
"Cara? cara apa maksudnya?" aku disini masih belum paham, otakku agak buffering bentar.
"Gimana kalau kita...." ucap Ridho menggantung.
"Kalau kita apa?"
"Kalau kita minta tolong bang Muklis buat jemput kita, biar nggak gempor jalan mulu!" kata Ridho.
"Hah?
"Iya, kan aku sempet minta nomor hapenya waktu di warung mbak Lu--" Ridho nggak jadi ngelanjutin ucapannya saat mataku tiba-tiba melotot.
"Kita tanya dia kapan jadwal bis pengangkut manusia dateng kesini?" lanjut Ridho.
"Jadi maksud kamu punya cara lain itu cara supaya kita nggak jalan kaki?" aku nanya serius.
"Yap! betul, Sayang!"
"Astaga, aku kira kamu ngagetin tadi itu karena kamu nemuin cara lain buat nolongin mbak Sena," aku geleng-geleng kepala karena jawaban Ridho nggak sesuai dengan ekspektasiku.
Tanpa menunggu lama, Ridho segera menghubungi kang ojek yang biasa mangkal di warungnya mbak Luri, cewek cantik penjaga warung kopi.
"Iya, Bang. Di tempat yang kemarin, bawa temen juga ya? oke!" ucap Ridho di telepon.
Setelah selesai ngomong sama bang Muklis, dia kantongin lagi hapenya.
"Bentar lagi dia kesini sama temennya, jadi kita tunggu disini aja. Karena aku ngasih taunya arah rumah bu Wati," ucap Ridho.
"Aku pinter, kan?" dia naik turunin alis.
"Heleh!" aku nyaut sambil muterin bola mata, males.
Tapi aku akui, dalam keadaan kayak begini otak Ridho itu cespleng. Dia bisa kepikiran buatinta nomer hape kang ojek segala dan akhirnya mempermudah jalan kita.
Ngemeng-ngemeng, aku udah pegel. Dan aku ngeliat ada pos Ronda gitu nggak jauh dari tpat kita berdiri.
"Dho, kita duduk disana aja gimana? kaki ku pegel!"
"Ya udah, yok!" Ridho gandeng tanganku dan jalan menuju tempat yang aku tunjuk.
Kan lumayan ya, bisa duduk bentar daripada berdiri terus.
"Dho, desanya sepi banget, ya?" tanyaku.
"Iya, emang! katanya rata-rata penduduknya khususnya kawula muda kayak kita ini pada merantau ke kota besar. Jadi yang tinggal disini rata-rata orang tua," jelas Ridho.
"Kok kamu tau banget?"
"Pernah diceritain sama Karla," sahut Ridho.
"Udah, nggak usah cemburu!" lanjut Ridho saat melihat perubahan ekspresi wajahku yang langsung asem.
"Idilah, siapa juga yang cemburu?" aku mengelak.
"Ya kamu dirimu lah, Sayang!"
Tuh kan main manggil sayang-sayang lagi, hati adek jadi meleleh Bang! Please, senyumnya dikondisikan dong, jangan terlalu menawan. Mentang-mentang namanya 'Ridho Menawan'.
Yang ditunggu pun akhirnya tiba. Bang Muklis dateng bersama satu teman sesama ojeknya. Nggak tau namanya karena kita juga nggak nanya.
"Biasa ya, Bang!" ucap Ridho yang langsung mengambil alih motor bang Muklis.
"Santai aja, Mas!" jawab bang Muklis.
"Naik, Va!" Ridho nyuruh aku bonceng dia.
"Oh, ya. Kita mau nyari bis, kita harus ke terminal langsung atau bisa nyetop dimana gitu?" tanya Ridho setelah kita udah siap gas ngeng.
"Paling cepet jam 8 atau jam 9, Mas!" sahut bang Muklis.
"Lumayan juga ya nunggunya?" kata Ridho.
"Nanti saya yang belikan tiket bisnya, Masnya tinggal nunggu di warungnya mbak Luri. Lumayan kan bisa istirahat bentar, soalnya di terminal nggak begitu enak buat nunggu!" ucap bang Muklis.
"Oke deh, bang Muklis di depan ya. Saya nggak hafal jalannya," kata Ridho.
Dan lagi-lagi kita menuju warung favorit para kang ojek. Ya gimana nggak favorit, katanya kopinya enak dan juga harganya yang murah meriah ditambah lagi yang nyuguhin kopi orangnya cakep banget.
Selama di perjalanan yang aku nggak bnayak ngomong, karena emang pikiranku lagi mengawang-ngawang kemana-mana. Tapi dari kejauhan aku seperti melihat sesuatu putih yang bergerak di sekitar pohon.
"Ah, mungkin itu keresek putih yang kabur di tiup angin!" aku mencoba berpikir positif.
"Kenapa, Va?" tanya Ridho. Yernyata kuping dia tajem juga ya, padahal tadi aku ngomong agak lirih gitu.
