Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nyari Sore


Kebiasaan Ridho yang bikin aku kesel itu, jarang ngabarin. Apa dia lupa fungsi hape itu buat apa? atau dia lupa kalau ini pacarnya lagi ditinggal di daerah orang.


"Kenapa sih, Mbak?" Mona yang penasaran karena aku daritadi kayak cacing kepanasan.


"Udah sore begini tapi kangmasmu itu belum ada kabar, kita disuruh nunggu disini sampai kapan gitu?" aku misuh-misuh.


"Mereka kan juga lagi ribet, Mbak!"


"Mon, dia tuh tinggal chat aku. Nggak nyampe 5 menit buat ngasih tau kalau dia sekarang posisinya dimana atau ngasih tau kita disuruh nunggu sampai besok, lusa taun depan atau 1 abad lagi!" kataku nggak mau kalah.


"Kamu coba telpon si Bara!" kataku nyuruh calon adik ipar.


"Hapenya mati, Mbak. Aku chat cuma centang 1, mungkin lupa ngeces!" kata Mona.


"Astaga, dasar laki-laki jahanam, mereka berdua sama aja. Sama-sama nggak bisa di hubungin," aku ngomel lagi.


"Mbak jangan ngomel mulu, Mona pusing tau!"


"Daripada kita puyeng, mending kita jalan di sekitar sini aja, Mbak!" usul Mona.


"Kita bukan warga disini, Mon..."


"Emang ada tulisannya, yang boleh lewat cuma warga atau penduduk asli sini aja?" tanya Mona.


"Ya nggak ada, sih! cuma kan, takut nyasar juga, Mon!" kataku.


"Daripada Mbak mikirin mas Ridho yang bikin sewot mulu, mending kita cari udara segar di luar. Sekitar sini aja, nggak usah jauh-jauh..." kata Mona ngide banget nih bocah.


"Ya udahlah, ayok!"


Aku dan Mona keluar dari rumah pak Sarmin pas langit warnanya udah menjingga.


"Anda mau kemana, Nona?" tanya salah satu pengawal yang ternyata masih ngejogrog di teras.


"Astaghfirllah! ngagetin tau, nggak?" ucapku.


"Maaf, anda mau kemana? tuan menyuruh anda tetap berada di rumah,"


"Aku sama Mona mau nangkepin ayam yang belum ngandang!" jawabku ngasal.


"Biar kami tangkapkan kalau begitu!" ucap salah satu diantara dua pria yang badannya tinggi ini.


Aku sama Mona saling pandang. Lah, dia kira kita ngomongnya serius apa gimana gitu ya. Ada kali cewek cakep kayak aku sama Mona kelayaban sore-sore buat nangkepin ayam?


Aku naikin satu alis ke Mona sebagai kode 'boleh kita kibulin nih orang,'


"Ya udah kalau gitu, tangkepin ayam jago bulunya warna merah ada ijo-ijonya dibagian buntut sama sayapnya. Di kakinya diiket benang warna merah! cepetan ya? soalnya udah mau maghrib!" kataku mengarang bebas.


Dan dua orang yang aku yakin nggak ada keahlian dalam tangkap menangkap ayam pun akhirnya meninggalkan rumah pak Sarmin. Dan mulai nyariin itu ayam hasil karangan aing.


Setelah melihat mereka berdua pergi pun aku dan Mona refleks tos. Dan kita ngendap-ngendap buat jjs, jalan-jalan sore. Tentunya berlawanan arah dengan para pengawal tadi.


"Hahahahahah, gampang banget sih diboonginnya!" ucapku pada Mona.


"Mereka lagi kurang minum apa gimana sih? masa iya kita keluar mau nyari ayam?" Mona geleng-geleng kepala.


"Bodo amatlah, yang penting kita bisa keluar, Mon!" kataku yang malah lebih bersemangat.


Suasana desa yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri buat aing yang udah suntuk hidup di kota, tapi kalau ditaruh disini sebulan dua bulan ya lumutan juga. Kangen aing sama gemerlapnya lampu-lampu kota dan yang pasti mallnya yang bikin kalap belanja.


Nggak sadar kita jalan lumayan jauh, sementara langit udah makin sore.


