Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ditinggal Berdua


"Nggak, Va! kamu salah paham. Tadi aku nggak sengaja..." ucap Ridho sambil ngejar aku yang jalan nggak tau kemana.


"Mas Ridhooo, mbak Revaaaaaa! jangan jauh-jauh jalannyaaaa!" teriak Rahman.


"Siap, Bang!" ucap Ridho.


"Va, kita balik lagi, yuk?" ajak Ridho. Dia narik aku, dan pegangin dua bahuku.


"Kamu tuh ngeremehin banget perasaan aku, Dho! aku itu pacar kamu!" aku udah nggak tahan.


"Ngeremehin gimana, Va? orang mau jatuh masa aku diem aja? kasian, Va. Dia juga kesini kan buat bantuin kamu, buat nyari mbak Sena, Va...!" ucap Ridho.


Aku buang muka, ogah liatin kangmas.


"Kamu tuh kebiasaan, sembrono disaat yang nggak tepat. Ini hutan, bahaya!" dia ngoceh lagi.


Ridho buang nafas, "Iya iya aku salah. Aku minta maaf, ya? nggak lagi-lagi, deh! okey? kalau kamu ngambek gini aku tuh ngerasa cowok paling ganteng sedunia tau nggak, Va? kamu jangan bikin aku tambah ke GR-an,"


"Iiiihh, nggak lucu!" aku cubit pinggangnya.


"Aw aw aw!" Ridho Ridho ngaduh tapi kayak ngeledek gitu.


"Ganas banget kamu, Va! cubitin lagi, dong!" kata Kangmas.


"Dih, ogah!"


"Lagian kamu masa nggak percaya sama aku, Va! aku tuh setia, Va! setiap tikungan ada, eh!"


Aku melotot!


"Eh, canda kali, Va! aku setia beneran kok! kalau perlu besok kita undang penghulu!"


"Buat apa?"


"Buat ngawinin kucing tetangga!" jawab Ridho.


"Ya buat nikahin kita berdua lah, Sayang!" lanjut Ridho. Pipiku panas seketikaaaah.


"Udah ah, ntar dikira kita ilang lagi sama mas Rahman. Balik lagi, yuk?" Ridho ngajakin balik nemuin mbak Luri sama mas Rahman.


"Ayoooooo!" Ridho narik aku buat jalan ngikutin dia.


Dan setelah beberapa menit jalan, akhirnya kita ketemu juga sama mas Raan dan juga mbak Luri yang lagi selonjoran.


"Pucet banget, Mas?" tanya Ridho sama mas Rahman.


"Iya, kayaknya doi sakit!" kata mas Rahman lirih. Posisinya mbak Luri lagi merem duduk nyender di batang pohon yang gede.


"Terus gimana, dong?" tanya Ridho.


"Biar dia istirahat dulu," kata mas Rahman.


Lagian, udah tau lagi nggak enak badan kok ya masih ngikut. Kan bisa alesan sama pak Sarmin kalau dia lagi nggak fit jadi nggak bisa ikut ke hutan. Kalau kayak gini kan gimana aku bisa nyari mbak Sena kalau malah ada satu yang lagi letoy.


"Duduk dulu, Va!" kata Ridho.


"Gini aja, Mas! kita coba menyisir hutan sekitar sini saja, biar mbak Reva nemenin mbak Luri disini," kata mas Rahman.


Ridho ngeliatin aku sebelum dia menatap mata mas Rahman.


"Apa nggak bahaya ninggalin mereka berdua disini, Mas?" tanya Ridho.


"Inshaa Allah nggak apa-apa, Mas. Lagipula kita kan nggak jalan jauh, hanya sekitar sini..." kata mas Rahman meyakinkan Ridho.


"Kamu nggak apa-apa aku tinggal?" Ridho nanya aku.


"Menurut kamu?"


"Elah, ditanya malah nanya balik. Kalau aku sih khawatir ninggalin kamu, soalnya kan kamu gedebag-gedebug srudag-srudug orangnya," kata Ridho.


"Ya udah aku ikut kamu,"


"Kalau kamu ikut aku sama mas Rahman, gimana aama mbak Luri, Revaaaaaa?" Ridho kayaknya udah gregetan.


"Sssssh, kalian bisa pakai bahasa kalbu nggak ributnya? kasian mbak Luri lagi tidur!" kata mas Rahman nunjuk orang yang lagi senderan di pohon.


