
Tangan atau apapun tadi hilang sewaktu Ridho buka pintu mobil dan menggendongku keluar.
"Kamu duduk dulu. Biar aku ketok pintunya..."
Ridho ngetokin pintu sambil berulangkali mengucapkan salam. Jangan bilang pak Sarmin dan bu Ratmi lagi pergi ke luar kota terus kita jadi sia-sia gitu kesini.
Lagi galau begitu tiba-tiba ada yang jawab salam Ridho, "Waalaikumsalam," ucap seorang pria. Kemudian pintu dibuka.
Dalam hati aku langsung lega, akhirnya ketakutanku nggak terjadi. Pak Sarmin keluar. Ridho langsung menyalami tangan pak Sarmin.
"Nak Ridho, Reva?" pak Sarmin menautkan alisnya. Apalagi melihat aku yang sedang hamil.
"Astaghfirullah!" pekik pak Sarmin. Aku dan Ridho saling pandang.
"Cepat, cepat kalian masuk. Sudah maghrib, tidak baik wanita hamil berada di luar..." ucap pak Sarmin.
Ridho mau siap-siap ngegendong, tapi aku menolak, " Malu, Mas. Aku bisa jalan pelan-pelan..." kataku.
"Ya udah, tapi kalau sakit banget kamu bilang ya..." kata Ridho.
Aky ngangguk pelan, "Iya ... arghh," aku mencoba untuk berdiri dan pelan-pelan masuk ke dalam.
Firasatku makhluk bertanduk yang ada di rumah nenek Yuna, pasti ikut sampai sini. Aku berjalan pelan-pelan, dan duduk di ruang tamu sedangkan pak Sarmin langsung menutup pintu.
"Buu ... Bu ... ada Nak Ridho dan Nak Reva..." seru pak Sarmin.
Bu Ratmi keluar dengan memakai mukena, "Eh, ada Nak Ridho, Reva?"
"Nak Ridho, Reva, kami sholat dulu. Sudah waktunya sholat maghrib," ucap pak Sarmin.
"Kami ikut, Pak!" ucap Ridho.
Dan mungkin pak Sarmin dan bu Ratmi yang aslinya mau sholat di masjid, nggak jadi perkara ada aku sama Ridho yang menclok ke rumah mereka. Setelah beraih-bersih, kita semua berjamaah di ruang tengah.
Saat aku mengucapkan takbir, nggak tau kenapa pundak bagian kananku kerasa sakit. Aku disuruh Ridho sholat sambil duduk di kursi. Karena Ridho khawatir perutku tambah sakit kalau aku maksain sholat kayak biasanya.
Perasaan mulai nggak enak. Tapi aku lurusin niat, mencoba untuk khusyuk.
Pas kita udah ngucapin salam tiba-tiba ada yang gedor pintu nggak sabaran.
Brakkkk!!
Brakkkk!!
Brakkkk!!
"Rev, Revaaa, arrrghh!!" suara laki-laki.
"Revhaaa, buka pintunya?!!" laki-laki itu menggedor lagi.
Aku yang mau bangkit dicegah Ridho, "Kamu disini aja. Jangan keluar,"
"Disini saja sama ibu," ucap bu Ratmi.
"Tapi Bu---"
"Biar Bapak dan Ridho yang ngecek siapa yang ada di luar," kata bu Ratmi.
Brakkkk!!
Brakkkk!!
Brakkkk!!
Dan pintu pun dibuka entah sama Ridho atau pak Sarmin.
"Astaghfirullah, Nak Karan?!" seru pak Sarmin.
Aku yang mendengar nama pak Karan pun bangkit dari Kursi dan berjalan dengan susah payah ke arah ruang tengah.
Aku hanya bisa menutup mulutku melihat keadaannya yang sangat mengenaskan.
Dia mendongak, "Syukurlah kamm-mu tidakh apa-apa," ucapnya sambil memegang dadanya, dia menahan sakit.
"Kamu kenapa?" ucapku yang khawatir dengan keadaan pak Karan.
"Bantu Bapak angkat pak Karan," ucap pak Sarmin pada Ridho.
Sekarang pak Karan rebahan di kursi panjang, bu Ratmi datang dengan membawa bantal.
