Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Lagi Irit Ngomong


"Kalau bukan sodara ya kita orang lain, Pak! lepas, Pak. Engep saya nya! uhukkk, Bapak kalau mau bikin saya metong nggak gini caranya," aku puk-puk punggung pak Karan.


Bukannya ngelepasin, dia malah tambah kenceng meluknya. Astagfirllah punggungku kayak ketiban apa gitu, bisa sakit banget.


"Akkkhhh!" aku nggak tahan gaes.


"Lepasin Reva, Pak!" kata Ridho yang nongol dan misahin kami. Pak Karan nggak banyak omong, dia cuma natap Ridho dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa, Dho?" aku cemas dengan keadaan Ridho saat ini. Mukanya babak belur, bahkan ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Kita pulang!" kata Ridho yang nggak mau dibantah.


"Aku yang akan mengantarnya!" kata pak Karan.


"Naiklah," kata pak Karan membuka pintu mobil.


"Tidak perlu, kita akan pulang sendiri!" Ridho langsung nyerobot tanpa memberi aku kesempatan buat ngomong.


"Ayo, Va..." lanjutnya.


Dia menggenggam tanganku, mengajak aku pergi dari rumah ini.


"Dho ... kita ke rumah sakit," kataku setelah sampai di gerbang depan. Ridho


"Nggak usah, kita pulang ke rumah aja. Ini luka kecil, atau kamu ada yang terluka?" Ridho ngomong agak beda, nggak kayak biasanya.


"Nggak ada," aku menggeleng, meskipun punggungku sakit. Tapi liat wajah Ridho yang begitu, sakitku kayaknya nggak ada apa-apanya.


"Itu mobilnya!" Ridho nunjuk sebuah mobil berwarna hitam. Ya, kita naik taksi online.


Selama di mobil, Ridho nggak banyak omong. Dia ngomong seperlunya aja. Tapi walaupun dia lagi irit ngomong, tangannya nggak pernah lepas dari tanganku.


Sekilas aku inget tadi abis dipeluk sama adek sepupu. Kata-katanya terngiang di kepalaku. Kalau otakku nggak salah mencerna, nih adek sepupu ada rasa gitu sama akikah yang emang terbukti terlahir dari bibit, bebet dan bobot kualitas premium ini. Tapi kan orang segalak dia masa iya ada rasa suka sama aku yang ucluk-ucluk ternyata punya hubungan kekerabatan sama dia. Dan kalau pun suka, pertanyaannya sejak kapan?


Kebanyakan ngelamun, Ridho nepok punggung tanganku buat nyadarin aku, kalau kita udah nyampe kontrakan. Setelah bayar ongkos, aku dan Ridho keluar dari mobil, ditani langit yang sudah berwarna jingga.


"Mona belum pulang, kamu hati-hati di dalam..." kata Ridho yang mau pergi aja. Tapi dengan segera aku cegah.


"Temenin, Dho. Aku takut setan yang tadi ngikutin sampai sini..." aku alesan.


Aku tunjukin muka memelasku, Ridho sempet buang nafas sebelum ngomong, "Ya udah,"


"Aku mandi dulu, nanti baru aku bikinin kamu minum," ucapku.


"Hemmm," Ridho cuma deh dengan muka yang asem.


Ridho duduk di ruang tamu, dia keluarin tuh hapenya. Dia mencoba menghubungi seseorang, nggak tau siapa.


Aku yang tadi mau masik kamar mendadak balik lagi ke ruang tamu, takut dia tiba-tiba pergi dan aku ditinggal sendirian disini. Sejujurnya aku masih trauma gitu.


"Udah mandi? cepet amat? nggak ganti?" tanya Ridho sambil ngerutin keningnya.


"Belum mandi, aku cuma mau bilang. Jangan kemana-mana, aku nggak mau sendirian..." kataku.


"Iya..."


Tuh kan dia jawab sekata-sekata doang. Kenapa sih wahai calon suami?


Aku pergi ke kamar dan mulai ritual mandi. Punggung kerasa ngilu dan sakit kayak orang yang habis jatuh dari tangga atau apapun itu. Pokoknya sakit kayak habis kebentur. Karena penasaran, aku keluar kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Aku jalan ke arah kaca, aku miringin badan sedikit.


