Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Memori Freya


Selama ini Freya nggak nampakin dirinya secara nyata di depan Dilan. Tapi sekarang, Freya dengan nekat menghantui Dilan yang saat itu baru aja nyampe di hotel.


Dilan yang kayaknya nggak pernah liat syaithonirrojim model beginian, mendadak pucet.


"Freya, kamu?"


"Aku pengantinmu, Dilan!" kata Freya berjalan mendekat dengan kebayanya. Air mata berwarna merah keluar dari kedua matanya yang memancarkan kekecewaan dan kesedihan.


"Aku pengantinmu yang sebenarnyaa...?!!" Freya berteriak, mendekati Dilan.


"Bukannya kamu udah--"


"Meninggal? nggak Dilan, aku selalu ada disamping kamu. Tapi kamu malah menjalin hubungan dengan wanita lain!!! mana janjimu, Dilaaaaan? manaaaa? dasar laki-laki pembohong!" Freya mulai mengamuk.


Dia mendorong tubuh Dilan dengan hanya menggunakan sapuan tangannya.


"Janji apa, Fre? aku nggak ngerti, uhukkk!" Dilan terbatuk.


"Kamu jahat, Dilan! kamuuu jahaaaaatttt?!! Kau melupakan apa yang kau ucapkan sendiri dengan sadar!" Freya mendatangi Dilan dengan mata yang penuh amarah, tangannya mencengkram leher orang yang katanya dia cintai.


Aku yang ada disitu sontak mencoba melepaskan cengkraman si Freya, tapi kosong. Tanganku bagaikan menyentuh angin.


"Kau bilang akan menikahiku, tapi mana? janjimu janji palsu!" kata Freya.


"Aku ... aku mebgatakan itu atas dasar paksaan dari ibumu, Fre! aku mengangapmu sahabat, teman, nggak lebih. Leaskan aku, Fre! kita sudah beda dunia!" kata Dilan berusaha melepaskan cengkraman tangan Freya.


"Janji tetaplah janji, Dilan! kamu tidak boleh mengingkarinya, mengertiiii?"


"Seandainya, iya. Kita tetap nggak bisa menikah, Fre. Kita beda keyakinan," ucap Dilan.


Freya kemudian melepaskan cengkramannya.


"Kita berbeda, Fre! aku mengatakan itu gara kamu kembali sadar, kembali ke pelukan keluargamu. Tapi nyatanya Tuhan lebih menyayangimu, Fre! dia melepaskanmu dari segala kesakitan yang kamu alami..." kata Dilan.


"Bohong!"


"Apa yang kau katakan itu semua bohong!!! dengar, Dilan. Siapapun tidak akan bisa menjadi istrimu, aku akan pastikan itu?!!" ucap Freya yang kemudian menghilang.


"Ravel...?! apa dia akan menyakiti Ravel?!!" Dilan mulai gusar.


Perlahan semua yang nampak di depan mata seakan menghilang, aku merasakan diriku tersedot oleh satu pusaran angin.


"Aaakkkkhhhhh?!!!"


.


.


.


"Sadar, Sayang?!!!" aku mendengar suara yang sangat familiar, suara laki-laki.


"Reva, Sayang...." Dia terus menggosok tanganku dengan telapak tangannya.


Perlahan mataku terbuka sedikit demi sedikit, "Akkkh..." aku merasakan badanku yang awalnya aja udah lemes, sekarang tambah lemes.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga!" kata Ridho yang kemudian mengecup seluruh wajahku, dia memelukku sebentar.


"Aku dimana?"


"Di kamar," ucap Ridho yang duduk di samping ranjang.


"Aku sudah bilang, jangan berurusan dengan hantu mana pun, Va! tapi kenapa kamu nggak pernah mau nurut?" lanjut Ridho.


"Karena dia yang memaksaku, dan..." ucapku menggantung.


Aku teringat sesuatu, "Hantu itu, akan mencelakai Ravel, Dho?" aku berusaha bangkit.


Ridho yang melihat itu bergerak dan duduk menyandarkan aku ke badannya, dia memelukku.


"Tenang aja, semua itu nggak akan terjadi, Va!" ucap Ridho.


"Kita harus ... harus bertemu dengan keluarga Freya, hantu itu salah paham! dia mengira kalau Dilan mengingkari janji untuk menikahinya..." ucapku.


"Kamu yang tenang dulu, Va..."


"Aku nggak bisa tenang. Ini menyangkut keluargaku, Dho!" aku yang lemes mendadak kesal dengan jawaban Ridho.


"Iya iya kita akan mencari keluarga Freya. Tapi kamu tenang dulu, kita nggak bisa pergi dengan keadaan kamu yang kacau kayak gini," ucap Ridho.


