Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jalan Rahasia


Dan aku nggak ngeliat siapa-siapa.


"Kayaknya aku kurang enak badan apa, ya? suka ngerasa tiba-tiba dingin gitu!" aku ngomong sambil keluar dari lift.


Aku mulai nyari ruangan pak Gunawan manager HRD, dan kalau dipanggil-panggil kayak gini tuh bikin parno sebenernya. Bisa jadi aku dipanggil karena mau dikasih surprise, misalnya dikasih cuti selamanya alias di pecat.


"Dih amit-amit, amit-amit! nggak lah, paling dipanggil karena mau dimutasi ke divisi lain,"


Dan sekarang aku ini udah duduk di hadaoan pak Gunawan dengan wajah yang lumayan tegang.


"Saya dapat info tadi kamu sudah masuk kerja mulai hari ini, betul?" tanya pak Gunawan.


"B-betul, Pak..."


"Hem ... begini Reva, sebenarnya saya ikut prihatin dengan keadaan kamu. Yang sakit parah di usia semuda ini, pasti sangat berat, iya kan?"


Aku cengo, ngedengerin kata demi kata meluncur dari mulut pak Gunawan. Ini maksudnya gimana sih. Perasaan aku nggak sakit parah, aku kena baret kuku setan pas ilang di hutan bareng pak bos.


"Perusahaan ini membutuhkan karyawan yang prima dan bisa diandalkan, untuk itu dengan berat hati kami harus memberikan ini..." pak Gunawan menyodorkan dua amplop, satu amplop cokelat yang agak tebel dan yang satu amplop putih.


Dan aku pas aku baca, aku langsung lemes. Ya karena surat yang aku baca ini adalah surat pemecatan secara sepihak dari perusahaan. Dan yang di amplop cokelat itu isinya duit pesangon.


"Tapi saya..." aku nyoba buat jelasin, kalau aku ini cuma baret doang di pipi nggak mengidap penyakit aneh, berbahaya, atau pun menular.


"Kami tahu ini sangat berat, saya yakin kamu punya kesempatan yang lebih baik di luar sana..." kata pak Gunawan.


Ya udah aku nggak bisa apa-apa, aku keluar ruangan itu dengan hati yang berdarah-darah. Diputus perusahaan itu lebih sakit daripada diputus sama pacar, ini menyangkut masalah kehidupanku ke depannya. Bayar kontrakan gimana, buat makan belum lagi ada cicilan kartu kredit yang udah pasti harus dibayar tiap bulan.


Lagian siapa sih yang bilang kalau aku sakit parah, siapa orangnya yang nyebarin berita nggak bener itu. Di dalem boro-boro aku bisa jelasin, pak Gunawannya aja nyerocos mulu. Kata-katanya kayak nyemangatin tapi ujung-ujungnya ya nyakitin. Tapi ya udahlah, aku bisa apa. Karyawan kecil kayak aku cuma bisa terima nasib, abis ini aku mau minta pertanggungjawaban aja sama si bos buat balikin wajah aku biar cantik lagi kayak semula. Paling nggak itu bisa jadi modal aing buat jadi super model, siapa tau!


Nah, pas aku lagi jalan di lorong, tiba-tiba nih ada tangan yang narik aku. Nggak tau setan atau manusia, aku belum pastiin soalnya otak aku masih ngelag.


"Heh? kamu kenapa?" ada suara-suara yang nanya.


"Pak bos?"


Tanpa nanya ini itu dia main ngajak aku jalan di lorong lain yang lumayan sepi yang nggak ada apa-apanya, kayak jalan buntu gitu.


"Kita mau kemana, Pak?" tanyaku.


"Ikut saja dulu," kata pak bos.


Ngapain nih orang kantor tapi malah nyasar ke sini, tapi aku ngeliat kayak ada lukisan dan dia selipin tangannya ke belakang lukisan itu. Dan yang tadinya aku kira tembok, ternyata bisa kebuka.


"Ayo masuk," pak bos narik aku lagi yang masih melongo.


