Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kunti Habis Syuting


Aku balik ke kamar dengan perasaan yang acakadut. Disatu sisi aku bahagia, karena ternyata selama ini Ridho selalu memperhatikan aku, walaupun secara diam-diam kayak penguntit amatir. Tapi disatu sisi aku juga kecewa, kenapa dia nurut aja apa yang dibilang pak Karan. Kenapa dia nggak bawa kabur aku? Terus kalau dia nggak denger kabar aku mau kawin, sampai kapan dia bakal sembunyi terus? Sampai aku nunggu dia jadi direktur apa gimana?


Pak Karan itu bukan bapakku yang bisa ngatur siapa yang pantes san nggak pantes buat aku. Karena dia orang berduit? Ya aku akui, duit nya banyak dan perusahaan yang sekarang aku pimpin juga dikasih sama dia. Hidupku membaik, bahkan jauh lebih baik. Tapi kalau dengan itu aku menukar kebersamaanku sama Ridho, aku mending nggak nerima itu.


Aku duduk di sofa mencerna semua hal yang terjadi dua tahun belakangan ini.


Terlalu banyak informasi yang aku terima saat ini, membuat sel-sel otakku yang speknya udah bertambah kok ya mendadak ndat ndet lagi.


"Dia sudah bertindak diluar batasannya..." ucapku.


"Aku terluka saat itu bukan karena Ridho. Bahkan Ridho nggak tau menau soal kaburnya aku sama Mona dari rumah pak Karan..." aku ngoceh sendiri.


Saat itu aku nggak pikir panjang Mona, aku refleks aja lari ngelindungin Mona dan Bara saat Vena udah mengayunkan balok itu dengan wajah penuh dendam kesumat. Ibarat kata, kalau terjadi seauatu sama aku ya itu salahku sendiri


Udah cukup puyeng hari ini, apalagi kalau kepikiran kalau aku bakal dilangkahin adek kandung sendiri, tambah ruwet pikiranku.


"Ravel, Ravel,asih kuliah kok udah ngebet kawin!" aku lepasin heels yang aku pakai dan bersiap menuju tempat tidur.


Rebahin badan bentar, tapi pas mau ngeliyep tiba-tiba aku keinget sesuatu, "Ya ampuun!" aku main lompat dari tempat tidur.


"Aku kan kesini bukan mau liburan, aku kesini mau ngambil hape sama dompet!" aku keluar dari kamar tanpa alas kaki.


Tok!


Tok!


Tok!


"Dho, buka, Dhooooooo!" aku setengah teriak.


"Aiiihh kenapa malah nggak dibuka, siiih?Jangan-jangan nih si Ridho masih di tempat kita buat makan tadi?" aku kesel banget.


Diluar dingin banget, karena kamar kita konsepnya cottage gitu dan pas buka pi nu ya udah langsung ketemu dunia luar yang remang-remang.


Dari arah belakang, aku denger ada orang yang mau ke arah sini. Pas nengok ke belakang, "Aiihhhh, ini mah mbak Kun lagi cari mangsa, ya ampun ini kan bukan maljum! dia salah jadwal apa gimana sih," aku bergumam lirih, saat diriku ngeliat satu sosok serba putih, muka pucat lengkap dengan lingkaran di sekitar mata yang menghitam.


Aku diem aja, pura-pura jadi patung selamat datang. Nggak gerak sama sekali, mata juga nggak lirak-lirik. Diem aja udah, sampai dia ngelewatin aku.


Tapi nggak disangka-sangka, noh dibelakangnya ada yang terak gini, "Liiiiis, Liliiiiiis. Tunggguin atuh, ini aku ribet banget iniiiiii!" ucap salah seorang wanita yang memakai pakaian serba putih dan rambut panjang dengan blepotan warna merah dimana-mana, dia nyingcing pakaiannya yang over size.


"Tauk nih si Lilis, main tinggal-tinggal aja, susah nih gue!" ucap laki-laki mirip setan lolipop.


"Aku udah kebelet, gengssss!" ucap wanita yang aku sangka sebagai kunti, dia ngibrit.


Dan dibelakang setan-setan amatir ini ternyata ada beberapa kru datang menyusul membawa beberapa perlengkapan.


Mereka ngelewatin aku gitu aja.


