Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Fix Ini Salah Kita


Kali ini bukan salah mereka, fix ini salah kita yang cari penyakit dengan masuk ke rumah sakit ini.


"Hhh ... hhh ... Mas, jangan cepeth-cepeth," aku setengah berlari dengan menyangga perutku yang sakit.


"Iya, Sayang. Mereka dibelakang kita,"


"Kenapa juga kita harus dikejar-kejar kayak gini sih?"


"Nggak tau, Yank. Tanya aja sama rumput yang bergoyang, anggap aja takdir..." ucap Ridho.


Kita menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang lampunya kedap-kedip kayak mau metong.


"Akkh, aaakuh, capekkkh..." ucapku udah ngos-ngosan. Aku berhenti berlari, kakiku udah nggak kuat.


Sementara dokter Richard dan perawat tadi berjalan dengan santainya mengejar kami.


Ridho ngegendong aku, "Arrgh, Kita cari jalan keluar,"


Tanganku melingkar di lehernya kangmas, "Aku haus, Mas..."


"Sabar, ya? nanti kita cari minum setelah keluar dari sini," kata Ridho yang mencoba menjanjikan sesuatu yang entah kapan bisa direalisasikan.


"Aarghh, nggak mungkin kan rumah sakit pintu keluarnya cuma satu?" ucap Ridho frustasi, sambil sesekali membenarkan posisi gendongannya.


Perutku rasanya nggak karuan, apalagi di tempat yang penuh dengan makhluk halus ini.


Kita menyusuri ruangan-ruangan, dan Ridho membuka salah satunya buat kita ngumpet.


"Kita sembunyi dulu disini, semoga aja nggak ada yang nemuin kita," ucap Ridho nutup pintu dan nurunin aku.


"Maafin Papi, Sayang. Kamu pasti nggak nyaman di dalem, maaf bikin mami kamu harus kejar-kejaran kayak gini," ucap Ridho, dia ngelus perutku.


Kangmas setengah duduk kayak orang mau ngelamar gitu, bedanya sekarang kita lagi nggal will you marry me will you marry me-an, dia nekuk satu kakinya itu buat tempat aku duduk. Jadi aku duduk di pahanya kangmas gitu.


Maap kita bukan lagi romantis-romantisan ya, bukan. Dia nepuk pahanya, "Duduk disini, Sayang..."


"Huufjh, huufhh, nanti kamu capek, Mas..."


Dia maksa aku buat duduk, "Nggak, lebih capek kamu lah. Lari-lari dengan perut sebesar ini," Ridho ngelus perutku yang lagi tegang.


Praaang?!!


Ada benda yang jatuh di ruangan ini. Suaranya seperti alat stainless yang jatuh ke lantai.


Dan kreeet...


Ada pintu yang terbuka, ternyata ada satu kamar lain di ruangan ini.


Trang tang tang tang tang!!


Sebuah trolley yang biasa digunain buat naruh alat-alat kedokteran, keluar dari ruangan yang tulisannya 'Ruang persalinan'. Iya trolley itu kayak di dorong gitu ke arah aku dan Ridho.


Aku yang melihat itu pun sontak berdiri, begitu pun dengan kangmas. Kita membeku sesaat.


"Masss..." aku bersembunyi di balik badan Ridho.


"Buka pintunya," ucap Ridho lirih.


Trolley itu kemudian berhenti sekitar 2 meter di depan kita. Jelas terlihat beberapa alat- alat kedokteran seperti gunting dan beberapa alat yang aku juga nggak tau jenis dan kegunaannya. Liatnya aja udah serem aja gitu.


Ceklek?!


Aku pelan banget buka pintu.


"Anda mau kemana, Nyonya? Apa anda mau melahirkan? mari saya bantu," ucap satu perempuan dengan seragam bertuliskan 'bidan'. Dia keluar dari kamar persalinan.


"Aaaaaaa," aku lantas buka pintu dan keluar bareng sama kangmas.


"Hahahahahhahaha," suara bidan jadi-jadian itu menggema.


Aku berusaha buat lari, tapi lagi-lagi dengan perut besar kayak gini bikin aku cepet capek.


Bukan hanya itu, ada kursi roda yang tau-tau jalan sendiri. Dan ada juga nenek-nenek yang mondar-mandir kayak orang bingung atau kayak lagi nungguin sesuatu di depan ruang operasi. Ada juga orang yang lalu lalang tapi dengan pandangan yang kosong melompong, yang nengok terus mamerin senyumnya dengan wajah yang pucet.