Setelah kita masuk, pintu itu tertutup lagi secara otomatis. Dan lampu yang ada di ruangan ini mendadak nyala sendiri, kayak ada sensornya gitu.


Pak bos ngelirik tanganku yang pegang dua amplop. Dia ambil salah satunya, amplop yang warnanya putih. Dia baca apa yang tertera di surat itu.


"Oh jadi kamu dipecat?" tanya pak bos.


Moon maap, dia ngeledek atau emang niatnya mau nanya. Buat aku ini bukan sekedar 'oh'. Aku cuma ngelirik dia sekilas, tapi kayaknya dia tau kalau aku nggak suka sama ucapannya tadi.


"Bukan hal yang besar! nanti saya urus!" kata pak bos ngentengin banget.


Dia gandeng tangan aku lagi buat ngikutin dia ke salah satu kotak kayak kurungan yang terbuat dari besi.


"Mau kemana sih?" aku mulai protes.


"Ke ruanganku!" jawab pak bos sambil menekan beberapa digit angka. Dam kotak berukuran besar itu terbuka, kita masuk ke dalamnya.


Suwer aku baru tau ada ruangan kayak gini di kantor, emejing.


"Kalau ke ruangan Bapak tinggal pakai lift, kenapa harus repot-repot masuk ke dalam sini?" tanyaku.


"Haish, karena aku tidak ingin ada orang yang melihatku datang ke kantor!" jawab pak bos gregetan.


"Lah ini saya ngeliat, Bapak datang ke kantor!"


"Maksud saya, orang lain selain kamu!" kata pak bos dan memencet sebuah tombol. Dan sekarang kita seperti ditarik ke atas, aku yang kaget langsung meluk lengan pak bos.


Kalau lift kan ketutup ya, kita nggak liat gitu ngerinya ke bawah. Kalau ini beda cyin, ini aku bisa ngeliat langsung ke bawah mana makin tinggi kan ya. Tambah kenceng aku pegangin lengan kekarnya pak Karan.


"Astaga, kita cuma bergerak ke atas, kenapa kamu ketakutan seperti itu!"


"Astaga, Bapak. Ini lihat transparan gini, nakutin tau!"


"Ya kan memang design nya seperti itu! kau memang payah dalam hal seni!"


Disaat kayak gini sempet-sempetnya dia ngomong gitu coba. Dan tiba-tiba nih kotak berhenti. Dan pak bos ngajak keluar. Sekarang dia pencet angka lagi di depan sebuah lemari besar.


Dan emejingnya lagi mih lemari segede gaban kebuka jadi dua. Dan terlihat sebuah ruangan khusus gitu, lebih tepatnya kamar.


"Kita nyasar, Pak?" aku nanya sewaktu kita masuk ke ruangan yang emang kayak kamar.


"Ini ruangan pribadiku, kamu tunggu disini. Ada yang ingin aku ambil di ruang kerja..." pak bos ngebuka pintu yang ternyata terkoneksi dengan ruangannya.


Nggak lama dia balik lagi masuk ke dalam kamar rahasia ini.


"Aku baru tau ada ruangan seperti ini..."


"Ya karena kamu tidak pernah mengetahuinya! dan asistenku hanya sekedar tau ruangan ini tapi tidak dengan jalan rahasia tadi,"


"Lalu kenapa Bapak malah ngasih tau saya?" aku naikin satu alis, heran.


"Karena..."


"Karena apa?" desakku.


"Ya karena ... sudahlah! jangan banyak tanya! intinya apa yang kamu lihat tidak perlu kamu ceritakan pada orang lain,"


"Ya ya ya ya...." dah diiyain aja bos galak macam gini.


Walaupun kita sepupu tapi kalau di kantor kan emang dia bos, aku nggak bisa apa-apa. Eh, tapi kan aku udah dipecat ya. Berarti aku nggak usah nurut-nurut amat sama nih orang. Dasar bego!


"Karena aku udah dipecat, jadi aku..." ucapku menggantung saat melihat tatapan tajam adek sepupu yang galaknya ngelebihin aing maung.


...----------------...