Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
jangan-jangan kita dikerjain sama makhluk yang ada disini, Pak?


Hanya ada suara petir yang mengiringi perjalanan kami. Matahari mulai bergeser ke arah barat menuju peraduannya, tapi kita berdua belum juga sampai. Sebenarnya aku canggung apalagi setelah adegan yang ulala syahdu itu.


"Pak?" aku manggil pak bos.


"Ya..."


"Apa bahan bakar mobil ini cukup untuk kita sampai di kota?"


"Masih ada setengah tank," jawab pak bos dingin.


"Pak?" aku manggil si gunung es lagi.


Pak bos berdecak, "Ada apa lagi?"


"Pak, kayaknya itu pohon yang tumbang tadi, deh! Bapak sadar nggak, sih? kalau kita daritadi mutar-muter disini terus?" aku mulai panik, aku menarik kemeja di lengan pak Karan.


Pak bos menghentikan mobilnya, "Ya kali ini sepertinya kamu benar, Reva! dan bahan bakar mobil ini semakin menipis,"


Aku takut badanku miring ke pak bos, "Duh, gimana nih, Pak? jangan-jangan kita dikerjain sama makhluk yang ada disini, Pak?" kata ku.


"Apa mungkin seperti itu? lalu kita harus bagaimana?" pak bos melirikku.


"Nggak tau! Pak, Bapak baca doa apaan kek gitu biar setannya nggak ngerjain kita terus," aku ngasih ide.


"Kamu saja,"


"Jangan-jangan Bapak nggak bisa ngaji kayak Ridho?"


Astaga, tuh kan nama Ridho lagi yang keluar dari mulut aing. Pak bos diem aja, bete kali karena secara nggak sadar aku banding-bandingin dia sama si manusia kamfret.


"Ini udah maghrib loh, Pak. Di luar masih hujan, ditambah kanan kini gelap semua..."


"Astaga Reva! alihkan pikiran kamu! jangan mengumpulkan hal negatif ke dalam otakmu itu," bentak pak bos sambil terus menyetir


Aku mepetin kepala ke pak bos, aku atut kali aja ada yang nongol di jendela, "Tapi saya takut, Pak..."


"Bagaimana saya mau menyetir dengan tenang, kalau kamu menempel terus?"


"Pak jangan ngebut-ngebut, Pak!" aku menarik-narik lengan pak bos.


"Terserah saya!"


"Ya ampun, Pak! saya masih lajang Bapak juga masih lajang, kalau kita metong disini kan kita gentayangannya tragis banget Pak! nggak ada yang nangisin,"


Pak bos mendorong kepalaku ke samping tapi aku maksa pegangin lengan dia, bodo amat!


Mobil yang sempat melaju dengan kencang kini bergerak dengan kecepatan sedang. Namun, tiba-tiba saja ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba menyeberang jalan, "Awassss, Pakkkkk!" aku menjerit histeris.


"Aarghhh," pak bos dengan cepat membanting stirnya, beruntung kita bisa menghindar dan nggak menabrak anak itu.


"Wait? anak? di jam segini?" aku ngomong dalam hati, kemudian aku menengok ke belakang sebentar sebelum aku semakin mepet ke pak Karan.


"Reva, duduk yang benar di kursimu!"


"Nggak mau, Pak!" aku menggeleng sambil ngekepin lengan pak bos.


"Astaga, apa dia tidak sadar?" aku mendengar gumaman pak bos yang sepertinya sangat frustasi.


"Apa? frustasi?" gumamku dalam hati.


Dan upsss!


Ternyata secara nggak sadar lengan pak bos menempel di tempat yang nggak seharusnya. Pantesan mukanya jadi merah begitu, ternyata squisy-ku nemplok sama dia. Aku pura-pura amnesia aja gimana?


Aku longgarin tanganku yang melingkar di lengannya, sambil mataku mengawasi jalanan yang minim pencahayaan. Mulutku komat-kamit baca apa aja yang aku bisa.


"Sial, bahan bakarku semakin menipis!" umpat pak bos.


"Terus gimana dong, Pak?"


"Kalau kehabisan ya kamu yang dorong!" jawab pak Karan enteng tapi muka tetep serius.


"Saya perempuan loh, Pak!"


"Memangnya kamu bisa nyetir?" tanya pak bos meremehkan.


"Berdoa saja, kita menemukan penginapan sebelum mobil saya kehabisan bensin!" ucap pak bos, bikin aku ketar ketir.


Dan 30 menit kemudian, hujan pun reda.