"Ya udah, mas Rahman aja yang nemenin dia disini," aku bisik- bisik.


Ridho nampak mikir, "Aku bilang dulu sama mas Rahman," kata Ridho.


"Jangan, Mas! kalau mbak Luri butuh apa-apa pasti risih kalau minta tolongnya sama saya..." jawab mas Rahman.


"Vaaaaa..." Ridho manggil lembut.


"Ck! nggak mau!"


"Sebentar aja, aku janji cuma sebentar. Inget misi kamu kesini buat nemuin mbak Sena loh, Va!"


"Ya udah iya!"


"Pinter!" Ridho ngusap pucuk kepalaku.


Ya udah akhirnya aku disini berdua sama mbak Luri yang entah lagi tidur atau pingsan, aing kagak paham. Soalnya dia merem, tapi bibirnya pucet gitu.


Aku jadi ikut selonjoran di tanah, dan senderin punggung ke batang pohon yang mungkin usianya udah ratusan tahun.


"Hah, anginnya begini malah bikin ngantuk!" kataku yang mata udah mulai kiyip-kiyip.


"Katanya nggak boleh ngelamun kan disini, eh


... tapi kalau tidur berarti boleh, ya?" aku menimbang-nimbang karena mata udah kayak lengket banget pengen merem.


"Tapi kalau aku tidur terus digondol makhluk jahat gimana? ntar ayang Ridho bisa sedih dan merana," ucapku sambil cekikikan.


Sementara yang disamping masih anteng-anteng bae. Aku cek nadi di lehernya, masih berdetak. Hidungnya juga masih ada hembusan nafas, berarti dia cuma tidur dan nggak kenapa-napa.


Nggak ada temen buat ngobrol, tapi dilarang bengong. Hah, sungguh situasi yang sangat membosankan.


Aku ngerogoh saku yang ada di tas dan ngeluarin hape.


"Edunlah, nggak ada sinyal!" aku goyang-goyangin hape, berharap ada sinyal nyangkut tapi itu kayak harapan palsu.


"Kalau ada sinyal kan lumayan, bisa searching-searching!" kataku.


Daripada pikiran kosong aku kemudian berdiri, dan ngebuka menu kamera, dan mulai ngejepret gambar sana-sini secara random.


Dan...


Tiba-tiba aja, muka mbak Luri tepat di depan hapeku dalam jarak yang cukup dekat.


"Astaghfirllah!" aku teriak. Tapi pas aku nggak sengaja nengok ke belakang, aku liat mbak Luri masih di posisinya. Dia masih anteng.


Sontak aku putar kepalaku ke depan, nggak ada siapa-siapa.


"Hah ... hhh ... kok tadi, di kamera ada wajahnya mbak Luri? nggak, nggak, aku pasti tadi ... emh, aku ... aku pasti salah liat!" aku sampai susah buat berkata-kata. Pokoknya aku harus positif thingking.


Hape meluncur ke kantong lagi. Aku mulai mengatur nafas supaya nggak ngos-ngosan.


"Ridho lama banget, sih? mana nih orang nggak melek-melek, dia kok bisa tidur pules di tengah hutan begini?" aku ngeliatin wajah mbak Luri.


"Ridho mana sih..."


Katanya cuma sebentar, tapi ini udah hpir satu jam aing nunggu tanpa kepastian. Mau ngeluarin hape trauma, takut ada yang nongol secara misterius. Nggak ada sinyal, nggak bisa ditelfon juga Ridho nya. Awalnya aku nggak expect bakal ditinggal begini, eh niat mau nyari malah duduk-duduk glosoran di bawah langit.


Dan mata lagi lirak-lirik kesana kemari mencari alamat, eh bukan. Kok jadinya malah lirik lagu dengdot, sih. Lagi ngeliat kesana-kemari, tiba-tiba.


PUK!


Ada yang nepuk pundakku.


"Wait! ini tangan manusia atau tangan jahanam syaithornirrojimmmmmm?" aku dalam hati.


"Astaga, jangan ganggu dong! pleaseeeeee! aing lagi malessss!" aku berdoa dalam hati.


"Nebgok nggak, ya? nengok nggak ya?" aku bimbang.


Kata orang, kalau ragu jangan dilakuin. Oek, sekarang aku ragu, dan aku nggak mau nengok.


Tapi ngegeplak.


PLAAAAK!


"Tangan nakal!" aku singkirin tangan itu dari pundakku.


Tapi, ternyata tangan itu malah...


...----------------...