"Kamu ceritakan dulu, apa yang terjadi siapa Freya dan apa hubungannya dengan Ravel," kata Ridho.


Aku pun menceritakan apa yang baru aja aku alami, apa yang aku lihat dan aku dengar. Ridho mulai mengerti.


"Oke, sekarang aku paham. Sekarang masih jam setengah 5 pagi. Aku siap-siap dulu, dan kamu hubungi Dilan. Minta alamat keluarga Freya..." ucap Ridho.


Aku mengambil hape.


"Ya..." ucapnya kayak orang nggak bertenaga.


"Aku mau minta alamat keluarga Freya,"


"Hah? buat apa?"


"Aku udah tau semuanya, tolong untuk sekarang jangan banyak tanya. Karena aku udah nggak ada waktu buat ngejelasinnya, yang jelas hantu itu salah paham dan aku nggak mau Ravel jadi sasarannya..." ucapku.


"Apa aku perlu ikut?"


"Jangan gila, nanti Ravel mikirnya kamu kabur nggak mau nikahin dia. Kamu disini aja," kataku.


"Biar aku dan Ridho yang mengurus semuanya," lanjutku.


Setelah aku dapat alamat keluarga Freya, aku dan Ridho menjalankan kewajiban kami 2 rakaat sebelum kita pergi untuk menemui ibu Freya.


Tapi saat kita lagi menuruni anak tangga.


"Kalian mau kemana?" tanya mama.


"Ada perlu sebentar, Mah?!" ucapku yang menyalami tangan mama, begitu juga Ridho.


"Sebentar lagi orang salon datang,"


"Reva dan Ridho nanti balik lagi. Fokus ke pengantemnya dulu aja yang dirias, aku mah bisa make up sendiri," kataku yang mebarik Ridho keluar.


"Assalamualaikum," ucap Ridho.


"Waalaikumsalam," jawab mama.


Aku yang jalan aja lagi nggak nyaman, maksain diri buat pergi sepagi ini.


"Pelan-pelan, Va. Kamu masih lemes kayak gitu..." ucap Ridho.


"Kita nggak punya banyak waktu, Dho!" ucapku.


Ridho yang ngeliat aku kayaknya udah nggak ada tenaga, berinisiatif ngegendong aku sampai ke mobil.


"Cepet, Dho..." ucapku saat Ridho masuk dan duduk di kursi kemudinya.


"Sabar, jangan karena grusa-grusu, nyawa kita jadi taruhannya!" ucap Ridho yang melajukan mobil ini keluar dari area rumah.


Di tengah perjalanan.


"Kamu merem dulu aja, masih lumayan jauh perjalanannya," ucap Ridho.


"Nanti kamu melek sendirian," kataku.


"Nggak apa-apa, nanti kalau udah deket aku bangunin. Sekali-kali nurut kenapa, Va..." ucap Ridho.


"Iya iya..."


"Hadeeuuh, baru juga buka paket dua kali. Ujung-ujungnya dikejar setan juga," Ridho nyetir sambil ngedumel.


"Dua kali apaan? empat kali, Dhooo. Empat kaliii! badan aku sampe remek!" aku nyautin Ridho dengan satu sudut bibir terangjat keatas.


"Astagfirllah, ngagetin aja kamu, Va?! aku kira udah tidur,"


Dan mobil ini pun melaju dengan kecepatan tinggi. Aku meremin mata bentar, badanku udah nggak karuan rasanya. Energiku terkuras habis. Pengen banget bisa tidur, tapi nggak bisa. Pikiranku tertuju sama Ravel, apa yang akan menimpa adikku itu.


Walaupun kadar ngeselinnya Ravel diatas rata-rata, tapi sebagai kakak aku nggak akan rela ada yang bakal mencelakainya. Gimanapun aku harus melindungi dia.


"Va, Reva ... Sayang bangun," ucap Ridho yang sat set nyetir mobilnya.


Aku yang emang nggak tidur pura-pura nguap, "Hoaammph, kenapa?"


"Udah nyampe..." ucap Ridho yang ngelepasin sabuk pengaman.


"Kok cepet?"


"Aku pakai jalur cepat, lagian belum banyak kendaraan, jadi kita nyampenya bisa cepet ," ucap Ridho.


Langit udah semakin terang, tapi masih dingin. Kita berdua keluar dari mobil dan melihat satu rumah dengan pagar menjulang tinggi.


Ting!


Tong!


Ridho memencet bell yang ada di samping gerbang.


"Ya? maaf anda siapa?" tanya seseorang yang membuka gerbang.


"Saya teman Freya, ada yang ingin saya sampaikan pada ibu Santi," ucapku.