Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Akhir Perjalanan Freya


Harusnya, sebentar lagi Ravel menikah. Tapi karena kegaduhan yang terjadi di rumah sejak pagi membuat mama menutup gerbang rapat-rapat. Karena pas mobilku dan Ridho masuk, orang yang ngurusin W.O semuanya ada di luar teras.


"Kenapa pada di luar?" aku yang nggak tau negur mereka.


"Disuruh Nyonya kami menunggu disini," ucap salah satu diantara mereka.


"Jangan pergi, kalian tunggu saja!" aku nyuruh mereka duduk dimana kek. Yang penting jangan pada pergi.


Aku dan Ridho masuk ke dalam.


"Maaahh? Mamaaaah?" aku panggil-panggil mama.


Aku cuma denger Ravel treak-treak nggak jelas.


"Kayaknya dari arah kolam renang, Va!" kata Ridho yang berlari mendahuluiku.


"Jangan, Raveeeeell! istighfar, Sayang...." ucap mama sambil menangis.


Aku ngeliat Dilan yang lagi nahan badan Ravel, "Jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik..."


"Diam, kalian! aku akan membuatnya tidak bisa memiliki kekasihku, kalian pahaaaamm?!!" Ravel dengan dadanan yang berantakan, lebih mirip setan daripada penganten.


"Freyaaaa?!!!" teriakku.


Ravel nengok ke arahku yang baru aja dateng, "Hahahahahah, kau lihat? aku akan menenggelamkan adikmu ini!" Ravel fix kesurupan.


"Aku suruh panggil ustad? kenapa belum datang?" ucapku pada mbak Rosma.


"Maaf, Non. Tadi pas didatengin pak ustadnya lagi ngurus KK di kecamatan! ini lagi disusulin," kata mbam Rosma.


"Dilan, tahan dia. Jangan sampai dia membuat tubuh adikku terluka," ucapku pada Dilan.


Ridho mulai mendekat, dia berusaha membantu Dilan. Tapi arwah yang ada di dalam badan Ravel langsung mengamuk.


"Aaarrrghhh, jangan mendekat?!! atau aku lompat ke dalam air? aku tau anak ini tidak bisa berenang, jadi akan dengan sangat mudah melenyapkannya!" kata Freya yang kini menggerakkan badan Ravel. Dilan terdorong ke belakang, tenaga Ravel sungguh dikyar nalar.


"Dilaaaaan?!" kau teriak, karena Dilan kepentok meja yang diatasnya disusun bunga-bunga.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ridho tang membantu Dilan.


"Nggak apa-apa, thanks!"


Aku maju satu langkah, "Denger baik-baik, Freya. Dilan itu bukan calon suamimu, dia bilang kalau akan menikahimu atas dasar paksaan dari ibumu, Freya! sadarlah, kamu dan Dilan juga sudah berbeda alam, kalian tidak mungkin juga bersatu..." kataku.


"Janji tetaplah janji, aku akan menagih itu sampai di kehidupan selanjutnya!"


"Nggak kebayang sih keras kepalanya kamu waktu masih hidup," aku nyeletuk saking keselnya sama nih hantu.


"Freya, tolong kamu keluar dari tubuh Ravel. Dia tidak tau apa-apa," ucap Dilan.


"Lihat ini, hah?!!" sosok makhluk yang menggerakkan tubuh Ravel, menyobek kain kebaya di bagian lengannya.


"Kau lihat? dengan kebaya compang camping ini, kalian tidak mungkin bisa menikah?!! hahahahahhaah," kata Ravel tertawa.


Padahal, nikah mah nikah aja. Nggak ngaruh juga soal baju apa yang dipake. Kadang nih hantu suka eror pikirannya.


Dia sedang berada di sisi kolam renang yang dalemnya 2 meter lebih. Agak ngerinjuga aku liatnya.


"Va..." Ridho manggil, dia gelengin kepala.


"Bagaimana kalau aku membawa calon istrimu ini bersamaku, Dilan?" ucap sosok yang ada di dalam tubuh Ravel.


"Jangan, Fre! Ravel nggak salah apa-apa, kalau kamu mau marah. Marah sama aku, Fre..." kata Dilan yang mendekat.


"Jangaaan, jangan sakiti anak saya. Pernikahan ini akan dibatalkan asalkan kamu mau keluar dan melepaskan anak saya," kata mama spontan.