"Hhh ... dimana pintu keluarnyaaa?" aku udah mau nangis aja. Selain udah cukup kelelahan aku juga takut diapa-apain sama mereka.


"Arrghh, aku juga nggak tau. Kenapa nyari pintu keluar aja susah banget, kita kayak disasar-sasarin. Atau sebenernya ada pintu keluar tapi mata kita kayak sengaja ditutup jadi pintu itu nggak keliatan sama kita gitu.


Udah nggak jelas banget dan random banget makhluk-makhluk yang kita temui. Lagi bingung-bingung nyari jalan dan lari-lari nggak jelas arahnya, sambil Ridho terus baca-baca doa.


Tiba-tiba ada suara adzan berkumandang. Nggak tau lah dari mushola atau masjid yang dimana. Yang jelas itu menandakan kita semakin dekat dengan terbitnya matahari.


"Alhamdulillah adzan subuh, Yank..." ucap Ridho dengan keringat yang udah banjir keringet. Dia berhenti sambil terus membawaku dalam gendongannya.


Dep!!


Dep!!


Dep!!


Seketika lampu yang tadinya menyala mendadak padam dari ujung ke ujung.


Suara-suara tawa dan berisik, perlahan memudar seiring dengan langit yang mulai mengeluarkan semburat rona oranye.


"Hiks ... hikss," aku menangis dalam pelukan suami.


"Maaf, kamu harus mengalami hal kayak gini lagi. Maaf..." ucap Ridho merasa bersalah. Aku menyembunyikan wajahku di dada kangmas.


Akhirnya malam yang mencekam ini segera berakhir. Ridho tetap berjalan mencari-cari pintu utama, alhamdulillahnya ketemu juga.


Kalau aku nggak salah inget, padahal kita udah sempet lewat ke arah lorong ini yang isinya deretan ruang poli yang menyatu dengan ruang tunggu. Tapi kita nggak liat itu pintu segede gaban. Pintu kaca yang sekarang ngablak aja udah, kebuka itu selebar-lebarnya.


Kadang nggak bisa diterima dengan logika gitu kalau berhubungan dengan demit dan sejenisnya.


Kita berdua masuk lagi ke mobil yang terparkir sedari malam di pelataran rumah sakit.


Ridho langsung tancap gas, sesekali tangannya mengusap keningku yang basah keringat. Lalu tangannya beralih mengelus perutku.


"Aku haus, Mas..." ucapku.


"Kita cari warung terdekat ya," ucap Ridho yang memperlambat laju mobilnya. Seketika aku inget hape.


Dan barulah banyak chat yangasuk ke dalam hapeku, termasuk missed call dari pak Karan.


Aku merogoh saku. Kali aja ada uang. Dan baru kali ini aku inget kalau aku nyelipin selembar uang seratus ribuan dua lembar yabg dilipet di dalem casing hape.


"Mas, Mas ... aku nemu duit," ucapku yang nepokin Ridho.


"Dua ratus ribu? alhamdulillah. Tapi itu duit siapa?" tanya Ridho.


"Duit aku, aku lupa kalau aku suka nyimpen uang di cassing hape,"


"Kayaknya di depan ada warung," ucap Ridho yang nunjuk ke arah satu warung yang masih nyala.


"Kita berhenti disana," lanjutnya.


Dan mobil kita melambat dan kemudian berhenti di depan sebuah warung kopi. Tapi kali ini Ridho nggak langsung turun, dia masih di dalem mobil melihat-lihat.


"Kenapa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, kayaknya itu warung beneran, bentar ya aku turun..." ucap Ridho.


"Aku ikut, Mas..." aku nggak mau ditinggal.


"Ya udah bentar, aku bukain pintunya," uacp Ridho yang ngelarang aku turun duluan.


Ridho keluar dari mobil dan ngebuka pintu.


"Aku gendong?" tanya Ridho.


Aku menggeleng, "Nggak usah, malu lah..." aku menolak. Ya kali digendong ntar dijulidin sama si ibuk punya warung lagi.


Akhirnya aku keluar mobil dengan dipapah kangmas.


"Duduk dulu, pelan-pelan..." ucap Ridho.


Setelah aku duduk, barulah Ridho nyariin si penjual, "Bu ... Pak ... beli," ucapnya.


Dan seorang wanita dengan rambut yang digelung keluar, "Beli apa?" ucapnya.


Aku sontak melihat langsung ke bawah, ke arah kaki.