Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Hanya Aku Yang Berhak


"Kenapa kau disini...?!" suara pria ketika pintu dibuka.


"Katakan, kenapa kau berani datang kemari?" ucapnya dengan sekali bentakan.


"Karena sudah waktunya!" sahut Ridho.


Mendengar ada orang yang lagi adu urat otot tenggorokan pun aku cepet nyamperin.


"Siapa, Dho?" tanyaku. Karena sosok yang ada di depan pintu terhalang oleh badan Ridho.


Pas Ridho geser, barulah aku tau kalau yang datang itu Karan.


"Reva..." gumamnya.


"Reva, kita perlu bicara!" ucap Karan, tapi aku lagi nggak minat.


Aku masuk aja ngeloyor seakan nggak ada hal yang perlu aku tanggepin dari dua orang yang lagi bersitegang. Baru juga beberapa langkah, Karan menarik dan mencengkram kemeja Ridho


"Kau pasti sudah bicara yang macam-macam, bukan?" bentak pria dengan jas semi formalnya.


"Lepaskan tanganmu!" Ridho melepaskan paksa tangan pak Karan dari kerahnya.


"Sebaiknya anda pergi, karena kita sedang makan malam!" Ridho ngusir.


Tapi bukannya pergi, pak Karan memaksa masuk dan nemuin aku di ruang makan. Aku yang udah laper tingkat dewa, lagi siap-siap masak mie instant.


Aku sabodo amat, mereka mau gelut mau tonjok-tonjokan. Dan aku juga nggak peduli sama dietku.


"Reva, ikut aku! kita perlu bicara," pak Karan kayak orang blingsatan. Sementara aku woles bae, ngerespon juga nggak.


"Sebaiknya anda pergi!" kata Ridho.


"TUTUP MULUTMU!" bentak pak Karan.


Aku tetep dengan aktivitas masakku seakan mereka berdua aku anggap ghoib semua.enyadari nggak ada satupun orang yang aku notice, akhirnya mereka diem sendiri. Nggak ada yang cicit cuit.


Mie instantku udah jadi berbarengan dengan suara bel yang terdengar dari depan.


Ting!


Tong!


"Biar aku yang---" ucap Ridho yang belum selesai karena aku udah duluan bangkit dari kubur, eh dari kursi.


Ternyata kang delivery.


"Sebentar, saya ambil uangnya dulu..." ucapku.


"Sudah dibayar, mbak..." ucapnya.


"Oh, ya sudah..."


Grepppp!!!


Aku tutup pintu, dan pas balik badan ternyata dua orang itu berada di belakangku.


Aku cuek aja balik ke meja makan.


"Revaaaa...!" tangan pak Karan menyentuh pundakk tapi segera ditepis Ridho.


"Anda tidak lihat, dia tidak sedang ingin bicara dengan anda!" kata Ridho.


"Per-setan denganmu!" ucap pak Karan.


Sedangkan aku konsisten dengan sikap dinginku. Aku nggak peduli kalau mereka mau ngapain, yang jelas aku lagi pengen makan. Nggak tau kenapa, aku kayak orang yang lagi kesetanan. Aku taruh ayam di piring, dan mulai melahapnya satu persatu, nggak lupa dengan mie instant yang juga ngebul, mirip kayak orang yang kesetanan. Aku nggak nawarin Ridho ataupun orang yang baru nongol karena habis perjalanan dinas ke luar negeri.


"Va, sing eling Va..." ucap Ridho yang menyentuh tanganku yang lagi pegang ayam. Tapi aku tepis tangannya tanpa ada satu kata yang meluncur dari mulutku yang lagi sibuk ngunyah.


Mereka berdua duduk tepat di depanku yang lagi sibuk makan.


"Va..." panggil pak Karan.


Selesai makan, aku langsung naruh piring wastafel sekaligus cuci tangan.


Mereka ngintilin aku kayak anak kecil, sementara dindalam hati aku udah pengen mledak aja rasanya.


Aku buka pintu utama, "Kalian berdua keluar! aku mau istirahat!" ucapku datar.


"Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara!" ucap pak Karan tegas.


"Oke, fine!"


Braaaaakkkk!!!!


Aku banting pintu.