Mendengar suara dari arah lain, Ravel yang sedang dalam pengaruh Freya pun menoleh, dengan senyum yang menakutkan. Hal ini tentu tak dilewarkan Dilan dan Ridho yang kemudian setengah berlari ke arah Ravel. Tapi sosok Freya yang menyadari ada pergerakan dari arah lain langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam.


"Aaaarkkkhh, Raveeeeel?!!!" aku memekik.


Aku tau adikku itu nggak bisa berenang, dia hanya bisa menahan napasnya mentok 10 detik di dalam air. Karena emang Ravel paling takut sama air. Tanpa pikir panjang Dilan dengan sigap terjun ke dalam kolam. Dia menangkap tubuh adikku.


"Raveeeeel..." mama menangis meraung. Dia takut sesuatu terjadi dengan anaknya. Aku berlari menuju mama yang kemudian pingsan.


"Maaah, sadar, Maaaahhh?!!" aku tepokin pipi mama, tapi nggak ngaruh.


Ridho memvantu Dilan mengangkat tubuh Ravel yang basah ke atas permukaan.


Mata Ravel yang semula tertutup, kini terbuka secara tiba-tiba. Dia melotot dan mendorong badan Ridho hingga tersungkur mengenai kursi.


Dilan yang baru aja naik ke permukaan mencoba menghentikan Freya yang menggunakan badan Ravel untuk membanting barang apapun yang ada di hadapannya.


"Berhenti, Freya! kamu sudah diluar batas!" kata Dilan yang kemudian menangkap tubuh Ravel dan menjadi sasaran amukan sosok hantu kebawa perasaan itu.


"Freyaaaa, berhenti!" ucap seorang wanita yang tadi pagi aku temui.


"Freya, Sayang. Ini Mami, Nak!" ucap wanita itu.


"Mamiii?" lirih sosok Freya yang masih terperangkap dalam tubuh adikku.


"Freya, Sayang. Keluarlah, Nak. Lepaskan wanita itu, dia tidak bersalah Sayang..." ucap bu Santi yang ditemani oleh suaminya.


"Kalau kamu mau marah, marahlah dengan mami, Nak! Dilan maupun wanita itu sama sekali tidak bersalah, Sayang..."


"Mami, Diam! jangan bicara apapun, karena aku tidak ingin mendengarnya," ucap sosok hantu Freya.


"Mami yang salah, Sayang. Mami yang memaksa Dilan untuk berbohong, mami yang memaksa Dilan untuk berpura-pura menikahimu. Mami yang salah, Sayang. Dilan hanya menuruti apa yang mami suruh," ucap bu Santi disertai isakan tangis.


"Freya, papi tau kamu anak yang baik. Kamu tidak akan mencelakai orang lain, kasihanilah wanita itu Freya..." ucap pria paruh baya yang mencoba mendekati Dilan dan sosok Freya yang sedang bersemayam di tubuh Ravel.


"Dilan mengatakan akan menikahimu bukan atas keibginannya sendiri tapi karena Mami. Mami yang memintanya, mami hanya berharap kamu bisa bangun dan kembali. Tapi Tuhan ternyata berkehendak lain, Tuhan lebih menyayangimu. Maafkan Mami, Freyaaa..." ucap bu Santi.


"Jadi? pernikahan itu hanya sebuah kebohongan?"


"Maafkan Mami, Freyaaa..." bu Santi mendekat dan memeluk tubuh adikku.


"Mbak, pak ustadnya sudah datang!" kata mbak Rosma.


"Freya, kita akhiri saja kesalahpahaman ini. Dan kembalilah ke alammu yang sebenarnya, aku mihon keluarlah kamu dari tubuh adikku," ucapku.


"Freya, pergilah, Nak. Pergilah, Sayang..." ucao bu Santi yang menangis.


Sosok Freya kemudian mengangguk, dan pak ustad yang sudah datang kemudian mulai membacakan doa-doa untuk mengeluarkan sosok Freya dari dalam tubuh Ravel, "Aaarrrrrghhhh,"


Perlahan aku melihat bayangan seorang gadis yang memakai kebayanya, keluar dari tubuh adikku.


"Tolong katakan pada Dilan jika aku mencintainya," ucap Freya yang menitipkan salam perpisahannya untuk Dilan.


"Dilan, Freya bilang kalau dia mencintaimu," ucapku pada Dilan.


Dilan mengangguk, "Terima kasih, Freya. Aku akan selaku mengenangmu!" ucap Dilan tulus.


"Mami, Papi, Freya pergi..." ucapan itu mengakhiri perjalanan Freya selama ini.


Ravel masih tak sadarkan diri, begitu juga dengan mama.