"Sepertinya ada penginapan di ujung sana!" tunjuk pak Karan yang melihat lampu menyinari sebuah plang bertuliskan Belle Femme.


"Bapak yakin?" tanyaku ragu.


"Setidaknya kita bisa beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan..." kata pak bos.


Baiklah aku menuruti idenya kali ini, nggak mungkin dia menyetir bolak balik tanpa istirahat, kan?


Akhirnya mobil pak bos melambat di depan hotel itu. Hotel yang lumayan besar dengan nuansa jawa.


"Ayo, turun!" pak bos mengajakku turun.


Aku membuka sabuk pengaman dan mengambil beberapa snack cokelat dan satu air mineral dengan botol kecil, lalu aku masukkan ke dalam tas selempangku, "Jaga-jaga kali aja laper!"


"Tunggu, Paaaaaak!" aku langsung ngibrit saat pak bos main pergi aja masuk ke dalam lobby hotel. Si pria galak itu memencet tombol kunci di mobilnya.


"Sugeng rawuh..." kata seorang receptionist wanita menyapa kami berdua.


"Selamat malam, kami ingin memesan dua kamar," kata pak Karan.


Aku berjinjit dan berbisik, "Bapak yang bayarin, kan?"


"Heeeemmm..." pak Karan cuma berdehem.


Alhamdulillah dia yang mau bayarin, soalnya aku belum gajian. Lagian sayang aja buang duit cuma buat nginep kayak gini.


Setelah mendapatkan kartu akses, kita langsung diantar oleh seorang pria.


"Silakan Tuan..." kata pria itu.


Aku mencoba menyamai langkah pak bos yang panjang, pokoknya aku nggak mau ditinggal. Suara gending jawa kuno menjadi musik yang sengaja diputar di hotel ini, biar vibes jawanya dapet kali.


"Silakan ini kamarnya, Tuan..." kata pria itu.


"Terima kasih..." ucap pak Karan. Dan pria itu meninggalkan kita berdua.


Pak bos memberikan satu kartu akses buatku, "Kamar kamu disebelah," dia menunjuk sebuah kamar.


"Pak, tapi kok saya takut, ya?"


"Astaga, jangan bilang kamu mau masuk ke kamar saya? oh, tidak bisa. Kamar kamu ada di sebelah sana. Dan satu lagi, jangan mengganggu karena saya ingin istirahat. Kalau mau lapar kamu bisa pesan makanan, nanti saya yang bayar!" ucap pak bos panjang lebar sebelum masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dari dalam.


"Ya ampuuun, galaknya itu loh bisa nggak ilang-ilang!" aku mengumpat si bos minim akhlak dari balik pintu berwarna cokelat itu.


Aku melihat lorong hotel yang sepi, semua lantai di hotel ini dilapisi karpet yang sangat empuk dan ada beberapa patung dari salah satu tokoh wayang yang sengaja di taruh di salah satu sudut di lorong ini.


Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam. Aku menyelipkan kartu di tempat berwarna putihbyang menempel di dinding, dan membuat semua lampu menyala secara berbarengan, begitu juga pendingin ruangan yang akhirnya berfungsi.


"Sepi banget nggak sih?" aku berjalan perlahan menuju ranjang.


Aku masih memperhatikan ke sekeliling ruangan yang cukup besar buatku. Aku duduk di tepi ranjang yang sangat empuk tanpa berniat melepaskan tas yang masih tercangkol di bahu ku.


"Pak bos mungkin bisa tidur, tapi aku nggak! aku nggak akan bisa tidur," aku ngomong sendiri sambil memeluk tas ku erat-erat.


"Aku harus telfon Ridho!" aku membuka tas dan mengeluarkan hape, tapi sejurus kemudian aku menutup tas kembali.


"Nggak bisa! aku kan lagi sebel dan marahan sama dia, masa iya aku minta dijemput? mau ditaruh dimana muka ku yang cantik ini? lagian dia pasti lagi sama Karla!" aku ngedumel sendiri.


Dan tiba-tiba...


Aku mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.


"Nggak mungkin suara kamar mandi di kamar pak bos, kan?" aku mendadak merinding.


"Ehem buat siapapun yang ada di ruangan ini ... kenalin aku Reva, aku model masa depan. Aku disini nggak ganggu, pak bos yang nyuruh aku nginep disini. Kalau kalian mau ganggu, ganggu aja bos aku itu, ya? dia ada di kamar sebelah..." aku ngomong sambil mata lirik kanan kiri.


...----------------...