"Mbak, Mbak! itu rumah masih ada yang punya nggak sih?" tunjuk Mona ke salah satu rumah yang bercat putih lapuk yang terlihat kayak kurang terawat.


"Yang punya sih mestinya ada, Mon. Tapi kalau ditempatin atau nggaknya itu yang aku nggak tau..."


"Siapa yang lewat?"


"Kayak cewek gitu, di jendela rumah!" kata Mona.


"Yang punya rumah kali..." jawabku enteng.


Mona main narik tanganku buat menjauh dari rumah yang sempat jadi perbicangan diantara kita berdua, "Kita pulang, Mbak! langit udah mau gelap juga!"


"Ya udah, kita balik sekarang!"


Aku nggak kepo karena aku udah males liat yang begituan, tapi apesnya pas lagi mbalek lah kok mata nggak sengaja liat ke arah jendela. Walaupun samar aja, tapi aku ngerti kalau di dalam rumah itu ada sesuatu yang nggak biasa.


Aku dan Mona jalan lumayan tergesa-gesa, ya gimana udah mau adzan maghrib. Dan katanya kan pamali kalau udah maghrib tapi masih keluyuran di luar. Selain pertemuan antara udara siang dan malam yang bikin nggak enak, bikin suasana agak mistis juga sebenernya.


"Mbak jangan cepet-cepet, dong!"


"Udah mau adzan, Mon! kudu cepet balik ke rumahnya pak Sarmin, bu Ratmi pasti nyariin kita!" aku alesan.


Padahal mah hawa udah nggak enak, apalagi situasi perkampungan yang lumayan sepi dan bikin creepy.


Untungnya tadi aku hafal jalan yang kita lewatin, jadi nggak mungkin kita nyasar. Kecuali disasarin makhluk ghoib ya.


Mona pegangan ujung kaosku, berasa emak-emak lagi dikintilin anaknya tau nggak! Tapi sabodo amat lah, yang jelas kita kudu sampai rumah. Dan pas aku kepo liat ke belakang, cewek yang tadi di dalam rumah tiba-tiba aja berada di jalan depan rumah kosong tadi. Dia melambai-lambaikan tangannya.


"Astaghfirllah!" refleks aku nyebut.


"Ada apa, Mbak?" tanya Mona.


"Nggak ada apa-apa, Mon! kayak ada kucing di belakang yang ngikutin kita..."


"Kucing kampung, Mbak?" ucap Mona yang jalan dan mau nengok ke belakang.


"Nggak usah ditengok, Mon! kamu kan takut kucing! ntar malah itu binatang ngikutin terus lagi dikira kita majikannya!" ucapku yang pokoknya sebisa mungkin supaya Mona tetep pandangannya lurus ke depan.


Tap!


Tap!


Tap!


Aku juga nggak mau mikir yang aneh-aneh, kalau semakin dipikir mereka jadi malah terpanggil. Mending nggak ya, makasih.


Beruntung kita udah nyampe pas adzan maghrib berkumandang sedangkan dua orang yang kita kerjain lagi celingukan masih nyari ayam.


"Kami belum menemukan ayam yang anda maksud, Nona!"


"Ayamnya udah ngandang di kandang rumah sebelah! udah maghrib sebaiknya kalian juga masuk!" aku gaya banget nyuruh kayak bos.


Hape kebetulan aku tinggal di dalam tas, ternyata ada banyak miskolan dari ayang. Baru nelfon balik, bu Ratmi datang dari arah dapur.


"Astaga, Nak Reva! kalian darimana?" tanya bu Ratmi.


"Cuma jalan-jalan nyari sore, Bu..."


"Ibu pikir kalian hilang!" kata bu Ratmi yang udah pasti cemas.


"Maaf, Bu. Udah bikin Ibu khawatir..." kataku, Mona cuma bisa senyum tipis.


"Ya sudah, ini sudah masuk waktu maghrib. Ibu mau sholat dulu, kalian juga ya...?" kata bu Ratmi.


"Iya, Bu..." sahutku.


Bu Ratmi pun meninggalkan kami berdua dan masuk ke dalam kamarnya