
Keadaan rumah yang udah amburadul segera dibersihkan. Semua tatanan dekorasi segera diperbaiki. Ravel udah aku gantiin baju, badannya sempet menggigil. Sebenernya aku minta kalau pernikahan ini ditunda aja, tapi biasa dari pihak pakdhe nggak mau ngerubah tanggal, mentok hari ini. Untung aja pakdeku itu nggak ngeliat si Ravel kesurupan, pasti ntar dikaitin sama hal-hal yang nggak masuk akal.
Baju pengantin yang robek dan compang camping bukan jadi masalah. Karena masih ada kebaya yang lain, yang jadi cadangan. Mama udah sadar, begitu juga Ravel. Aku menunggui dua orang perempuan ini dalam satu ruangan yang sama. Sedangkan Ridho ngurusin apa-apa yang ada di luar.
Aku kira bu Santi nggak akan dateng, tapi ternyata aku salah. Entah bagaimana cara Tuhan menggerakkan hati Bu Santi tapi yang jelas aku sangat berterima kasih untuk itu.
Sebelum bu Santi pulang, dia sempet minta maaf karena sempat mengusirku dari rumahnya. Aku jawab aja nggak apa-apa, semua ibu pasti marah jika ada orang yang bilang kalau anaknya yang sudah tiada dituduh melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa seseorang.
"Ravel, tiduran aja. Kamu pasti masih lemes...." ucapku ketika Ravel akan bangkit dari posisi tidurnya.
"Emmh, haus..."
"Bentar," aku ambilin air minum dan kasihin ke Ravel.
"Senderan dulu aja,"
"Ini jam berapa? bukannya aku harusnya nikah sama aa Dilan?" tanya Ravel.
Kayaknya nih bocah nggak tau kalau dia sempet kesurupan tadi.
"Kok aku? kebayaku, mana?" kok rambutku basah?" Ravel bertanya-tanya tentang keadaannya yang berbeda.
Mau nggak mau aku jelasin semuanya tanpa terkecuali. Dan wajah Ravel pastilah panik.
"Terus gimana? apa aku bakal gagal nikah lagi?" tanya Ravel.
Mama yang udah bangun pun mendekat ke ranjang Ravel, walaupun badannya masih lemes.
"Apa kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini?" mama malah nanya kayak gitu. Padahal diluar kan orang-orang lagi ngeberesin dan ngedekor ulang walaupun kocek yang kita rogoh pasti dalem banget gitu ya. Tapi ya udah itu deritanya si Dilan dan mas bojoku. Kita udah sutres mikirin setan mulu, nggak kuat kalau disuruh mikirin gimana nih acara bisa terlaksana dengan baik.
"Iya lah, Mah! aku mau nikah sama Aa. Aku cinta sama Aa, jangan bilang kalau pernikahan Ravel dan Aa Dilan bakal gagal lagi untuk kesekian kalinya?" Ravel yang masih pucet. Dia belum didandanin emang, dan masih pakai piyama biasa. Jadi wajar dia mikir kalau acara pernikahannya gagal total.
"Ya udah, kalau itu keputusan kamu, Ravel. Mama cuma bisa ngasih restu dan doa, semoga kamu dan Dilan selalu dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari segala macam gangguan..." ucap mama yang memeluk Ravel.
"Makasih, Maaah..." Ravel malah nangis. Mungkin dia berpikir kalau mama bakal menghalangi penyatuan antara dua insan yang saling mencintai dalam satu ikatan perkawinan kali ya. Aku pun ikut bergabung berpelukan dengan Ravel dan mama.
Waktu udah mepet, nggak ada waktu Ravel buat protes kebaya apa yang harus dia pakai pas ijab nanti.
"Ini udah paling mendekati konsep, Vel!" ucapku. Kebaya yang dari madam Anna udah nggak berbentuk lagi.
Kebaya yang tadinya dikasih ke aku sebagai hadiah aku mau dijadiin model dadakan nggak aku kasih ke Ravel. Aku agak takut barangkali kebaya yang itu bisa bikin Ravel kesurupan juga, yang ada repot dua kali kita. Ini aja aku nelfon si Arlin buat cepetan beliin kebaya baru, karena aku nggak ada waktu buat muter-muter keliling butik.