"Lebam?"


Aku ngeliat punggungku kebiru-biruan. Pantesan sakit banget. Buat senderan di kursi mobil aja sakit.


Aku jadi inget adegan pas aku ditangkep adek sepupu. Harusnya kan aku nggak ada luka memar.


Sekarang aku buru-buru ganti baju, aku takut kalau kelamaan nanti Ridho bete dan pergi ke kosannya.


Berbekal ilmu gercep, aku udah pakai baju santai. Celana jeans pendek dan kaos yang agak gedean, biar lega gitu.


Aku kelyar dari kamar dan ngecek ke ruang tamu, Ridho masih ada apa nggak. Ternyata si pujaan hati lagi meremin mata sambil duduk, kecapean mungkin.


Aku ke dapur buat bikinin kopi susu dan bawain dia cemilan roti kering. Oh ya, aku juga bawa baskom yabg siisi air anget dan juga anduk kecil buat bersihin lukanya Ridho.


"Masih tidur?" aku mengernyit. Tumben-tumbenan aku ngeliat Ridho tidur jam segini, waktu yang katanya dilarang buat merem. Mama sering bilang jangan tidur diatas jam 3 sore, nanti jadi linglung. Nah ini tuh udah jam 5, tapi Ridho malah mejamin mata.


Aku taruh nampan berisi kopi dan teman-temannya, dan mulai bangunin Ridho.


"Dho ... bangun, Dho..."


Aku goyangin badannya biar cepet melek.


"Iya..." suara berat Ridho nyapa telinga, uh sungguh seksoy sekaleeh.


Mendengar suara Ridho aku jadi lupa kalau tadi aku sempet jadi mainan setan. Kejadian horor tadi berasa lenyap gitu aja, fix ini aku udah dijampi-jampi sama si manusia kupret ini. Kalau nggak, nggak mungkin kan aku terpesona segitunya sampai liat dia bangun tidur aja kayak liat oppa-oppa korea idola sejuta umat.


"Ada yang aneh? mingkem napa, itu nyamuk bisa masuk ke mulut kamu!" tanya Ridho, aku refleks mingkem. Dan ngecek kalau-kalau aku ngiler.


"Muka kamu kenapa? kok bonyok kayak gini?" aku megang sudut bibir Ridho.


"Aaawh!" dia mengerang kesakitan.


"Maaf, sengaja..." kataku.


"Kamu kenapa bisa bonyok begini?" aku nanya lagi, dan sekarang aku mulai ngebersihin mukanya pakai anduk yang udah aku peres.


"Habis ngelawan pengawalnya pak Karan..." ucap Ridho. Ngeliat mukaku yang nggak paham dengan ucapannya, Ridho ngelanjutin omongannya lagi.


"Mereka mencegah aku buat ngejar kamu, jadi aku pukul mereka satu-satu. Dan ternyata pacarku lagi enak-enakan pelukan sama sepupunya..." ucap Ridho sinis.


"Siapa yang pelukan?"


"Ya kamu lah, siapa lagi? kucing?" Ridho nggak mau kalah.


"Dia yang maksa peluk aku, bukannya kita sengaja pelukan!" aku gemes, dan aku teken afak keras dibagian memar di tulang pipinya.


"Aaawhhhhh! sakit, tau!" Ridho mengerang lagi.


"Sadis banget sih kamu, Va!" lanjut Ridho.


"Ya abisnya aku dituduh begitu..." aku lanjutin bersihin lukanya, tapi tanganku tiba-tiba di cekal.


"Kamu suka sama pak Karan?" tanya Ridho, wajahnya serius.


"Ngaco! Kepala kamu habis kena pukul apa gimana sih? kok jadi agak-agak mensle begini ya?" aku lepasin tamgan Ridho dan naruh anduk di baskom.


"Aku tanya sekali lagi. Kamu ada hati sama pak Karan? jawab aku, Va!" Ridho pegang kedua bahuku, menatapku dalam.


"Kamu aneh tau, nggak!"


"Jawab aja pertanyaanku tadi, Va! kamu suka atau nggak sama pak Karan?" desak Ridho.


"Emmmmh, aku...."


...----------------...