Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Anggap Aja Salam Perkenalan


"Ehmmm, namanya----" ucap Ridho menggantung.


"Kamu mikir berarti kamu bukan Ridho tapi SETAN!" aku langsung nyerobot.


"Jangan dibuka, Mon! dia bukan Ridho yang asli!" aku menyuruh Mona buat mundur beberapa langkah.


"Buset, dah! Reva jangan main-main! ini aku diluar udah basah kuyup, sedalem-dalemannya!" kata Ridho.


"Gini deh, kalau aku Setan aku nggak bakal tau kalau waktu itu kita pernah kepergok Mona pas sosor bebek angsa!" ucap Ridho dengan lantang.


Mendengar itu aku langsung buka jendela, karena orang yang nggak tau malu dan muka tembok yang bakal berani ngomong kayak begitu ya cuma Ridho.


"Ridho!" aku liat kangmas udah basah sebadan-badan.


"Yang kamu lakukaaaan itu jahaaaaat!" ucap Ridho menggigil.


Dan aku baru sadar, karena kita terlalu sibuk dengan pencarian kebenaran ini yang dateng Ridho yang asli atau bukan, jadi itu setan penggedor pintu pun jadi dikacangi dan diabaikan begitu saja. Dia pun berhenti sendiri.


Ridho manjat jendela, ningring lepasin sepatu baru deh masuk ke dalem kamarku dengan air yang menetes dari bajunya, udah tinggal diperes terus dijemur itu kangmas biar kering.


"Mana setannya?" tanya Ridho ke kita berdua.


"Tadi di luar, Mas!" jawab Mona nunjuk ke arah pintu. Kita masih mode gelap-gelapan.


Ridho mau keluar tapi aku tarik, "Mau kemana?" tanyaku.


"Mau ngecek keluar lah!"


"Nanti kalau setannya masuk gimanaaaa? lagian pintunya aku kunci," aku tunjukin kunci dan tanganku yang lain narik baju kotak-kotak yang jadi outer Ridho.


"Denger ya, Va! setan mah kalau mau nyamperin kamu tinggal nembus tembok atau pintu, nggak perlu kunci kayak gini segala..." Ridho ngerebut kunci yang ada di tanganku.


Nekat emang nih orang. Setelah ngambil kunci dia buka pintu gitu aja. Aku sama Mona ngintilin Ridho dari belakang.


"Awas Mon, licin!" aku ngingetin Mona, soalnya lantai basah gara-gara dilewatin Ridho.


Ceklek!


Pintu terbuka, tangan Mona masih pegangin hapeku yang sinarnya diarahin ke depan.


Ridho celingak-celinguk. Terus dia berbalik menghadap kita berdua.


"Mana? nggak ada!" ucap Ridho.


Tapi sekilas, aku ngeliat bayangan orang berjalan di belakang Ridho.


Aku nutup mulut sambil tangan nunjuk-nunjuk.


"Apa?" Ridho naikin satu alis.


"Di-be-la-kang ka-mu..." ucapku


"Dibelakang?" Ridho puter badan. Kalau Mona sih udah nutup mata, nggak mau liat.


"Mana nggak ada!" kata Ridho.


"Mon nyenterinnya yang bener!" lanjut Ridho. Ridho ngambil hape dari tangan Mona.


"Mana, Va? nggak ada!" kata Ridho lagi.


"Ada kok! beneran, Dho. Tadi ada..." aku berlindung di belakang kangmas. Pas bilang nggak ada, si Mona baru berani buka mata. Dia ikutan nempel dibelakang abangnya.


Ridho mau keluar dari kamar. Tapi lagi-lagi aku tarik, "Mau kemana?"


"Mau ngecek kucing kawin!" jawab Ridho.


"Jangan becanda deh..." ucapku.


"Tauk nih!" Mona nimpali.


"Ya kalian itu berdua aneh. Ketakutan, katanya ada setan. Giliran aku kesini nyamperin, mau liat keadaan malah dihalang-halangin," Ridho geleng-geleng kepala, kayaknya dia nyut-nyutan ngadepin kita berdua.


"Kalau takut, kamu sama Mona di kamar aja. Kunci pintunya kalau perlu digembok sekalian. Aku mau keliling ngecek rumah!" ucap Ridho.


"Dih, kok Mbak Reva gitu, sih?" Mona merengut.


