Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ganti Sampai 7 Kali


Dan beneran aja, kita ganti nama bayi mungil ini pas sampai 7 kali. Mungkin orang-orang sini aja sampe pusing, dan mikir seistimewa apa nih bayik bisa emaknya ngeganti nama dia sebanyak itu?


Jangankan orang lain, nih suami sendiri rambutnya sampai dia karetin saking apa? saking puyengnya.


"Yank, udah deh. Nggak usah dengerin apa kata orang. Ntar yang ada kamu itu capek sendiri," kata kangmas yang udah kadung resign dari perusahaannya pak Bagas.


"Aku nggak suka, Mas. Kalau si Ravel itu ngeledekin bayik kita,"


"Emang dia ngomong apa lagi, siiih?"


"Pas aku kasih namanya Reval, dibilang kan namanya nggak cocok. Giliran diganti Prasat, eh dia bilang, 'Prasat apanya Prosot?'. Terus pas aku bilang namanya Reyhan eh dia malah nyanyi 'begitu syuuulit lupakan Reyhan'. Kan kesel akunya. Pokoknya dia tuh ngledekin mulu..." aku ngadu ke kangmas dengan air mata seember.


"Udah ya udahhh. Jangan nangis, ntar aku sentil itu si Ravel..."


"Ini yabg terakhir kalinya bayi kita ganti nama ya, Revaa. Aku udah malu banget bolak balik nyuruh orang buat ngurus akte sama kartu keluarga. Kamu liat sendiri kan udah ada 6 kali si dedek gonta ganti nama. Ini yang ke 7, abis ini udah ya. Udah jangan dengerin apa kata Ravel..." ucap kangmas.


"Huufhh, jadi udah fix ya. Namanya Arion? beneran ya jangan ganti lagi, aku mau ke bawah nyuruh mbak Rina ke pak RT dulu nih," tanya kangmas, aku cuma ngangguk.


"Beneran ya? jangan minta ganti lagi?"


Aku ngangguk sambil hapusin air mata.


"Ya udah aku ke bawah dulu," Ridho cium keningku dan keluae dari kamar.


Selama punya bayi, nggak tau kenapa aku jadi super sensitif banget. Sampai perkara diledekin Ravel aja bikin aku stres.


Mungkin karena capek dan banyak kepikiran. Aku pum tertidur. Sampai akhirnya aku kebangun karena ada suara orang telfon.


"Tolong bilangin ke istri kamu, Dilan. Untuk sementara tolong mulutnya dikondisikan. Kira-kira sesuatu yang nggak penting tuh nggak perku dikomentarin. Terutama tentang nama anak kami. Huufh, Reva kena baby blues. Dia lagi sensitif banget buat sekarang ini. Jadi aku mohoooooon banget banget pake banget, supaya Ravel jangan ngeledekin mbaknya terus-terusan," ucap Ridho.


"Aku minta tolong ya, Lan! oke, makasih..." lanjut Ridho.


Mataku masih kiyip-kiyip ngantuk, tapi kupingku daritadi nyaring apa yang diobrolin Ridho.


"Ternyata, Ridho habis telfon Dilan. Kenapa juga dia bilang aku kena baby blues segala," batinku.


.


.


.


Weekend ini banyak sekali undangan pernikahan, salah satunya dari kerabat Ridho. Tapi sayangnya kita nggak bisa kesana. Arion masih terlalu kecil untuk dibawa ke luar kota, takut juga kena sawan.


"Bu ... ada pak Karan datang," ucap mbak Rina.


"Suruh kesini aja, Mbak. Aku lagi nanggung lagi ngeboboin Rion!" ucapku yang lagi menimang-nimang bocah titisannya Ridho.


Nggak lama, adek sepupuku masuk. Aku taruh telunjukku di depan bibir. Nyuruh dia jangan berisik.


"Baru tidur?" pak Karan bisik-bisik.


"Iya ... shhh, shhh," Rion yang ada di gendonganku, aku coba pindahin ke baby boxnya.


"Oleh-oleh dari Paris!" ucap pak Karan yang nenteng banyak papperbag.


"Ck, nggak usah repot-repot loh, sebenernya. Aku kan jadi nggak enak," kataku.


