
Dan aku mendengar Ridho teriak, "Revaaaaaaa!"
"Ridhoooo! kita tuh belum selesaaaaaiii!" Karla nggak kalah suaranya, kayaknya dia mencegah Ridho buat ngejar aku deh.
"Revaaaaaaaaa!" Ridho neriakin namaku lagi.
Tapi aku nggak peduli Ridho manggil aku kayak gimana juga, karena ngeliat congor Ridho udah ternodaaaah bikin hati aku terluka. Apa emang cowok itu emang gitu ya, bilangnya nggak suka tapi giliran disosor nerima ajah.
"Apa, kamu bilang kamu sama dia cuma temen. Tapi digituin kamu diem aja, Dho! dasar manusia kamfret, benci banget aku sama kamu, hikks! yang kamu lakuin itu juaaahaaaat, Dhoooo .... juaahaaaaatt! huaaaaaaa..." aku nangis sambil lari. Aku yakin ini airmata kalau ditadahin udah dapet satu ember gede.
Aku nggak tau Ridho ngejar aku atau nggak, apa dia ditahan Karla buat lanjutin lagi kegiatan mereka tadi atau gimana, aku nggak tau. Yang jelas aku cuma tau kalau sekarang hati aku sakit banget, ada bunyi kretek-kreteknya gitu.
"Mmmph ... Hhh ... hiks, bego bego bego! kenapa aku bisa suka sama kamuuuu! aarrrrrghhhhhk! hhhh ... hhh..." aku berhenti berlari, aku nangis dan susah payah buat ngatur napas.
"Inget napas, Revaaa! hikkkks ... napas, Vaaaa!" aku membungkuk pegang kedua lututku dengan nafas yang terengah-engah. Aku sampai bingung, mau nangis dulu atau ambil oksigen dulu lewat hidung.
Aku tegakin badan lagi, aku elap tuh air mata dugong yang mancur terus nggak mau berhenti.
Jangan nanya aku lari kemana, karena aku udah nggak peduli aku ada dimana, yang jelas aku pengen numpahin semua rasa yang bikin aku susah banget buat sekedar tegakin kepala.
Banyak hal yang aku pertanyakan, sejak kapan Karla suka sama Ridho, kalau dilihat dari cara Karla sedekat itu dan show off semua perhatian dia ke Ridho, aku yakin mereka pasti deket banget. Apalagi Karla berani bertindak seperti itu, kan nggak main-main berarti itu si onde-onde.
"Hiikkks ... hhiiks," aku tutup wajahku dengan kedua tangan. Seketika adegan tadi berputar-putar di kepalaku, gimana tadi Karla maksa Ridho buat...
"Arrrrrghkkkk! ngapain kamu nyusul aku kesini kalau buat bikin aku sakit hati? huhuhu, harusnya kalian nggak kesini..."
"Harusnyaa ... aku nggak pernah nemu cincin itu dan semua hal ini nggak akan pernah terjadi!" aku teriak histeris.
Dan tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang.
"Jangan sekali pun perlihatkan kelemahanmu pada oranglain," ucap suara itu, suara pak Karan.
"Jangan jatuh cinta jika kamu tidak siap untuk terluka," kata pak Karan. Tumben banget dia bisa ngomong baik-baik nggak pakai ngegas.
Aku nggak jawab, aku cuma bisa sesenggukan dengan bahuku yang naik turun. Sesekali aku mengusap pipi ku yang basah. Ya gimana, kan aku juga nggak tau sejak kapan aku bisa suka sama Ridho. Hubungan kami yang emang deket karena satu divisi dan sering lembur bareng, apalagi di kantor meja kita sebelah juga. Dan ditambah semua kesialan ini yang bikin kita tambah deket, bikin aku nggak bisa menolak perasaan yang ucluk-ucluk nangkring di hati. Dan mungkin itu juga yang dirasain Karla.
Dan see?