"Pikiran janga kosong, jangan ngelamun! Kita lagi di daerah yang masih asing," Ridho ngingetin.
"Iya iya..."
Ya emang bener sih. Dimana pun kita berada, sebenernya kita jangan kebanyakan ngelamun. Apalagi di tempat umum, karena itu bisa menjadi kesempatan orang yang ingin berbuat jahat, amit-amit dah!
"Kamu tadi ngeliat ya, Va?" tanya Ridho tiba-tiba.
"Apa?"
"Yang tadi..." ucap Ridho nggak jelas.
"Yang putih-putih?"
"Iya, makanya aku bilang kan jangan kebanyakan ngelamun. Nanti yang ada kamu ngeliat yang aneh-aneh," lanjut Ridho.
"Udah, ah jangan bahas!" aku nggak mau ngebahas makhluk begituan di perjalanan kayak gini. Soalnya aing ngeri kalau tau-tau dia ngikutin kita.
Akhirnya, setelah pegel naik motor, kita sampai juga di warung. Bang Muklis turun dari motor begitu juga dengan abang ojek satunya. Kita yang sampainya belakangan, mulai memperlambat laju kendaraan sebelum akhirnya menghentikan motor di depan warung mbak Luri.
"Masnya tunggu disini aja, biar saya yang nyari tiketnya..." kata bang Muklis.
"Oh ya, Bang ini uangnya!" ucap Ridho sembari memberikan uang pada bang Muklis.
"Dan ini buat ongkos," kata Ridho nyodorin uang lagi, tapi ditolak sama bang Muklis.
"Nanti aja sekalian. Mau dianter ke terminal juga, kan?" tanya bang Muklis.
"Iya betul!" sahut Ridho.
"Ya sudah kalau begitu, saya langsung ke terminal dulu, Mas! beli tiket!" kata bang Muklis yang langsung tancap gas meninggalkan kita bertiga di warung mbak Luri.
"Kita ngopi-ngopi dulu, Bang!" ucap Ridho menawarkan minuman panas buat abang ojeknya.
Buat perjalanan kesini semua pakai uang kangmas. Dia nggak ngasih kesempatan biar aku ngeluarin duit. Ntar ajalah aku nanya dia habis berapa, biar nanti aku ganti.
"Mau minum apa, Mas?" tanya seseorang yang menyebut kata 'mas' begitu lembut dan merdu.
"Kopi item, Mbak!" jawab Ridho sembari tersenyum.
"Kalau masnya apa?" tanya mbak Luri pada kang ojek.
"Sama, kopi juga!" ucap kang ojek.
"Kalau Mbak mau minum apa?"
"Teh pa-nass!" aku tekanin kata panas.
"Oh, teh panas. Ditunggu sebentar, ya..." ucap mbak Luri agak-agak merinding kaki ya ngeliat tatapan mata seorang Reva.
Setelah mbak Luri masuk, aku melayangkan lirikan tajam ke arah Ridho yang tadi sempet senyum mendadak langsung diem dan malah ngetukin jari di meja, ngalihin pandangan.
Udara malam ini begitu dingin, padahal menyentuh jam 7 aja belum. Dan itu bikin perut kita kruyukan. Akhirnya kita pesen mie instant, buat ngisi perut. Aku mie instant goreng dengan cabe rawit dan telor.
"Jangan pedes-pedes ntar bonjrot di jalan repot!" ucap Ridho yang nykngkirin semua cabe rawit yang ada di mangkokku.
"Oh ya, nama abang siapa? lupa saya belum nanya!" ucap Ridho sama kang ojek yang abis nyeruput kopi panasnya.
"Oh, saya? saya Perdi, Mas!"
"Oh, Ferdi?"
"Bukan Ferdi, tapi Perdi, pakai huruf P bukan F," kata kang ojek.
"Oh iya ya, Bang Perdi!" ucap Ridho.
"Bang Perdi nggak pesen mie juga? tenang aja, saya yang bayarin!" Ridho nawarin kang ojeknya buat pesen makanan.
"Nggak, Mas! saya makan di rumah aja, bentar lagi saya juga mau pulang. Istri saya biasa masak buat makan malam, kalau saya makan di luar, nanti perut saya bisa mbledos..." sahut bang Perdi.
"Loh kok bisa?" Ridho ngerutin kening.
"Ya kan saya harus makan lagi di rumah. Istri dah capek-capek masak, kalau nggak dimakan bisa ngamuk, Mas!" jelas si kang ojek. Ridho cuma bisa 'Oh' doang.
"Untung kamu nggak bisa masak ya, Va. Jadi nggak bakal ngamuk kalau aku makan di luar," bisik Ridho.
Dan seketikaaa aku cubiiit pinggangnya.
"Aaaaaawwwwww!" Ridho meliuk setengah geli.
...----------------...