin dia ngilang dan mobil ini jalan sendiri kan?" aku mendadak curiga.


Aku melek dan ngeliat pak Karan lagi senyum-senyum sendiri.


"Lah kenapa tuh orang?" ucapku dalam hati.


Pas dia nengok ke samping, senyum yang daritadi merekah indah mewangi setiap hari seperti bunga melati pun mendadak kincup.


"Kesambet?" gumamku.


Lalu aku tempelin tangan di jidatnya, "Saha ieu? hayu urang ngaku ayeuna!"


"Reva saya itu lagi nyetir! tangan kamu mengganggu sekali!" kata pak Karan seraya nepis tanganku yang nangkring di jidatnya.


"Alhamdulillah nggak kesambet, baru aja aku mau ngeruqyah!" kataku. Pak Karan cuma ngelirik doang.


"Ya lagian senyam-senyum sendiri, kan ngeri. Mana lagi hujan..."


"Memangnya kalau senyum itu tabdanya kesambet? kamu ini ada-ada saja!" kata pak Karan.


Apa dia nggak sadar kalau dia itu pelit ekspresi, makanya pas kita tau dia senyum itu malah bertanya-tanya, 'lagi kenapa nih orang?' kan begitu.


Kan, sekarang dia senyum lagi.


"Pak Karan! heh..." aku goyangin lengannya.


"Kenapa?"


"Bapak yang kenapa? itu senyum sendiri begitu, kita jadi takut tau!" kataku.


"Astagaaaa, memangnya senyum saya itu menakutkan seperti hantu-hantu urband legend yang sering nangkring di otak kamu?" pak Karan kayaknya kesel banget.


"Ssssshhh, jangan keras-keras napa, Pak! itu Mona lagi molor, kasian kalau kebangun!


"Bisa tidak kamu jangan panggil saya Bapak? karena saya tidak setua itu!" pak Karan naikin volumenya.


"Tidak bisa! karena sudah menjadi kebiasaan," kataku.


"Kalau tidak mau dipanggil Bapak ya berarti dedek!" lanjutku.


"Ck, terserahlah!" jawab pak Karan yang udh guooondddoook sama aing.


"Jangan galak-galak ntar seret jodoh?" aku ngeledekin.


"Sok tahu kamu!"


Coba aja kalau masih jadi bos, mana berani aku ngomong begini. Aku nggak bisa panggil kamu sayang, soalnya sayang aku cuma buat kangmas Ridho, Pak. Kita cukup jadi saudara aja.


"Saya nggak nyangka ternyata Bapak bisa doyan jengkol juga loh! saya kira orang kaya bakal anti makan begituan..." ucapku tiba-tiba.


"Kamu bisa makan itu, kenapa aku tidak?" ucapnya.


"Berarti kalau saya makan beling, Bapak juga mau makan beling juga gitu?"


"Menurutmu?" pak Karan balik nanya.


Kebiasaannya emang nggak pernah ilang ya. Ditanya malah balik nanya kan nyebelin banget.


Mona mah, ada orang ngobrol kayak apa juga kebluk aja tidurnya. Gerak aja nggak, heran banget sama tuh bocah. Bisa aja tidur dimana pun kapan pun tanpa terganggu.


Hujan udah berhenti, lumayan lah pandangan jadi lebih jelas nggak bureng kayak tadi.


Mobilnya super nyaman, jadi walaupun duduk selama berjam-jam juga betah-betah aja.


Akhirnya tujuan kita berakhir di depan sebuah rumah yang nggak segede rumah pak Karan tapi halamannya luas. Buatku ini terlalu mewah sih.


"Sudah sampai, ayo turun!" ucap pak Karan yang berhentiin nih mobil dan ngelepas sabuk pengaman. Sedangkan aku yang lagi nyalain hape. Kayaknya udah cukup ngehukum kangmas. Kali aja ntar dia telpon atau chat gitu. Tapi berhubung kita udah nyampe ya udah aku masukin lagi hapeku ke dalam tas.