"Tapi aku pengennya warna pink," kata Ravel.
"Kamu mau nikah atau nggak sama sekali?!!" aku naik darah. Kurang tidur abis ngeronda dilanjut harus pergi ke rumah emaknya si Freya lanjut ngadepin orang pingsan dan kesurupan, bikin stok sabarku semakin menipis. Apalagi ini pak penghulunya juga kan aku tahan supaya dia nggak pergi. Masih untung nggak ada yang nikahan lagi hari ini.
Mulut si Ravel manyun-manyun gara-gara pernikahannya nggak sesuai ekspektasi.
"Lanjutin, dandaninnya, Mbak! aku keluar dulu. Kalau rewel atau nggak nurut, getok aja kepalanya pake kuas blush on!" kataku.
"Ihh, Mbak Revaa..." Ravel yang lemes masih aja bisa ngedumel.
Aku yang udah pusing, pengen ke bawah nyari yang seger-seger.
"Loh, kamu belum siap-siap, Sayang?" tanya Mama saat aku keluar dari kamar calon penganten.
"Nanti aja, Mah. Kepalaku pusing kalau disanggul-sanggul," kataku.
"Biar Reva ambil sendiri, Mah. Mama istirahat dulu aja, Mama kan habis pingsan..." kataku yang ngeliat mama udah cantik pakai kebaya plus konde.
Aku turun ke bawah sambil nyariin kangmas ku yang entah lagi apa.
Kaki ku langsung melangkah ke area taman belakang, yang akan dijadiin acara ijab sore ini. Kepalaku sebenernya nyut-nyutan, pengen istirahat tapi aku inget kalau aku belum nyediain makanan buat Ridho karena keriweuhan yang terjadi sejak pagi.
"Dho..." aku mendekat ke Ridho yang lagi sibuk ngatur-ngatur orang.
"Kok kamu kesini?" tanya Ridho.
"Udah makan belum? aku terlalu sibuk ngurusin Ravel sampai aku lupa suamiku belum aku tawarin makanan,"
"Aku, aku udah kok. Tenang aja, aku bukan bayi yang harus disuapin..." ucap Ridho.
"Saya tinggal, kalian lanjutin semuanya. Tolong yang sebelah sana ceoet beresin sebelum jam 4 ya," ucap Ridho menunjuk le salah satu sudut yang numpuk barang bekas dekorasi sebelumnya.
"Kamu udah makan belum?" tanya Ridho, dia ngajak aku masuk ke dalem rumah.
"Udah nyemil-nyemil, males mau makan..."
"Nah, kan. Malah kamu yang belum makan, mau aku ambilin?" tanya Ridho.
"Nggak usah, aku udah makan buah kok..."
"Kamu nggak ikutan didandanin?" tanya Ridho. Dia ngebawa aku naik ke lantai atas.
"Nanti aja, kepalaku nyut-nyutan kalau disanggul-sanggul lagi,"
Sampai di kamar, Ridho nutup dan ngunci pintu.
"Ngapain dikunci segala?" aku naikin alis.
"Takut ada kucing nyelonong masuk,"
"Disini nggak ada kucing," kataku.
Ridho nyuruh aku rebahan.
"Aku capek, Dhoooo! beneran, remek badanku," aku tutupin badan pakai selimut dan bantal.
"Ya makanya, sini aku pijetin kakinya. Biar ilang dikit-dikit capeknya..." kata Ridho yang udah bawa minyak zaitun dari meja rias.
"Aku kira kamu mau---"
"Ya mau! tapi nggak detik ini juga. Lanjut buka paketnya ntar lagi, sekarang aku pijetin dulu nih kaki..." kata Ridho yang udah duduk sambil ngurutin kaki ku yang emang pegelnya minta ampun.
"Jangan curi-curi kesempatan ya, Dho..." ucapku sambil merem.
"Nggak tenang aja, kalau nggak khilaf!" celetukan Ridho berhasil bikin mataku melek lagi.
"Nggak, nggak. Canda Sayang! merem dulu aja, 10 atau 15 menit kan lumayanan..." kata Ridho.
"Kalau ada mbak-mbak salon yang mau ngerias, bangunin aku ya?" ucapku pada suami.
"Siaaaaaaap ndoro Ratu!" ucap Ridho, bikin hatiku tergelitik.