Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Teka Teki Nggak Silang


"Pak, Pak Karaaaan!" aku goyangin lagi tuh si bos galak.


"Ada apa, Reva..." tanya pak Karan setengah sadar.


"Pak, Bapak denger, nggak?" aku menajamkan pendengaranku.


"Dengar apa?"


"Aliran air..."aku berdiri sambil mencari darimana asal air tersebut.


"Astaga, saya kira kamu mendengar suara orang atau bagaimana," pak Karan keliatan sebel bange.


"Ayo, Pak. Kita cari sumber air itu," Aku menarik pak Karan untuk berdiri.


Dan bener kan kita nyasar masuk ke hutan-hutan gitu, nggak jelas banget tau nggak. Ya aku sih nggak bisa nyalahin pak Karan. Karena kan semalem kita minim penerangan ditambah kita sendiri yang emang udah kelelahan banget jadi kita berdua udah nggak fokeus. Nggak dikejar setan aja udah untung.


Akhirnya aku bisa ngajak pak Karan nyari suara air itu. Dan bener, ada aliran sungai yang jernih di tengah hutan kayak gini.


"Awasss! hati-hati," pak bos teriak pas aku girang banget nyamperin air.


Aku lepas jas, dan barang-barang yang ada di tanganku termasuk tas yang taro semalem nyelempang di pundakku diatas bebatuan. Aku juga buka alas kaki dan ngelingkis celana jins sebatas betis.


Aku mulai turun, dan meraupkan air ke wajahku. Gilaaaak, brrrr banget rasanya. Nyessss banget rasanya, woi.


"Pak, turun, Pak!" aku lambaikan tangan ke arah pak Karan.


Pak bos mendekat, baru kali ini aku ngeliat muka bantalnya pak Karan. Dan aku satu-satunya karyawan kantor yang bisa melihat pemandangan langka ini.


Yang nanya kenapa itu si Reva yang cantik kek model internasionale bisa nyungsruk ke hutan? Tanya aja sama rumput yang bergoyang, ya. Karena Reva sendiri nggak ngerti, mau nyari rumah warga malah nyasar ke rumah nenek moyang.


"Pak, sini, Pak! airnya dingin banget, Bapak bisa awet muda ini kalau cuci muka pakai nih air," aku teriakan sambil nunjukin air yang di tanganku.


"Dasar..." pak Karan tersenyum.


Astaga, nih manusia ternyata bisa senyum juga. Aku kira dia cuma bisa marah-marah doang. Senyumnya yang sering-sering Pak. Biar jadi berkah, kan nambah pahala juga bikin orang kesengsem, eh seneng.


Pak Karan melepas jasnya, dan dia menggulung kemejanya sebatas siku, begitu juga dengan celana jeans yang dia lingkis sampai betis biar nggak basah kecipratan air.


"Wow, sedingin ini..." kata pak Karan saat dia berjongkok di pinggir sungai dan mengambil air dengan kedua tangannya yang dibentuk seperti sebuah wadah cekung.


"Cobain deh, Pak..."


Pak Karan pun membasuh wajahnya dengan air itu, dibasahin juga tuh rambutnya. Beuuuhh, dia kibas-kibas aku sampe melongo.


"Hey," pak Karan dadah-dadah di depan muka aku.


"Eh, gimana tadi, Pak? Bapak ngomong apa?" aku ngomong gelagapan, karena kepergok ngeliatin dese yang uuhhh, macho.


"Kamu terpesona lihat saya?" tanya pak Karan dengan pedenya.


"Sem-sembarangan, itu tuh saya tuh mau bilang. Rambut Bapak udah gondrong, udah kayak cocok jadi bintanh iklan shampoo," jawabanku absurd.


Aku ikut ngebasahin tangan dan juga tengkuk, aku juga sedikit basahin rambut biar seger.


"Pak, kayaknya nggak mungkin ada rumah disekitar sini," kataku pada pak Karan.


"Kita balik lagi juga mobil tidak bisa jalan, sama saja..."


"Bapak laper nggak?" aku nyodorin snack cokelat, dan itu yang kita punya saat ini. Roti udah habis, air tinggal dua botol lagi. Dan kita nggak tau sampai kapan kita bisa keluar dari tempat ini.


