Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ternyata Ulah Kalian?


"Karena aku udah dipecat, jadi aku..." ucapku menggantung saat melihat tatapan tajam adek sepupu yang galaknya ngelebihin aing maung.


"Apa?"


"Emh, nggak jadi..." aku ciut kayak kerupuk disiram air.


Aku kalau udh ditatap begitu suka nyalinya menguap entah kemana. Padahal kan secara silsilah di keluarga posisi aku sebagai kakak ya, tapi aku kok berasa nggak bisa lebih galak dari nih manusia.


"Bapak udah selesai kan?" aku nanya lain lagi.


"Kalau udah selesai aku mau balik ke ruangan, minimal saya mau berkemas," kata ku yang kemudian jalan ke arah pintu yang terkoneksi dengan ruangan pak bos.


"Kalau kamu lewat situ, orang akan curiga dan mengira kamu menyusup ke ruangan saya untuk mencuri sesuatu!" kata pak bos gerakin tangannya kode supaya aku balik lagi.


"Astaga, terus aku harus lewat jalan tadi? yabg sepi terus akh ... nakutin liftnya!" aku ngebatin dalam hati sambil kaki bergerak ke arah pak bos yang kini sudah membuka pintu rahasianya.


"Ayo," pak bos nyuruh aku buat ngikutin dia lagi.


Dan ya gitu lah, aku lagi-lagi mepetin bos. Bukan nyari kesempatan bukan ya, aku beneran ngeri, liat ke bawah gitu. Nggak lagi-lagi lah lewat sini, mending aku lewat tangga darurat. Eh nggak juga sih, tangga darurat banyak demitnya. Dengan dipecatnya aku dari perusahaan aku nggak perlu lagi liat muka galaknya pak bos dan nggak bakal ngalamin hal-hal aneh lagi yang berhubungan dengan kantor ini.


Tapi kalau aku udah nggak ada disini, gimana nasib hubungan aku sama Ridho. Si karet bungkus nasi pasti nemplok mulu sama kangmasku, hadeuh puyeng juga ya.


"Astaga, Reva! pikirin nasib keuangan, baru nasib percintaan!" aku noyor kepala sendiri.


"Kenapa sama otak kamu?" tanya pak bos sambil narik aku, ternyata kita udah sampai di bawah.


"Otak saya baik-baik saja selama tidak bersama dengan Bapak!" aku nyeletuk.


Kita keluar persis di lorong pertama kali aku ketemu sama pak Karan.


"Kamu berkemas dan aku tunggu di basement. Sana cepat pergi!" kata pak Karan.


Astaga, aku udah bukan karyawannya lagi loh, tapi kok ya disuruh-suruh bae. Aku balik badan dengan mulut yang aku sengaja pleyat-pleyotin.


"Dasar adik sepupu, durhaka!" aku ngumpat sambil mencetin tombol lift.


Ting!


Pintu besi yang semula tertutup kini sudah terbuka lebar, menunggu sang putri untuk masuk ke dalamnya.


Aku bakalan kangen nih, sama lift ini dan semua sudut kantor yang sering aku jelajahi. Tapi lagi-lagi ada hawa dingin yang bikin aku nggak nyaman. Bener-bener aku nggak lagi sehat, deh.


Aku keluar dari lift, dan menuju ke ruanganku.


"Darimana aja? aku nyariin kamu loh!" Ridho langsung mempir ke kubikel ku waktu aku baru aja duduk.


"Tenangin pikiran!" aku jawab sambil angambil kotak kosong dan mulai masuk-masukin barang pribadiku yang ada di meja ku ini, mulai dari foto tempat pulpen dan lain-lainnya.


"Ngapain di masuk-masukin?" tanya Ridho.


"Ya emang udah waktunya di beresin," aku jawab antara nyambung nggak nyambung.


"Buat dikasih surat pemecatan," aku langsung nyambungin omongan Ridho.


Nggak bisa disembunyiin kalau wajah Ridho saat ini tuh kaget bukan main. Dia ngelirik dua amplop, dia ambil amplop warna putih. Aku biarin aja dia mau baca tuh surat pemberitahuan. Sementara aku, masukin amplop yang isinya duit pesangon ke dalam tas.


