Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kita Pergi Saja


Mungkin karena aku terlalu lelah, akhirnya aku ketiduran. Dan pas aku buka mata kok ngga ada Ridho. Kemana nih suami tampan aing?


Ya Allah tega bener nih suami ninggalin aku sendirian di tempat asing.


"Mass? Mas Ridho?" aku mencoba bangun.


Dan paa akunya mau bangun, Ridho sekonyong-konyong dateng dengan air mineral di tangannya.


"Loh udah bangun? baru aku tinggal bentar," kata Ridho yang bantu aku buat duduk. Dia kasih bantal di punggungku biar aku duduk dengan nyaman.


"Tega banget sih aku ditinggal? kalau aku digondol setan gimana?" aku ngedumel.


"Aku kebelet pipis, Sayang. Nggak mungkin aku tahan-tahan kan? sekalian tadi aku ngambil duit di mobil buat beli air mineral ini, aku haus..." jelas Ridho.


"Kita pergi aja yuk? kita ke rumah pak Sarmin, kita minta tolong dia aja..." ucapku.


"Kita minta tolong sama orang yang bener-bener kita kenal aja, Mas. Kayaknya nenek tadi seperguruan sama nenek Darmi, dia makenya ilmu kayak gitu..." lanjutku.


"Kamu bener-bener udah kuat? katanya kamu sebentar lagi mau melahirkan, aku khawatir kalau kita pergi ada apa-apa sama kamu di jalan gimana? saat ini aku sih nggak begitu mikirin siapa yang berbuat jahat sama kita, aku cuma mikirin gimana kalau kamu melahirkan di jalan..." ucap Ridho.


"Aku dapet info dari waruh depan sana, waktu aku beli air ini. Jadi nenek itu, nenek Yuna. Nenek Yuna itu ibunya bu Nela. Dulunya nenek Yuna ini dukun beranak, dan sekarang dia biasa ngebantu bu Nela dengan kasih perkiraan waktu kelahiran jika bu Nela sedang menolong persalinan," jelas Ridho. Nggak nyangka suamiku ini bisa banget ngorek info dari orang.


"Perkiraan waktu?" aku bergumam.


"Maksudnya dia kayak bisa memprediksi waktu kapan si ibuk yang ditolong bu Nela akan melahirkan anaknya gitu?" aku memperjelas pertanyaanku.


"Ya kira-kira seperti itu," ucap Ridho.


"Kita lanjutkan perjalanan aja, Mas. Aku nggak nyaman di tempat ini,"


"Tapi nenek Yuna bilang kan kalau---"


"Nenek itu kan cuma bilang sebentar lagi mau melahirkan, bukan hari ini mau melahirkan kan?" aku serobot ucapan kangmas.


"Kita pergi sekarang aja, yuuk?" aku merengek sama Ridho.


"Ya paling nggak kita pamitan dulu sama bu Nela. Nggak enak kan kita main pergi aja?" kata Ridho.


Ya ada benernya juga sih, secara kita udah ditolong. Nggak sopan juga kalau main kabur aja.


Aku keluar dari ruangan tempat aku istirahat tadi. Niatnya kita mau nungguin bu Nela pulang di kursi teras depan.


"Kalian mau kemana?" tanya nenek. Ngagetin bae sumpeh.


"Mau duduk di teras, Nek..." ucap Ridho.


Tapi si nenek nggak ngejawab, Ridho dan aku lanjut jalan ke depan. Sebenernya rasa sakit itu datang lagi. Iya sakitnya itu semakin sering dan bertambah. Tapi aku diem aja, aku tahan aja. Kalau aku ngeluh sakit, pasti Ridho nggak bakal ngabulin buat pergi dari sini.


Kita berdua duduk, ternyata diikutin sama si nenek.


"Sifat keras kepala mu itu yang sering membuat kamu dalam masalah. Tapi kamu selalu mengelak dan tidak mau sadar diri," ucap si nenek yang datang dengan tongkatnya.


Aku menatap nenek itu, "Masih beruntung kamu memiliki suami yang mau mengerti. Tapi sebaik apapun suamimu kalau dia menghadapi istri yang keras seperti mu rasanya lambat laun dia akan jenuh juga..." si nenek khotbah mulu daritadi.


