Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pernyataan Karla


Angin berhembus lumayan lama, dan selama itu juga si Ridho dipeluk Karla. Mataku udah panas liat pemandangan di depan aku itu, tapi aku nggak boleh cengeng. Aku nggak boleh nangis, lagian Ridho single di kasih perempuan yang bamper depan dan belakang yang oke banget pasti ya nggak bakal disia-siain.


Dan tiba-tiba saja, angin itu berhenti. Karla pun udah ngelepasin pelukannya dari Ridho. Kalau aku masih dipeluk sama pak bos, dan pak Karan kayaknya cuek aja tuh.


"Revaaa!" suara Ridho ngagetin akikah ulalah.


"Emh," aku melepaskan diri dari jas yang dipakai pak Karan.


"Terima kasih, Pak..." ucapku pada pak Karan.


"Saya akan mengecek keadaan di luar," ucap pak Karan.


"Saya ikut, Pak!" aku ngibrit di belakang pak Karan.


Tapi tanganku keburu di tarik Ridho dan aku kejengkang kebelakang, "Akkkh! Ridhooo! rese, deh!"


"Kamu disini aja, aku mau keluar!" ucap Ridho.


Baru juga aku mau bangkit, si Karla tiba-tiba nyerudug dan aku kejengkang untuk yang kedua kalinya.


"Aku juga keluar ya, Va!" kata Karla yang nyusul Ridho dari belakang.


"Ya ampun, mereka tuh beneran nyebelin!" aku ngosek dalem tenda. Pas ngelirik tas, aku bari inget kalau nyimpen tuh cincin di dalem tas. Aku ambil tas dan buka pocket kecil di dalemnya.


"Alhamdulillah masih ada!" aku pakai di jari manisku sebelah kiri yang nggak ada lukanya.


Ketika aku akan keluar dari tenda, tiba-tiba ada satu bisikan di telingaku, "Aku akan memilikimu secepatnya, seperti aku membawa Ilena! hahahhahaha"


"Shiiiiit!" aku yang kaget langsung saja merangkak keluar dari tenda.


"Hah ... hhh ... hhh, suara itu! nggak, dia nggak akan bawa aku ke alamnya! aku nggak akan kalah!" aku ngomong sambil ngos-ngosan, jantung berasa dag dig dug nggak jelas.


"Dhooooooo! Ridhooooo..." aku reflek manggil Ridho, tapi kok ini tenda sepi. Nggak ada orang.


"Pak Karaaan? Karlaaaaaa...!" aku panggil-panggil nggak ada yang nyaut.


"Mereka pada kemana, sih? gila ya bisa-bisanya ninggalin aku sendirian disini!"


Aku mencari pak Karan dan Ridho, kalau Karla nggak termasuk. Dia mau ilang disini juga sabodo amat.


Aku ngider dulu, nyari mereka. Doain aja aing nggak disasarin jurig.


"Ya Allah, semoga aku jangan ketemu yang aneh-aneh. Pleaseee..."


Aku jalan sesuai naluri aja, sambil inget-inget jalan yg aku lalui tadi. Dan ternyata pas aku papasan sama pak Karan.


"Ya ampun, Pak! darimana saja? saya daritadi nyariin, Bapak!" aku lega bisa ketemu sama pak Karan.


"Saya, ehm saya hanya berkeliling. Memastikan semua aman. Saya kembali dulu ke tenda, sebaiknya kamu jangan berkeliaran sendirian..." ucap pak Karan yang meninggalkan aku. Punggung pak Karan kian menjauh.


"Lah kenapa muka dia begitu?" ucapku yabg bingung dengan pak Karan yang mukanya datar dan lempeng aja ekspresinya. Aku angkat kedua bahu, mungkin dia lelah gaes.


Pas aku mau puter balik, aku denger ada suara orang lagi ngobrol. Tapi cuma sayup-sayup gitu, dan malahan itu yang bikin jiwa kepo ku merontah-rontah.


"Kayak suaranya Ridho," aku nengok dan mataku mencari sosok pria itu, tapi nggak ada.


Langit masih terang, aku berusaha mencari keberadaan Ridho di tengah hutan.


"Mana sih, Ridho!" ucapku sambil menyibak dedaunan yang menghalangi jalanku.