"Nggak bener!" akhirnya ada satu kalimat yang muncul dari mulutnya kangmas Ridho.


"Nggak bener gimana? suratnya bener kok, jelas menerangkan bahwa saudari Reva Velya mulai hari bukan lagi karyawan dari perusahaan Perkasa Group!" kataku dengan nada setengah nyinyir.


"Maksudku mereka nggak bisa seenaknya begini..."


"Kenapa nggak bisa? jelas bisa lah, perusahaan akan rugi banyak kalau mempekerjakan orang yang sakit parah, mereka butuh orang yang prima dan bisa diandalkan bekerja sesyai tuntutan, bener nggak? mereka tuh udah bener, yang nggak bener itu yang nyebarin berita fake kalau aku itu nggak ngantor karena sakit parah!" aku tekan suara sebisa mungkin.


"Ya udahlah, mungkin bukan rejeki disini. Jadi sekarang aku pamit, makasih udah jafi partner kerja yang baik," lanjutku.


"Tunggu, Va! jangan buru-buru..."


"Aku harus nunggu apa lagi? nunggu diusir apa gimana?" aku nggak ngerti sama Ridho. Dia tekuk kakinya dan di lantai dan pegang ngambil kotak yang ada di tanganku, dia taruh lagi di atas meja.


"Kamu apa-apaan sih, Dho? nggak enak kalau ada orang yang liat," aku ngomong lirih.


"Biarinlah, mau ada yang liat juga! tapi kamu harus denger dulu semuanya dari aku. Jadi sebenernya, yang bilang kamu sakit parah ke pak Gunawan itu aku..."


"Kamu? sumpah, tega banget kamu, Dho! aku nggak nyangka ternyata kamu yang..." aku lepasin tangan Ridho.


"Tunggu dulu, jangan salah paham dulu, Va. Dengerin dulu apa yang mau aku omongin," Ridho maksa.


"Kamu udah bikin aku angkat kaki dari sini, Dho. Aku kira kita temen loh," aku geleng-geleng nggak percaya.


"Va, dengerin dulu. Kamu itu hilang selama 2 minggu, aku bingung harus kasih alasan apa yang logis kenapa kamu sampai nggak berangkat kerja selama itu. Dan Karla kasih ide kalau, kalau aku ngadep pak Gunawan dan bilang kalau kamu sedang sakit makanya nggak bisa berangkat. Dan setelah menghadap pak Gunawan, baru aku dan Karla minta bantuan buat nemuin kamu. Aku nggak ada maksud apa-apa, beneran deh Va. Aku kasih alasan itu supaya kamu nggak dipecat," Ridho ngomong panjang lebar.


"Oh jadi ini ulah kalian ternyata? berkat ide Karla kan ya? oke, oke..." aku tersenyum getir.


Aku lepasin tangan Ridho dan berdiri dari Kursi. Dan pria yang ada di hadapanku ini juga melakukan hal yang sama, dia berdiri berusaha nyentuh bahuku, tapi segera aku tepis.


"Aku pamit..." ucapku yang mengambil kembali surat yang tergeletak di meja dan menaruhnya di dalam kotak. Aku cangkolin tas di bahu dan pergi melewati Ridho dengan membawa kotak yang ada di tangan.


"Va..." Ridho manggil tapi aku nggak peduli, aku terus aja jalan menuju pintu keluar dengan hati yang berdarah-darah.


Aku keluar bukan hanya membawa satu kotak berisi barang pribadiku, tapi juga rasa kecewa terutama dengan Ridho.


Ada langkah yang mengikutiku keluar dan itu pasti Ridho. Aku nggak mau nengok, aku terus aja jalan menuju lift. Aku sempet ngeliat ada beberapa temen yang bingung ngeliat aku yang pergi di jam kantor, tapi aku sabodo amat.


"Ngapain si Ridho ngikutin mulu! nyebelin, deh!"


Dan belum sempet mencet tombol lift, ternyata kotak besi udah kebuka sendiri. Aku masuk, dan berbalik ternyata...


...----------------...