Bu Ratmi meletakkan kepala pak Karan di atas bantal. Sedangkan Ridho yang akan keluar dicegah pak Sarmin
"Jangan keluar, Nak! diam dulu di dalam, ada sesuatu yang buruk menunggu di luar," ucap pak Sarmin.
Pak Sarmin masuk ke dalam dan membawa dua alqur'an, dia menyuruh Ridho untuk bersuci lagi. Lalu mereka duduk dan mulai membaca ayat-ayat suci alqur'an.
Mata pak Karan nampak sayu, diaelihat ke arahku. Namun tak ada yang bisa aku lakukan. Aku nggak bisa mendekat, karena aku akan melukai hati Ridho. Aku hanya bisa menatapnya penuh penyesalan.
Aku menyesal dengan semua yang terjadi. Coba aja aku nggak marah waktu dihina pak Dera. Coba aja aku masih ngejalanin tuh perusahaam, pasti adek sepupu nggak bakalan tuh mutusin kerjasama sama pak Dera. Dan kejadian kayak gini nggak akan pernah kejadian.
Pak Karan mengedipkan matanya pelan, seakan ngerti apa yang ingin aku sampein. Air mata begitu saja keluar dari kedua mataku. Aku nggak bisa ngeliat dia sengan keadaam kayak gini.
Semakin lama, pak Sarmin semakin mengeraskan suaranya. Dia semakin cepat membaca ayat demi ayat yang membuat situasi semakin mencekam.
"Uhuukkk," pak Karan terbatuk. Dia emngeluarkan darah lagi.
Aku yang melihat ada jas pak Karan yang sempet aku pakai waktu pertama kali datang pun segera mengambil jas buat ngelap mulutnya adek sepupu.
"Maaf ya Dho. Aku cuma membantu sebagai bentuk rasa kemanusiaan," batinku.
"Apa sesakit itu?" tanyaku pada pak Karan. Aku benerin lagi posisi kepalanya. Pak Karan cuma kasih seulas senyum tipis.
Bu Ratmi datang dari dalam membawakan air teh hangat dan juga baskom dengan sebuah handuk kecil di dalamnya. Ia meletakkan kedua benda yang dia pegang itu di meja, di hadapan pak Sarmin.
Aku kembali ke kursiku, dan melihat ke arah pak Karan yang lagi terbaring lemah. Gimana bisa dia nyetir sendirian dan nyampe kesini dengan keadaan kayak gitu.
"Aaaaaauuuuuuuu..." ada suara auman dari luar pintu.
Melihat wajahku yang cemas, bu Rai mendekat. Dia duduk disampingku dan memegang tanganku.
"Aku takut mereka, mereka mau mengambil anakku, Bu..." ucapku pada bu Ratmi.
"Pasrahkan semua pada Allah, Nak. Berdoa semoga Allah melindungimu dan calon anakmu,," kata bu Ratmi.
Sementara suara auman itu kembali terdengar. Astaga, sebenarnya makhluk macam apa yang ada menunggu kami di luar.
"Aarrrgh," pak Karan sesekali memekik. Dia memegang dadanya.
"Kamu kenapa, Nak?" ucap bu Ratmi yang melihat pak Karan terus saja memegangi dadanya.
"Panaaaasss, Bu. Panasssss, tolonggg sayaaaa..." ucap Pak Karan dengan mata yang melotot. Tangannya kini mencengkram kemejanya sendiri.
"Iya, Nak. Tahan sebentar..."
"Pak, Bapak. Bagaimana ini?" bu Ratmi panik.
Aku yang melihat bu Ratmi panik ikutan panik, perutku sekarang kembali menegang dan sakit. Tapi aku juga cemas dengan keadaan adek sepupu yang memprihatinkan.
"Bu, tolong. Ssaakit sekali, Bu..." ucap pak Karan. Aku memaksakan diri buat berlutut. Menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
"Bu, tolong sepupu saya, Bu. Pak, Pak Sarmin?" aku menatap bu Ratmi dan pak Sarmin secara bergantian.
Pak Sarmin dan Ridho terus saja membaca ayat demi ayat yang ada dalam alqur'an. Mereka nggak menghiraukan aku maupun bu Ratmi yang udah panik melihat keadaan pak Karan yang semakin buruk.
"Hoeeeeekkk," pak Karan seperti ingin memuntahkan sesuatu. Tapi tidak ada yang keluar, dia terus saja mecengkram kemeja yang dia pakai.