
Ridho menggenggam tanganku kuat. Pasti dia tau kalau aku sekarang lagi ketar-ketir banget dengan situasi ini. Ternyata, rasa sebelnya nenek itu ya double-double, pertama karena kesan pertama ketemu sama aku yang jauh dari kata baik. Dan yang kedua, perkara Ridho yang nolak cinta cucunya yang nyebelin itu.
Ember dower banget emang si Karla, masalah gitu aja cerita sama neneknya. Eh, tunggu-tunggu. Kalau cerita juga pakai apa, secara disini nggak ada telepon rumah. Nggak mungkin kan nenek main hape? nggak mungkin banget itu. Dia bukan tipe nenek gehol, nenek gaul maksudnya.
Ah, mikirin itu otakku mendadak ngebul. Bodo amat lah si nenek ini tau darimana juga, yang penting ini gimana jadinya dia mau nolongin apa nggak gitu.
Sabar ya, Reva. Orang baik emang selalu dapet ujian, apalagi kita mau usaha nolong orang. Pasti ada aja hambatannya.
"Maaf, Nek. Saya menyela pembicaraan ini, soal Karla sama sekali tidak ada hubungannya dengan Reva..."
"Jadi maksudmu aku yang salah, hah?" nenek Darmi udah semakin merong.
"Saya tidak berkata seperti itu, Nek. Hanya saja..."
"Baiklah, aku akan membantu gadis ini tapi dengan satu syarat!" nenek memotong ucapan Ridho.
"Apa syaratnya?" tanya Ridho.
"Kau harus bersama cucuku, Karla. Aku ingin dia bahagia, jadi kau harus tinggalkan gadis ceroboh ini setelah aku membantu menarik kembali temannya yang masih tersesat di alam goib!" ucap nenek.
"Dhoo..." ucapku lirih, aku menatap Ridho.
Aku emang pengen bantu mbak Sena. Tapi nggam dengan cara barter begini. Dia mau menolong tapi dengan imbalan Ridho harus dengan Karla. Aku, aku nggak bisa kehilangan kagmasku yang unyu dan gemesin ini. Tapi aku juga nggak bisa ngebiarin mbak Sena terlalu lama disana. Gimana kalau, dia nggak bisa bertahan. Aku benci situasi kayak gini, beneran deh.
Ridho tetep menggenggam tanganku, dia menoleh dan menatapku.
"Bagaimana?" tanya nenek.
"Bu, ibu jangan seperti itu..."
"Sudahlah, Wati! kau diam saja! ibu lebih tau apa yang Karla inginkan..." bentak nenek.
Aku cuma bisa menelan saliva dengan susah payah. Ya gimana, dia mibta sesuatu yang sulit dikabulkan gitu loh!
"Tapi, Bu..." bu Wati mencoba memberi pengertian pada nenek, tapi wanita tua itu mengangkat tangannya. Dan itu artinya, dia tidak mau mendengar apapun dari bu Wati.
"Bagaimana? aku akan membantumu, asalkan kau harus meninggalkan dia. Dan kau akan terikat perjanjian denganku, jika kau melanggar, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu!" kata nenek yang kini menatapku dan Ridho dengan tajam.
Aku menggeleng, "Jangan, Dho..."
Ridho mengedipkan kedua matanya, dan mengangguk perlahan.
"Maaf, Nek! hal itu tidak akan pernah terjadi. Kalau nenek tidak bisa membantu kami, tidak apa-apa. Kami permisi saja kalau begitu, maaf sudah merepotkan," ucap Ridho tegas.
Dia menundukkan kepalanya tanda hormat, lalu dia mengajakku pergi dari rumah itu.
"Ibu, ibu harusnya jangan seperti itu," kata bu Wati.
"Naaak, Nak Ridhoooo, Revaaaa!" teriak bu Wati yang mengejar kami yang sudah sampai teras depan.
"Tunggu, Nak!" bu Wati mencekal lenganku.
.
.
Tadi waktu kita mau pergi, bu Wati mencegah. Dia menyuruh kami untuk ikut pulang dulu ke rumah, ke rumahnya bu Wati maksudnya. Katanya tidak baik keluar ketika hari sudah menjelang senja.
"Nak Ridho, nak Reva..." bu Wati memanggil dengan nada yang sangat lembut. Kita sedang duduk di ruang tamu dengan tas yang juga sudah kami taruh di lantai dekat meja.
"Maafkan nenek, ya? dia bicara seperti itu karena terlalu sayang dengan Karla..." lanjut bu Wati.
"Tidak apa-apa, Bu. Kami sangat mengerti dan bisa memahami itu..." kata Ridho.