"Betewe disana kan lagi musim dingin, beliin aku mantel panjang yang ada bulu-bulunya nggak? kan lumayan tuh kalau aku pergi pas muaim dingin aku udah punya mantelnya," ucapku nyerocos aja. Sementara adek sepupu malah nahan ketawanya.


Takut Rion kebangun, kita berdua turun ke bawah. Aku minta tolong Martini buat jagain Rion dulu.


"Ridho kemana?" tanya pak Karan.


"Lagi ngurusin mobil. Dia pergi dari pagi, sampai sejarang belum balik-balik,"ucapku singkat. Kita duduk di ruang tengah, sedangkan oleh-oleh yang segambreng itu aku tinggalin di kamarnya Rion.


"Oh ya, aku baca di headline news pengusaha Dera Prayoga lagi sakit berat? bener nggak sih berita itu?" aku nanya.


"Maksih, Mbak," ucapku pada mbak Rina.


"Gimana bener nggak berita itu?"


"Sakit atau tidak menurutku itu tidak penting," ucap pak Karan.


"Ck, ya emang nggak penting. Tapi aku kan jadi kepo, apa itu karena karma yang diterima dia atau---"


"Takdir! semua itu takdir yang harus dia jalani," ucap adek sepupu.


Ssh, emang kalau cowok nggak bisa diajak ngegosip ya. Nggak bisa seseru kalau ngobrol sama sesama cewek.


"Kapan nih?"


"Kapan apanya?" tanya adik sepupu.


Aku naikin kedua alisku, "Aku dapet undangan,"


"Undangan apa?"


"Halah, nggak usah pura-pura..." aku mulai mengkorek info.


"Pura-pura apa? kamu ini semakin kesini semakin aneh, ini pasti karena kamu satu atap sama Ridho!"


"Ya kapan aku dapet undangan pernikahanmu dengan Luri," ucapku.


"Ngawur! aku sama dia tidak ada apa-apa, dia hanya gadis desa yang---"


"Yang apa? yang cantik, baik dan juga pinter masak kan? aku dapet info dari bu Ratmi kalau kalian udah mulai deket. Aku sih setuju kalau kamu sama Luri, daripada sama Kanaya yang judesnya minta ampun. Aku nggak bisa membayangkan gimana nanti anak kalian," aku mrepet ngalor ngidul.


"Denger ya, Reva! dia hanya membantuku untuk membuat pak Sarmin menerima sesuatu dariku. Aku harus membalas perbuatan baik pak Sarmin dan istrinya, bagaimanapun aku tidak mau berhutang budi..."


"Lagi pula wanita yang aku suka tetap kamu, tidak ada yang bisa mengubah itu.." ucap adik sepupu, dingin.


"Mana bisa kayak gitu. Bagaimanapun Rion harus punya adik sepupu dari om Karan," ucapku nggak mau kalah, aku nggak mau situasinya jadi canggung.


"Rion?" pak Karan nautin alisnya, heran.


"Arion, anakku sama Ridho..."


"Bukannya namanya Reval?"


"Ya aku ganti,"


"Kenapa?" pak Karan heran.


"Ya pengen aja..." kataku.


Pak Karan cuma geleng-geleng kepala denfer jawaban dariku. Sesaat kami berdua terdiam sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu.


"Va, bagaimana kalau kamu pegang lagi perusahaan itu. Arlin akan menikah dia akan ikut suaminya, dan dia mengatakan akan resign dalam beberapa hari ke depan..."


"Tapi aku..."


"Ayolah, perusahaanku sedang ikut terdampak krisis global, aku harus fokus supaya perusahaan bisa stabil," ucap pak Karan.


"Kalau kamu tidak ingin menerima atas nama kamu, aku akan memberikannya atas nama Arion..." lanjutnya.


"Jangan bercanda,"


"Aku tidak bercanda. Bicaralah dengan Ridho, lakukan itu untuk Arion. Dan pikirkan juga karyawan yang suda loyal, mereka punya keluarga, aku tidak bisa membayangkan kalau mereka tiba-tiba menerima surat PHK, karena perusahaan mengalami kekosongan kepemimpinan..." jelas pak Karan.


"Aku harap kamu mau mempertimbangkannya lagi..." lanjutnya.