"Akubtau pasti dia menceritakan hal yang tidak-tidak padamu!" ucap pak Karan mencekal tanganku dengan keras.


"Hey, lepaskan Reva! kau menyakitinya!" Ridho melepaskan tangan pak Karan dariku.


"Jangan ikut campur!" kata pak Karan.


"KALIAN BISA DIEM NGGAK SIIIIHHHHH?!!!!" aku teriak kayak orang kesurupan.


Baik Ridho maupun adek sepupu, mendadak kicep.


"Kalau kalian kesini hanya untuk ribut lebih baik kalian pergi. Sudah cukup kalian membuatku seperti orang bodoh!" ucapku yang udah nggak bisa lagi nahan emosi.


Ngeliat mereka pada diem, aku pun menunjuk sofa, "Duduk disana, dan katakan apa yang kalian ingin katakan..." ucapku.


Pak Karan mulai ngomong, "Aku tidak tau kapan orang ini mulai menampakkan dirinya di depan kamu Reva, yang jelas apa yang aku lakukan itu demi kebaikan kamu..."


"Kebaikan?" aku naikin alis.


"Kondisimu sangat mengenaskan ketika aku membawamu ke rumah sakit. Aku bahkan masih ingat tanganku berlumuran darah saat menggendongmu. Kamu tau apa yang aku pikirkan saat itu? bagaimana perasaan tante Ivanna ketika melihat anaknya dalam kondisi seperti itu. Aku sudah pernah merasakan kehilangan, melihat ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Dan aku nggak akan siap kalau aku harus menyaksikan kamu pergi begitu saja..." ungkap pak Karan.


"Kalau bukan karena kamu menolong adiknya Ridho untuk kabur dari penjagaan rumahku, kamu tidak akan mengalami hal mengerikan seperti itu..."


Aku dan Ridho diam. Aku memberikan waktu pak Karan untuk mengatakan apapun yang ingin dia katakan.


"Dan kau memindahkannya ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuanku," ucap Ridho, menatap pak Karan.


"Ya memang! aku memindahkan Reva ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih canggih peralatannya. Kau tau? nyawanya sedang berada diujung tanduk. Aku tidak mungkin membiarkannya berlama-lama dalam keadaan koma!" jelas pak Karan.


"Lagipula kau bukan suaminya jadi aku tidak perlu meminta ijinmu untuk memindahkan Reva ke tempat lain!" lanjutnya,


"Apa kau bisa lakukan itu untuknya? tidak, kan?" pak Karan mencibir Ridho.


"Aiish, apa maksudmu bicara seperti itu??!!!"


"STOPPPP!" aku menyudahi pertengkaran mereka.


"Bisa nggak sih nggak usah pakai sahut-sahutan?" aku gemes banget sama dua orang yang katanya udah dewasa tapi kelakuan koplaknya nggak ketulungan.


"Dengar Reva, apapun yang aku lakukan itu demi keberlangsungan kehidupanmu. Aku harus mengancam dia seperti itu, karena jika tidak. Dia akan nyaman sebagai pengangguran tidak berguna yang hanya menjadi beban negara!" kata pak Karan sinis.


"Tapi kau bukan ayahku yang bisa mengatur sesuka hatimu, kita hanya saudara sepupu. Dan kau terlalu jauh mencampuri kehidupanku..." ucapku.


"Kau hanya berpikir hari ini, kau tidak berpikir hari esok. Lihatlah, kehidupanmu lebih baik sekarang tanpa adanya orang ini disampingmu..." pak Karan melirik Ridho, meremehkan.


"Kau tidak berhak bicara seperti itu, pak Karan Perkasa..." ucapku menatap pak Karan.


"Karena hanya aku yang berhak menentukan bagaimana aku hidup dan apa yang membuatku bahagia..." ucapku.


Ridho berbinar mendengar jawabanku.


"Sudahlah, aku ingin istirahat. Sebaiknya kalian pulang..." ucapku yang berjalan ke kamar dan menguncinya. Sekilas aku melihat Ridho mencegah pak Karan buat ngejar aku.


"Revaaaa...?!!" panggil pak Karan.


Air mataku lolos seketika. Aku nggak peduli dengan mereka yang mungkin masih berada disana. Aku butuh ruang untuk menyendiri, tanpa adanya mereka berdua.