"Apa tidak lebih baik kalau kalian menginap dulu disini?" tanya bu Wati.
"Tidak, Bu. Kami langsung saja," ucap Ridho.
"Ini mau maghrib, Nak! tunggulah sampai selesai maghrib..." kata bu Wati yang udah jelas ngerasa nggak enak sama kita.
Aku dan Ridho melakukan kewajiban kami secara berjamaah. Ada yabg menggelayut dalam pikiran, apa lagi kalau bukan tentang mbak Sena. Aku nggk bisa membayangkan gimana takutnya terjebak disana sendirian. Aku yang waktu itu berdua sama pak Karan aja tetep takut. Tapi ya mau bagaimana lagi.
Setelah salam, aku termenung masih dalam balutan mukena.
"Vaaa? jangan ngelamun..." tegur Ridho lembut.
"Eh, iya kenapa, Dho?"
"Aku bilang jangan ngelamun. Kamu masih kepikiran cara nolongin mbak Sena?" tanya Ridho.
Aku mengangguk pelan, "Aku cuma ngebayangin pasti dia disana ketakutan sendirian, Dho..."
"Tenang aja, kita pasti punya cara lain buat nolongin temen kamu itu. Maaf ya, Va. Aku nggak bisa menyetujui permintaan nenek Darmi..."
"Nggak, Dho! aku nggak masalahin itu. Aku juga nggak bisa lah kalau kamu harus sama Karla. Ini perasaan bukan barang yang bisa dibuat barteran..." kataku.
"Kata kamu, kita harus nolong orang sesuai kemampuan? aku kesini aja ngelawan rasa takut aku, Dho. Dan aku nggak bisa lah kalau aku nolongin mbak Sena tapi aku harus kehilangan kamu," lanjutku. Bodo amatlah Ridhoau ke GR-an atau gimana. Emang aku nggak akan bisa ngelakuin itu, ini hati udah kepentok sama Ridho dan aku nggak mau menukar itu dengan apapun.
Urusan mbak Sena, ntar kita pikirin lagi. Yang jelas, tuhan pasti akan memberikan jalan keluar. Walaupun nenek Darmi nfgak mau ngebantu aku yakin pasti akan ada cara lain, seperti yang Ridho katakan.
Ridho ngelus kepalaku, beuuh si abang bisa ae buat hati adek jadi adem.
"Kita pergi sekarang?" ucap kangmasku.
Aku mengangguk mantap sebagai jawabanku. Kita berdua kbali ke ruang tamu, dan ternyata disana sudah ada bu Wati.
"Bu, kami mau pamit..." ucap Ridho.
"Iya, Nak. Oh ya, ini ada bekal makanan untuk kalian," ucap bu Wati sembari menyerahkan dua box bekal.
"Seharusnya tidak perlu membawakan kami bekal, Bu..." ucapku, merasa sangat tidak enak sekaligus tidak tau diri. Karena, waktu itu aku bisa kembali juga karena Karla yang meminta bantuan sama neneknya. Dan setelah kembali, hubungan kami malah jadi tidak baik.
"Ibu tidak merasa direpotkan. Untuk masalah Karla, jangan terlalu dipikirkan, ibu tau kalau Ridho memang memiliki perasaan khusus untuk kamu, bahkan sejak awal kalian datang kemari. Dan perasaan Karla juga bukan suatu kekeliruan, anggap saja ini menjadi jembatan agar Karla bisa lebih dewasa. Karena dalam hidup, tidak semua hal yang kita inginkan bisa tercapai," ucap bu Wati, menenangkan hati.
Aku menggenggam tangan bu Wati, "Terima kasih ya, Bu..."
"Kalau begitu kami berdua pamit," ucap Ridho.
Aku memeluk bu Wati sebagai salam perpisahan. Dan kini aku dan Ridho berjalan menjauh dari rumah itu. Masing-masing kami membawa satu tas punggung. Beruntung sebelum sholat, tadi aku sempet numpang mandi. Jadi lumayanlah, badanku nggak bau kecut.
"Kita kemana, Dho...".tanyaku.
"Cari ojek dulu, Va..." jawab Ridho.Namun, tiba-tiba langkahnya berhenti.
"Kenapa berhenti, Dho? kamu liat setan atau gimana?" aku mepet ke Ridho, sambil celingukan kanan kiri yang gelap banget. Ada lampu jalan, tapi cuma remang-remang aja. Maklum jalan desa
"Dhoooo? kok kamu diem aja, sih?" aku mulai sewot.
"Vaaaa! aku punya cara lain!" Ridho nengok dengan mata yang berbinar, sedangkan aku cuma bisa menatap Ridho cengo kayak orang bego.
...----------------...
...----------------...