"Itu si teteh lagi ngapain, kok bengong gitu, Lis?" tanya salah seorang wanita setelah agak jauhan.


"Terpesona kali sama muka gue!"


"Mana ada cantik, yang ada muke lu nyeremin!" celetuk cowok yang lagi nyamar jadi hantu poci.


"Untung pak Sutra nggak minta yang aneh-aneh jadi jam segini udah kelar aja," ucap salah seorang pria yang menggunakan kemeja lengan pendek warna hitam.


Aku masih mematung, sampai ada seseorang yang bikin aku kaget setengah metong!"


"Lagi ngapain kamu, Va?" tanya Ridho yang nongol dipintu.


Aku puter badan, "Hah?"


"Kamu ngapain berdiri disitu?"


"Ng, nggak apa-apa..." jawabku.


"Diluar dingin, sini masuk!" ucap Ridho main narik aja.


Baru deh setelah masuk ke dalam kamar yang hangat ini aku bisa bernapas dengan sangaaaaat lega, "Hiuuuuuuuffhh,"


Aku geleng kepala, "Diketuk pintunya, lama banget bukanya?" aku protes.


"Lagi di kamar mandi, Va!" ucap Ridho yang kayaknya seneng banget aku datengin.


"Jadi, kamu kesini buat nemuin aku?" lanjutnya.


"Iya, aku mau ambil tas, hape sama dompet!"


Aku tadahin tanganku di depannya, "Sini balikin, jangan coba-coba ingkar janji ya?"


"Ck, kirain kamu kesini khusus mau kangen-kangenan sama aku, Va. Ternyata kangennya sama tas!" Ridho balik badan, mukanya kecewa gitu.


Aku juga pengen ngunyel-ngunyel kamu, Dho. Peluk kamu juga. Tapi kalau gitu terlalu enak buat kamu.


"Nih," Ridho ambil tasku dari dalam lemari.


"Aku cek dulu, ada hapenya nggak. Ntar diumpetin lagi," kataku sambil ngebuka dan ngabsenin apa aja yang di dalem sana.


"Oke, lengkap. Jadi kita pulang sekarang" tanyaku.


"Kamu mau kita langsung pulang?" tanya Ridho mastiin.


"Iya sesuai perjanjian awal," kataku dingin.


"Y sudah, tunggu deh. Aku siap-siap dulu," kata Ridho nggak mau ngebantah.


.


.


.


Malam ini kita akhirnya pulang lagi. Jadi aku sama Ridho ke cottage itu cuma buat makan makanan seuprit, dan perutku yang nggak tau diri ini mendadak bunyi lagi.


"Kamu laper?" tanya Ridho.


"Nggak," ucapku singkat.


"Kalau laper makan aja lagi, Va. Aku akan cari makanan di sekitar sini..." ucapnya.


"Nggak usah, aku pengen cepet pulang..." ucapku.


Tapi lagi-lagi, si perut menghianati majikannya sendiri. Dia bunyi dengan suara yang lebih keras.


Krruuuuuuuuuukkkkkkk!


"Tuh kan, mulut kamu bisa bohong tapi nggak dengan lambung kamu. Mumpung masih banyak yang jual makananan kita brenti sebentar..." ucap Ridho.


Dia celingak-celinguk. Di tempat dataram tinggi kayak gini banyak banget yang jual jagung bakar.


"Tuh ada jagung bakar, mau nggak? atau mau jagung rebus?" tanya Ridho.


"Ya,"


"Ya apa? bakar apa rebus?" tanya Ridho.


"Bakar," ucapku.


"Tunggu disini, biar aku turun buat bilabg ke abangnya. Inget, jangan kemana-mana..." ucap Ridho yang melepas jasnya dan ngasih ke aku, sedangkan aku nautin dua alis bingung.


"Ini biar kamu nggak kedinginan," ucapnya sebelum keluar dari mobil.


Saat Ridho keluar, aku nutupin badan pakai jas yang dikasih Ridho tadi. Lumayan jadi agak anget, "Dasar perut malu-maluin. Biasanya juga nggak makan malam nggak apa-apa. Kenapa juga dirimu bunyi dengan suara fals kayak tadi? aiiishhh, nyebelin!" aku marahin perutlu sendiri.


"Aduuuhh, laperrr..." aku pegangin perut yang nggak enak banget rasanya.