"Udah, udah. Jangan ribut! ya udah kalian ikut aku," kata Ridho.


Kita pun ngikutin Ridho nelusuri setiap ruangan di rumah ini bermodalkan satu cahaya dari benda pipih milikku yang dipegang sama Ridho.


Tapi ya hening nggak ada apa-apa. Sementara hujan diluar sepertinya udah mereda. Udah nggak ada petir dan kilat juga.


Dan tiba-tiba...


Lampu menyala kembali. Keadaan rumah jadi terang benderang.


"Alhamdulillah," ucap Ridho spontan.


"Kalian liat kan nggak ada apa-apa disini!" kata Ridho madep aku dan Mona.


"Tapi beneran Mas, tadi tuh--" Mona belum ngelanjutin omongannya udah dipotong sama Ridho.


"Anggap aja salam perkenalan," ucap Ridho. Keadaan rumah masih seperti semula, rapi.


"Tadi kan kalian udah ikut aku keliling nggak ada apa-apa, kan?" lanjut Ridho lagi.


"Iya, tapi kita nggak ngarang. Kalau aku sama Mona itu diganggu," ucapku.


"Yang bilang kalian ngarang siapa? kan aku bilang anggap aja perkenalan dari mereka, lagian emang setiap rumah pasti ada aja penunggunya. Apalagi rumah yang jarang ditempati pemiliknya. Hati juga begitu, Va. Kalau dibirain kosong lama-lama ada hantunya!" kata Ridho.


"Nggak lucu, Dho!" aku kesel, bisa-bisanya dia ngajak becanda disituasi kayak gini.


"Biar kalian nggak terlalu tegang!" jawab Ridho.


"Ya udah aku pulang ya, nggak ada apa-apa lan? udah jam 2 pagi. Kalian tidur aja lagi!" ucap Ridho yang mau jalan ke ruang tamu. Tapi buru-buru aku cegah.


"Nggak boleh, Dho! kamu nggak boleh pergi!" kataku.


"Iya, Mas! jangan pergi, nanti kalau setannya muncul lagi gimana?" Mona menimpali.


"Kalian tulis aja di pintu, tidak menerima kunjungan setan gitu!" kata Ridho.


Plaaakk!


Aku tabok lengannya, "Jangan ngadi-ngadi!"


"Aww! iya iya, ih. Aku pulang dulu ambil baju baru aku kesini lagi. Nih liat aja bajuku udah basah kayak gini..." Ridho nunjukin keadaan bajunya yang emang basah banget.


"Nggak usaaah!" ucapku dan Mona bersamaan.


Dan jadilah Ridho manusia jadi-jadian. Dia pakai kaos aku yang oversize warna pink. Kalau Mona ngasih sarung dan celana pendek punya Ridho yang ternyata ketinggalan di kontrakan yang dulu. Dan pas packing pindahan kesini, disimpen sama Mona di tasnya. Sementara baju Ridho yang basah dijemur di luar kebetulan ujannya juga udahan.


"Udah sana kamu tidur lagi!" kata Ridho yang udah mastiin rumah udah terkunci. Mona udah balik ke kamarnya, udah tidur kayaknya.


"Tapi kamu beneran nggak pergi kan, Dho!" aku mastiin.


"Nggak, Sayang!" ucap Ridho yang ngebelai rambut panjangku dan meluk aku. Dia senderin kepalaku di dadanya.


"Harusnya kamu nggak nyewa rumah ini, Dho!" ucapku.


"Nggak ada pilihan lain, Va! kita butuh cepet, karena kan kontrakan yang lama mau diisi penghuni baru. Maaf, ya ... kalian ngalamin kejadian nggak enak hari ini!" ucap Ridho, dia ngelus kepalaku.


"Iya cuma adek kamu itu loh, dia penakut tapi sempet-sempetnya nakutin aku juga!" aku ngadu.


"Hahahah, ya gimana. emang dia parnoan juga, Va. Liat kucing aja dia teriak, apalagi liat setan!" kata Ridho.


Ridho nangkup kedua pipiku, "Masuk ke dalem, istirahat..."


Kalau ditatap begini melting banget nggak sih. Please, kadar gantengnya bisa dikondisikan, ya.


Ridho deketin mukanya dan...


Braaaakkk! pintu kamar Mona dibuka secara tiba-tiba.


"Monaaaaa?" ucapku yang menggagalkan rencana kangmas.