
"Saya ikut nemenin Reva! tidak apa-apa, kan?" Ridho main duduk aja di kursi depan, sementara pak Karan ngelirik. Dia antara suka dan tidak suka.
"Bukankah ini hari kerja? jangan buat perusahaan merugi karena banyak karyawannya datang terlambat seperti kamu!" kata pak bos.
"Sayangnya saya bukan karyawan anda lagi, Pak! iya kan, Va?" Ridho nengok ke belakang sebentar sambil ngedipin satu matanya.
"Buset dah, ini Ridho lagi kesurupan jurig yang mana ini? kok bisa mata kedqp-kedip begitu, astaga..." aku dalam hati, aku yang habis dikedipin pegang dadaku, takut jantungnya keliatan lagi jedag-jedug di dalem sini.
Nggak sengaja aku liat mata pak Karan ngelirik di kaca spion depan. Tatapannya nusuk banget, perasaan tadi baru dapet tatapan cinta dari kangmas lah ini langsung switch ke tatapan galak dari adek sepupu.
"Kok belum jalan, Pak?" tanya Ridho ngebuyarin suasana yang semula hening.
"Kamu kira saya supir?" pak Karan nyeletuk nggak enak.
"Ya sudah saya supirin kalau gitu," jawab Ridho.
"Ini jadi pergi atau nggak ya? kalau nggak, saya mau nonton drakor di kontrakan. Kayaknya itu lebih berfaedah daripada harus diem disini dengerin dua orang yang berdebat nggak ada habisnya!" aku nyerobot sebelum dua orang ini adu mulut lagi.
"Diam dan tetap duduk di tempatmu!" pak Karan akhirnya bikin nih mobil super nyaman bergerak membelah jalanan kota.
Aku liat Ridho duduk santuy banget sambil sesekali mainan hape, sedangkan pak Karan nggak ada omongan sama sekali, dia fokus nyetir.
Kling.
Ada satu chat dari Ridho.
📱Nggak usah tatap-tatapan! nanti kesetrum bahaya!
Astaga, darimana dia tau daritadi mataku dan mata pak Karan ketemu lewat kaca spion?
Aku liat di aplikasi itu kalau Ridho sedang mengetik...
📱Inget kalian sodara!
Aku cuma geleng-geleng kepala kayak orang lagi wiridan. Ya ampun ini makhluk nyebelin yang satu ini yang sudah menjelma jadi mas pacar ini posesifnya naudzubillah.
Aku balas chat-nya nih kutu kupret.
📱Nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh! jadi ini nih yang bikin kamu ngekorin aku sama pak Karan?
Ridho bales lagi hanya dalam hitungan detik.
📱Karena waspada itu penting!
Astaga, ada-ada aja nih manusia. Waspada apaan coba, udah jelas aku sama pak Karan sepupuan. Ngaco banget nih pikiran si kangmas. Kalau dulu mungkin iya, ada kemungkinan 0,1% buat aku ada affair sama pak bos. Tapi sekarang kan situasinya beda. Aku sama dia ada hubungan kekerabatan. Itu jelas nggak mungkin lah. Hadeuh emang ya kalau orang cemburu itu ya nggak pakai logika.
Lagian seandainya nih, seandainya loh! aku sama pak Karan nggak ada hubungan sodara, aku juga mikir-mikir lagi keles, buat ngejalin hubungan. Mana kuat aing ngadepin nih orang galak tiap hari, hipertensi yang ada. Otewe konsul dokter penyakit dalam, kan amsyong!
Balik lagi ke situasi mobil sekarang ini ya. Pak Karan daritadi nyetir tapi nggak ngasih tau kita mau ke rumah sakit mana atau ke klinik mana. Aku cuma denger sesekali dia nerima telfon dari orang yang nggak tau siapa. Lagian dia jawabnya sekata-kata doang.