Udahlah makin pengen cepet pergi akunya. Si nenek natap akunya garang banget loh. Kenapa sih aku selalu bermasalah dengan nenek-nenek, apa salah dan dosa ku ya Allah.


"Sebenarnya aku tidak begitu peduli jika yang akan dikorbankan istrimu, tapi anak itu masih suci. Tidak adil untuknya, jika dia harus pergi sebelum melihat dunia," ucap si Nenek.


"Karena aku pernah mengalami hal serupa. Tetaplah disini, paling tidak anakku bisa membantu kelahiran putramu..." ucap si nenek yang kemudian masuk ke dalam.


"Putra?" gumamku melihat ke arah si nenek. Perutku semakin lama semakin sakit, tapi kemudian mereda dengan sendirinya. Dia tau kalau anak yang aku kandung ini laki-laki.


"Tunggu, Nek. Ehm ... maafkan kami," ucap Ridho.


Si nenek berhenti. Dia duduk kembali.


"Jika kalian akan pergi menemui seseorang, silakan saja. Tapi tunggu sampai istrimu melahirkan. Setelah bayi itu lahir bawalah dia ke tempat yang akan kalian tuju," ucap nenek.


Dann bresss?!!


Siang ini yang tadinya cerah mendadak hujan.


"Masuklah ke dalam, diluar dingin!" ucap si nenek ketus tapi ada perhatiannya ternyata.


"Kita masuk dulu aja," ucap Ridho yang bantu aku masuk ke ruang tamu.


Nenek duduk di salah satu kursi, begitu juga aku sama Ridho yang ikutan duduk. Hujan di luar menahan kami untuk berada di rumah ini. Aku nggak tau apa rencana Tuhan, yang jelas aku hanya mengikuti alurnya aja.


"Ehm, sebenarnya siapa yang ingin mencelakai anakku?" ucapku, aku jadi penasaran siapa orang yang tega menargetkan anakku untuk dijadikan tumbal.


"Ambilkan kertas kosong, papan dan pensil, di meja dekat tivi di dalam..." nenek nyuruh kangmas.


Ridho mencari barang yang diminta oleh nenek Yuna. Dia kembali dengan sebuah kertaa hvs kosong dan pensil. Lalu kertas tadi dijepit disebuah papan. Nenek Yuna mulai orek-orekan nggak tau lagi nulis atau lagi ngapain. Yang jelas dia sesekali memejamkan matanya dan kemudian kembali fokus dengan kertas yang ada ditangannya.


Hujam semakin deras, lampu yang ada di ruang tengah mendadak mati kemudian nyala lagi.


"Mas?" aku cemas, Ridho memelulku. Angin dari luar pun masuk seakan ingin bergabung dengan kita yang ada di ruangan ini. Ya, rasa sakit itu datang lagi selama beberapa menit, aku cuma bisa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Perutnya sakit lagi, Sayang?" tanya Ridho, aku cuma bisa menggeleng.


Sedangkan nenek Yuna berhenti sejenak, dia mendongak ke atas. Mengamati lampu dan keadaan sekitarnya.


"Tutup pintu dan jendelanya!" suruh nenek pada Ridho.


Ridho yang mendengar itu segera melakukan apa yang disuruh nenek Yuna. Dia menutup pintu dan jendela yang terbuka.


Nenek Yuna kembali mencorat-coretkan pensil di atas kertas, walaupun aku bisa menangkap raut wajah yang nggak biasa yang terpancar dari nenek


"Sebenarnya apa yang nenek itu lakukan?" gumamku dalam hati.


"Selesai," ucap nenek. Dia menghela nafas, setelah menaruh pensil di atas meja. Dia masih saja memegang papan coklat itu.


Ridho datang dan duduk disampingku. Nenek kemudian menatap kami berdua secara bergantian.


"Apakah kau mengenal wajah orang ini?" ucap nenek menyerahkan kertas beserta papan yang dia pegang pada Ridho.


Sedangkan aku yang penasaran pun langsung merebut papan itu dan menggelang nggak percaya, "Nggak mungkin dia..." ucapku yang kemudian menatap suamiku.