"Iya, kenapa? tidak suka? atau kurang besar dan luas? atau kamu ingin di apartemen saja?" pak Karan nyerocos, sedangkan aku kedap-kedip aja.


Aku ngangguk, "Eh, nggak maksudnya!" aku menggeleng.


Pak Karan mengernyit, "Jadi iya atau nggak? jangan bikin saya bingung! kalau mau ke apartemen, kita kesana sekarang. Karena ini sudah sangat malam," kata pak Karan yang memakai kembali memakai sabuk pengamannya.


"Ridho dimana?"


"Astaga, apa di dalam otak kamu itu hanya ada Ridho?" pak Karan melihatku.


"Ya nggak juga, Pak. Cuma kan saya kepo, dimana Ridho..."


"Dia nanti kesini, dia masih ada urusan. Sekarang kita mau ke apartemen atau?" tanya pak Karan.


"Disini aja udah, capek kalau harus pergi lagi..." kataku yang melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


Aku buka pintu belakang buat bangunin si tukang molor, "Mon ... Monaaaa! bangun, udah nyampe?!"


"Emmmmh, gimana? aku udah bayar kok!" ucap Mona.


"Ngelindur nih bocah!"


Aku goyangin badannya sampai dia bener-bener melek dan sadar, "Monaaa! bangun, kita udah nyampeee!"


"Emmhhh! iya, Mbakkk!" jawab Mona dengan badan yang lemes karena ngantuk.


Tapi setelah keluar dari mobil, udara malam sanggup buat dia melek lebih lebar.


Tas kita berdua di bawa sama orangnya pak Karan. Aku cuma bawa tas kecil yang buat naruh hape sama dompet aja.


Aku dan Mona ngikutin langkah tegap sang penguasa perusahaan. Emang nih orang gayanya bossy banget, semua orang yang ngeliat auto nunduk dan hormat.


Bangunan ini terdiri dari dua lantai, sekali lagi walaupun ini nggak semewah rumah pak Karan. Tapi tetep aja ya, design dan isi di dalamnya nggak bisa diremehkan.


Emang kalau punya duit yang nggak keitung, mau bikin apa aja bisa jadi. Jangan kan rumah, mau bikin istana juga bisa kalau duitnya ada.


Dia ngajak aku naik ke lantai dua, dan sesekali dia nengok ke belakang tanpa menghentikan langkah panjangnya menaiki anak tangga.


Kita berdua ngikutin kemana pak Karan berjalan, kemudian dia berhenti di depan sebuah pintu.


"Ini kamar kamu, Mona. Kamu bisa istirahat disini," ucap pak Karan yang nyuruh Mona buat masuk.


"Kalau kamar kamu ada di sebelah sana," ucap pak Karan padaku.


Mona masuk ke dalam kamar yang lumayan luas itu dan segera menutupnya.


Pak Karan nyuruh aku buat ngekorin dia lagi, sebenernya nggak jauh juga dari kamar Mona lagi.


Ceklek!


"Masuklah," ucap pak Karan yang ngebukain pintunya. Aku melongo pas ngeliat kamarku yang terlalu luas kalau cuma ditempatin satu orang.


"Ini kamar buat aku?" aku masuk dan nengok ke belakang.


Adek sepupu ikutanasuk dan nutup pintunya, "Iya, kenapa? apa kurang nyaman?" tanya pam Karan yang ngecek tingkat keempukan kasur yang ada di kamar ini dengan tangannya.


"Bukan masalah itu,"


"Lalu apa?" tidak suka dengan cat nya?" tanya pak Karan yang berdiri di sampingku yang masih menelisik bangunan yang baru saja aku masuki.


"Catnya?" aku edarkan pandanganku.


"Bukan karena catnya, tapi kamar ini terlalu luas buat aku..." aku nengok ke adek sepupu.


"Kamu itu suka sekali dengan yang sempit-sempit ya? aneh!" celetuk pak Karan.


"Kalau terlalu luas pandangannya jadi kemana-mana terus--" ucapanku terjeda saat melihat pak Karan yang melihatku dengan tatapan yang berbeda.