Dan akhirnya kita sampai di sebuah klinik yang mewah banget. Aku sih cuma bisa ndowoh alias melongo ngeliat nih bangunan. Anjir, ini pasti klinik buat sultan dan sultini jagat raya. Keliatan dari bentuk bangunannya yang cantiknya bukan main, aku sih nebak pasti perawatan di dalem nggak bakal kaleng-kaleng. Dan yang pastinya harganya bisa bikin kita kejang-kejang.
Kita semua keluar dari mobil.
Ridho yang jalan di sampingku tiba-tiba nyeletuk.
"Aku mungkin nggak bisa ngasih kamu fasilitas kayak gini di dunia, tapi aku akan berusaha supaya kita dapat menggapai keindahan di kehidupan setelah ini. Kehidupan yang lebih kekal," ucap Ridho sambil menggenggam satu tanganku. Aku mengangguk.
"Tenang aja, aku bakal cari kerja lagi. Aku nggak akan biarin kamu hidup susah," lanjut Ridho.
Adeuh, tolong dong ini badan ditahan supaya nggak terbang! Ucapan yang serius kayak gini kok malah bikin hatiku meletup-letup kayak permen plethok. Itu loh permen yang bisa meledak-ledak di mulut.
"Reva, kau ikut dengan dia!" kata pak Karan ketika aku dan Ridho dateng nyamperin. Sekilas pak Karan ngeliat ke arah tangan aku dan Ridho yang lagi pegangan kayak orang lagi nyebrang jalan.
"Mari, Nona..." ucap salah satu pegawai di klinik itu, dengan senyum ramah.
"Tunggu bentar ya, Mbak?" aku ngomong sama perempuan yang pakai tanda pengenal 'Lira'.
"Maaf, tapi muka saya nggak bakal dioperasi plastik kan, Pak?" aku nunjuk pipi yang ada bekas lukanya.
"Tidak. Kalau mereka tidak khilaf maksudnya!" kata pak Karan.
"Muka saya sudah cantik, Pak! kalau harus di operasi mending saya obatin sendiri aja,"
"Nggak bakal dioperasi, luka kayak gini mah!" Ridho nyoba nenangin.
"Sudah sana, masuk! saya sudah bayar mahal untuk menyewa klinik ini seharian," kata pak Karan.
"Mari, Nona..." ucap mbak yang namanya Lira, sambil mendorong badanku pelan buat ngikutin dia
"Dhoooooo..." aku nengok ke belakang buat minta pertolongan.
Bukannya nolongin, Ridho malah dadah-dadah coba. Menyebalkan sekali.
"Mbak ini nggak bakal diapa-apain, kan? maksudnya, ini cuma diobatin gitu kan?" aku nanya sama orang yang sekarang bawa aku ke sebuah ruang perawatan. Bukannya ngejawab, nih perempuan cuma senyum.
Aku disuruh pakai baju khusus dan tiduran di tpat yang sudah di sediakan. Aku sempet ditinggal sendirian di ruangan, katanya dia mau ngambil apa gitu di luar. Aku nurut aja tiduran anteng, tapi pas aku liat ke pojok nggak sengaja aku liat bayangan seorang wanita dari pantulan kaca dari sebuah lemari.
Aku langsung bangun dari posisiku dan berniat buat kabur. Tapi ada tangan seseorang yang menyentuh kulit pundakku.
"Anda mau pergi kemana, Nona?" ucap seorang wanita.
Deg!
Jantungku berdebar.
Aku lantas nengok ke belakang, dan aku ngeliat "seorang wanita yang memakai snelli.
"Hhhh, hhhh aku kira siapa..." aku bernafas lega saat aku tau yang ada di belakangku ini dokter dan bukan setan.
"Kita mulai perawatannya sekarang," ucap si dokter wanita, sambil menepuk bantal nyuruh aku buat tiduran lagi.
Dan dengan pasrah aku menuruti apa yang dia perintahkan.
...----------------...