"Kamu nggak bisa nyangkal! aku bisa liat dari tatapan kamu itu, kalau kamu suka sama dia! terus? kamu anggep aku ini apa, hah?" aku denger teriakan Karla.


Perasaanku udah nggak enak, kaki ku aja udah gemeter.


"Tenang dulu Karla, kamu jangan teriakan begitu! istighfar, Karla..."


Aku melihat Ridho memegang kedua bahu Karla, rasanya aku hampir lupa buat sekedar napas.


"Tenang-tenang apa? kalau bukan karena Biyung dan kamu yang minta buat aku ikut kesini, aku nggak bakalan mau nyasar-nyasar ke dalam hutan terlarang ini, Dho. Kamu tau? Orang yang masuk kesini rata-rata mereka nggak akan pernah kembali, kamu ngerti nggak!" Karla semakin histeris.


"Tapi kan cuma kamu yang bisa terhubung dengan biyung dan nenek kamu, Karla. Biyung kamu udah mencoba menghubungi Reva tapi nggak berhasil, dia udah hilang selama 2 minggu. Dia temen aku dan juga temen kamu, aku nggak mungkin..."


"Nggak mungkin apa? hah? dia sendiri yang main pergi, dia sendiri yang nekat pulang dengan pak Karan. Awalnya aku emang bantu dia, tapi nyatanya apa? di rumahku aja dia seenaknya sendiri main ngilang-ngilang aja, sampe kita harus nyari dia kemana-mana, sekalinya ketemu dia main ngeloyor pergi..." Karla mukulin dada Ridho.


Disitu aku masih membatu, aku bingung dengan keadaaan. Ada hubungan apa mereka selama ini, dan apa yang aku nggak tau.


"Maafin Reva, dia itu emang ceroboh. Please, jangan kayak gini. Cuma kamu yang bisa membantu Reva saat ini, please ... dia harus menemukan air terjun itu secepatnya, dan itu hanya bisa dicapai dengan bantuan dari nenek kamu," Ridho melembut. Aku nggak rela banget Ridho pegang tangan Karla.


"Masa bodo dengan Reva dan air terjun itu. Aku tuh suka sama kamu, Dho! dan aku yakin kamu tau itu," ucap Karla bagaikan petir yang menyambar di siang bolong


Dan pernyataan dari Karla membuat aku shock, bener- bener shock parah. Hati udah nggak karuan rasanya, aku takut dengan jawaban Ridho. Karena sekarang Ridho menutup matanya sebentar sebelum akhirnya dia membuka matanya perlahan dan bilang, "Karla, aku tuh cuma nganggep kamu temen..."


"Apaa kamu bilang? temen? dengan semua perhatian yang kamu kasih kamu anggap aku cuma temen? sumpah, ternyata kamu itu breng-sek tau, nggak?" Karla natap Ridho tajam.


"Atau jangan-jangan sebenernya kamu bingung dengan perasaan kamu sendiri? iya?" lanjut Karla sambil nunjuk-nunjuk dada Ridho.


"Bingung? maksud kamu?"


"Kalau kamu nggak bisa nentuin siapa sebenernya yang kamu suka, aku atau Reva?"


"Karla aku..." ucapan Ridho menggantung.


"Oke, aku bantu cari tau!"


Dan tiba-tiba aja Karla menarik wajah Ridho mendekat padanya. Dengan beraninya Karla melakukan itu.


Aku yang terperanjat pun lantas berjalan mundur dan memutar badanku. Aku nggak bisa untuk melihat adegan itu lebih lama.


Kreeeekk!


Aku menginjak ranting pohon.


"Reva?" pekik Ridho. Aku pun berbalik. Aku melihat kedua tangan Karla yang baru saja diturunkan dari leher Ridho.


Aku gelagapan, "Sorry, aku tadi nyari kalian ... engh, aku ... aku nggak sengaja, sorry!"


Aku segera pergi meninggalkan mereka berdua. Aku berlari dengan buliran air yang keluar dari kedua mataku.


"Huaaaaa, kok aku malah nangis, sih? hik hik nggak boleh, nggak boleh nangisss..." aku lari sambil pegangin dadaku yang rasanya nyesek banget.


...----------------...