Pak Karan ngebuka snack cokelat dan memakannya. Kita sebisa mungkin menghemat persediaan minum, masing-masing hanya bisa minum satu teguk setelah makan makanan yang sama sekali nggak bikin kenyang.


Aku yang udah pegel pun merebahkan badanku yang sakit semua, aku melihat langit pagi yang cerah.


"Pak, Bapak pernah mikir, nggak? kadang tuh kita membuang waktu untuk sesuatu yang nggak berguna?" aku nanya tanpa melepaskan pandangan ke arah langit biru.


"Ya, contohnya seperti sekarang ini. Kamu malah rebahan dan menikmati langit tanpa berpikir bagaimana caranya kita bisa minta bantuan orang lain," kata pak Karan sinis.


Ampun deh ah, pak bos hobinya bikin orang emosi terus. Aku yang tadinya rebahan, sekarang duduk, "Oke, deh. Bapak jauh-jauh dan repoy-repot jemput saya dari rumah Karla itu mau ngapain?" aku menoleh, menatap pak bos serius.


Dia merogoh celananya, "Untuk memecahkan teka-teki ini," dia menunjukkan kain yang waktu itu pak Karan ambil dari brankas di kamar ibunya, Ilena.


"Banyak simbol, Pak. Saya nggak ngerti..." aku lagi males mikir, aku cuma lihat sekilas tanpa ingin menebak apa isinya.


"Maka dari itu kita cari tahu bersama," pak bos menarik kepalaku supaya kembali memperhatikan kain yang ada di telapak tangannya.


"Apa itu, Pak?" aku nanya, soalnya yang aku bisa lihat hanya ada lingkaran besar dengan tulisan full moon. Dan di dalam itu ada tulisan atau sandi atau apapun itu yang ditulis di dalam lingkaran dan mengelilingi lingkaran itu.


Kepalaku mendadak cenat-cenut disuruh mikir dadakan kayak tahu bulat. Main TTS aja suka nggak nemu jawabannya, apalagi main teka-teki nggak silang kayak gini, banyak kodenya.


Pak Karan lalu menunjukkan sebuah tulisan di kain yang ada di atas telapak tangannya, "Aku hanya mengerti, mungkin ini artinya bulan purnama. Tapi apa maksud dari kain ini? dan mengapa ada di brankas milik ibu ku?" pak Karan sepertinya sangat frustasi.


"Bapak saja tidak tahu apalagi saya?"


"Jawaban kamu tidak memberi kan solusi, Reva!" ucap pak bos kayaknya sewot.


"Coba kita perhatikan lagi apa saja yang ada di kain ini selain tulisan full moon, Pak. Bapak yang sabar, Ridho aja sabar kok ngadrpin temen modelan saya," kataku sambil melihat apa yang ada di kain itu. Aku mengernyit, melihat dengan seksama.


"Gambar di tengah lingkaran ini seperti gambar spade atau sekop berwarna hitam yang ada di kartu remi, jumlahnya ada ... jumlahnya ada 8," aku menghitung gambar yang aku sering lihat pada playing cards.


"Coba saya lihat?" pak Karan mencoba lebih dekat pada kain itu. Matanya yang tajam menelisik setiap gambar yang terlukis disana.


"The cursed ring? cincin terkutuk?" lirih pak Karan, tapi aku masih bisa denger itu.


"Cincin apa, Pak?" aku ingin pak bos mengulangi ucapannya lagi.


"Cincin terkutuk, masing-masing kata di tulis terpisah diantara gambar spade ini," kata pak Karan menunjuk kata per kata yang tersebar di sela gambar sekop berwarna hitam itu.


"Maksudnya cincin ini cincin terkutil, eh terkutuk, Pak?" mataku membulat, kalau di sinetron udah di zoom-in berserta cuping hidung yang kembang kempis dan bibir yang gerak-gerak dikit menambah dramatisasi adegan ini.


Dan terdengar sayup-sayup orang meneriakkan namaku, aku dan pak bos kompak berdiri.


"Paaak..." aku menatap wajah pak bos serius.


...----------------...