Pertemanan antara cowok dan cewek tuh jarang ada yang pure temenan. Karena rasa suka itu bisa datang kapan aja. Dan kalau udah kayak gini, hubungan yang udah terjalin dengan baik akhirnya hancur seketika.
Pak bos masih meluk aku, cukup erat. Cukup memberikan sentuhan lembut buat aku yang rapuh ini.
Emang disaat kayak gini tuh aku cuma butuh seseorang yang nggak usah banyak bachod, udah diem dan temenin aku aja buat menikmati setiap rasa getir yang saat ini lagi dirasain.
"Tuntaskan semuanya, karena kamu tidak bisa membuang waktu untuk menangisi sesuatu yang sudah terjadi. Ada hal yang lebih penting daripada soal cinta dan sakit hati," ucap pak Karan.
Baru juga dipuji nggak banyak omong, si bos malah nyerocos bae. Tapi ada benernya juga, ada masalah yang lebih penting dari sekedar patah hati, yaitu nyawa.
Aku harus percaya kalau keajaiban tuhan masih ada, aku harus yakin kalau tuhan nggak akan pilih kasih menolong umatnya. Walaupun aku sadar udah terlalu lama jauh dari-Nya. Tapi aku janji, aku bakal berubah perlahan, aku bakal kembali mendekat bukan hanya saat aku dalam keadaan terjepit seperti ini.
"Ridho bilang ada air terjun yang harus aku capai, air terjun yang mana? dimana tempatnya? dan aku harus ngapain disana? apakah aku harus bersemedi nyari pangsit, eh wangsit atau gimana?" batinku bertanya-tanya.
Pak bos memutar badanku menghadap dia, dia menarikku dalam pelukannya.
"Kita harus menyelesaikan semua teka-teki, dan segera keluar dari tempat sialan ini," kata pak bos yang menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku.
"Air terjun..."
"Air terjun?" pak bos mengernyit tanpa melepaskan tangannya dipinggangku.
"Begitu banyak clue, aku nggak bisa mencernanya sama sekali, mengembalikannya sebelum bulan purnama, air terjun, dan katanya clue ada dibalik nama pemiliknya dan argghh rasanya kepalaku mau pecah...!" aku yang ingin menjambak rambutku ditahan pak Karan, dia mengunci pergerakanku.
"Kita pasti menemukan jalan keluar,"
Dan tanpa aku dan pak bos sangka, Ridho datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Kita berdua kompak menoleh ke arah Ridho.
"Lepasin Reva!" Ridho memisahkan aku dari pak Karan.
Pak Karan cuma tersenyum mengejek, baru kali ini aku liat pak Karan sesantai itu, dia nggak marah sama sekali.
"Aku mau ngomong sama kamu, Reva..." kata Ridho yang menarik tanganku.
"Ngomong aja," pak Karan melepaskan tangan Ridho dari tanganku.
"Bapak nggak usah ikut campur, saya ada perlu sama Reva..." ucap Ridho dengan tatapan tajamnya.
"Saya juga lagi ada perlu, dan saya yang duluan disini. Sebaiknya kamu balik ke tenda, Karla pasti takut sendirian," ucap pak bos yang bisa banget ngomporin.
"Bapak nggak usah jadi kompor!" kata Ridho nyengak.
"Ssshhh, begini nih kalau kebanyakan gaul sama perempuan. Yang digedein cuma perasaan, otaknya minggir tidak tau kemana!"
"Apa Bapak bilang?" Ridho mencengkram kerah kemeja pak Karan, sedangkan pak Karan cuma narik satu sudut bibirnya ke atas.
"Ridho, lepasin tangan kamu!" aku berusaha buat misahin dua orang yang lagi bersitegang ini.
Dan disaat itu aku ditarik Ridho menjauh dari pak Karan. Aku sempat menengok ke belakang melihat pak Karan yang hanya berdiri mematung sambil masukin tangannya ke dalam saku sambil melihat kepergian kami.
"Lepas, kamu mau bawa aku kemana?" aku yang dengan susah payah menyamai langkahku dengan Ridho.
...----------------...