Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ketar-Ketir


Braaakk!!


Aku tutup pintu dan lempar badanku ke ranjang empuk.


"Ih, mama kenapa sih? nggak biasanya kayak gitu?" aku natap langit-langit kamar.


"Katanya nggak mau anaknya jadi perawan tua, lah ini ada calon mantu dateng malah dijudesin! sumpeh, nggak tau deh konsepnya mama mau gimana," aku kok jadi kesel.


Aku gigit gulingku, "Iihhhhh, baru juga adem ayem. Masa iya mau dipisahin lagi? ya ampuuun kapan aku bahagianya kalau kayak giniiiiiiiiii?"


Tok!


Tok!


Tok!


Ceklek!


Belum juga dipersilakan masuk, orang yang ngetok pintu udah menyusup ke dalam kamarku. Siapa lagi kalau bukan si Ravel.


"Ngapain kamu kesini?" mataku memicing ngeliatin adek sendiri.


"Ck! Padahal aku berbaik hati lho kesini mau ngasih liat vidio sidang paripurna gebetan dari masa lalunya mbak Reva," Ravel goyangin hapenya.


"Sini, aku liat!" aku segera bangun dan mau nyamber hapenya si Ravel, tapi gagal karena dia terlalu gesit buat nyelametin tuh hape.


"Deuuuh, Mbak! nggragas banget, main nyamber aja. Ntar juga aku liatin, sabar dulu napa. Biar aku bukain dulu vidionya,"


"Takut banget hapenya aku ubek-ubek,"


"Namanya juga privacy, Mbak!" ucap Ravel yang lagi scroll.


Bocil ngerti apa masalah privacy. Yang ada aku malah curiga dia nyimpen hal-hal yang nggak bener.


"Kamu jangan nyimpen atau bikin vidio yang aneh-aneh, kalau Mbak sampe tau, awas aja kamu, Vel!" aku kasih ultimatum, sebelum dia jadi istri orang.


"Ya ampuun, Mbak. Suudzon aja sih sama aku. Aku mah terlalu solekha untuk melakukan hal-hal yang diluar norma-norma agama dan masyarakat," ucap Ravel ngebela diri.


"Mbak nggak suudzon, cuma--"


"Nuduh! sama aja!" serobot Ravel.


"Ya udah sih jangan nyerocos mulu, sini mbak mau liat vidionya!" aku tadahin tangan, minta hapenya Ravel. Pengen banget aku langsung rebut, tapi aku tahan keinginan itu.


"Biar aku aja yang pegang, Mbak nonton aja yang anteng!" Ravel nggak mau ngasih hapenya, dia puter vidio pas si Ridho lagi dicecer sama mama. Ditanya mau ngapain kesini, terus hubungannya sama aku sekarang apa, sekarang kerjaannya apa. Dan vidio itu mendadak diakhiri pas mama kayaknya nyadar kalau ada yang sembunyi-sembunyi kepoin pembicaraannya sama Ridho.


"Kok dikit banget kamu vidio-innya?" tanyaku.


"Nggak liat, tadi matanya mama udah luat ke arah hapenya aku ini? beeuuh, bisa gaswat kan kalau mama tau!" kata Ravel.


Ravel sakuin hape ke kantong celana pendeknya, "Tanya apa? serius amat?"


"Kok mama kayaknya kesel banget sama Ridho, emangnya kamu pernah ngomong apaan soal Ridho, hem?" mataku menatap kedua bola mata adekku.


"Cerita apa, nggak kok..."


"Nah, itu kata Dilan katanya Ridho pernah ketemu kamu di kampus terus kamu bilang ke Ridho kalau aku udah move on dan mau nikah. Dan Ridho karena penasaran, sampe telfon mama dan kayaknya kamubtau apa yang terjadi setelah itu deh..." aku engep ngomong tanpa jeda.


"Kenapa kamu ngajak mama buat bohong soal itu? yang mau nikah kan kamu bukan aku, vel!" lanjutku yang sebenernyabudah nahan-nahan supaya nggak marah.


"Ihhh, dasar, Aa ember banget jadi orang!" Ravel bergumam.


"Jawab, Vel!" kataku pura-pura marah. Padahal mah aku udah tau jawabnnya dari Dilan, yang katanya Ravel kesel Ridho nemuin temen kampusnya.


"Yaaa ... gimana? aku liat dia nemuin Siska. Ya aku nggak rela aja dia ngeghostingin Mbak, dan enak-enakan ketemuan sama cewek laen. Sedangkan Mbak aku merana karena ditinggalin gitu aja tanpa kabar, kan juaahaad ya dia begitu..." kara Ravel, nggak mau natap aku. Mungkin takut.


"Terus kenapa kamu bawa-bawa mama buat bohong?"


"Ya kan, mama sebenernya udah lama tau kalau Ridho itu ngilang waktu Mbak sakit,"


"Aku, sakit?" aku mulai was-was.


Jangan-jangan mama tau kalau aku pernah koma, dan nggak nggak. Aku nggak mau ngebayangin itu sekarang, itu terlalu horor dibandingkan ketemu ochong, om wowo dan mbak Kun dalam waktu yang bersamaan.


"Sepandai-pandainya tupai melombat, akhirnya bakal kejebur got juga!" ucap Ravel.


"Bukan gitu peribahasanya! belajar dimana sih kamu!" aku ketok jidatnya si Ravel.


"Ihhh, Mbaaaak! ini jidat, janagm sembarangan, ntar lecet dan jadi ngebekas! kuku panjang-panjang kayak setan gitu, kalau bocel jidatku kan ntar susah ngilanginnya..." Ravel ngusap jidatnya sendiri, lebay.


"Mama tau apa tentang aku? maksudku..."


"Mbak, percaya nggak sama intuisi seorang ibu? feeling seorang ibu itu sangat kuat. Beberapa kali mama dikasih mimpi papa yang minta ijin bawa mbak pergi," ucap Ravel nginget-nginget masa lalu. Dia cerita dengan nada yang tenang, dan santai.


Tapi dibalik cara bicara Ravel yang biasa aja disitu aku malah ketar-ketir tau nggak. Aku sebenernya nggak sanggup dan takut mendengar apa yang akan keluar dari mulutnya si Ravel. Tapi disisi lain aku juga penasaran.


"Mama gelisah terus, pokoknya aku aja sampai nggak sekolah, karena seharian aku harus nenangin mama. Karena, mama tuh seumur-umur nggak pernah bersikap aneh kayak gitu apalagi hanya karena sebuah mimpi. Nggak banget pokoknya," mata Ravel menerawang jauh.


"Terus?"


Ravel menarik nafasnya sejenak dan menghembuskannya perlahan, "Mama ngehubungin Mbak, tapi nggak bisa. Mama akhirnya nelpon sepupu kita yang kaya raya itu, dan dia bilang kalau mungkin Mbak lagi sibuk makanya hapenya nggak aktif. Dan dia janji bakal ngehubungin mama kalau udah ketemu sama Mbak..." ucap Ravel.


"Terus?"


"Tapi nggak tau, mama kayak nggak percaya gitu. Padahal kan Mbak emang jarang nelpon, kalau nggak mama duluan yang nelpon. Secara logika mama harusnya nggak usah risau, tapi hari itu mama maksa aku buat..." ucap Ravel menggantung.


"Buat apa, Vel?" aku tatap mata Ravel serius.