Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ngumpetin Ridho


"Aaawwwh!" aku memekik, kaget dengan apa yang orang ini lakukan.


"Awasss!" seru orang yang aku temui di restoran, dan ternyata ada mobil yang tiba-tiba lewat gitu aja.


"Dasar, orang gila!" umpat Ridho yang ngeliatin mobil yang main nyelonong aja tanpa klakson.


"Ridho?" lirihku.


"Sorry, sakit ya?" ucapnya ngusap punggungku.


"Nggak kok," aku mencoba menjaga jarak dengan Ridho yang dulu aku panggil ayang.


"Aku kira kamu dianter sama cowok yang makan sama kamu tadi," ucap Ridho nyerempet-nyerempet masalah Dilan.


"Tapi pas aku liat kayaknya kamu bawa mobil sendiri,"


"Ya, aku kan cewek yang mandiri, independent!" ucapku.


Lagian kalau aku nyetir sendiri ngapain dia ngikutin aing sampai kemari.


Dan pas aku lagi ngomong ngalor ngidul sama Ridho, aku liat ada sekelebatan sosok yang ada di mobilku. Tapi cuma sekilas, abis itu ngilang.


"Kamu liat apa?" tanya Ridho.


"Nggak ada," jawabku bohong.


"Lagian kenapa juga ngikutin aku?"


"Aku baru inget kalau jasku ketinggalan, dan aku ngerasa ada sesuatu aja yang mengganjal..." ucap Ridho.


"Apaan, mengganjal apaan coba..."


"Nggak tau pokoknya firasat aku bilang kalau aku harus kesini, selain aku mau jelasin kalau tadi itu Rimar..."


"Udah? kalau udah, aku mau naik ke atas..." kataku.


"Tunggu...!" Ridho ngejar.


Tapi sejujurnya, aku pu. ngerasa ada hal.yang nggak enak banget. Dan bersyukur juga nih manusia kupret nongol. Tapi tetep ya cyint kita jual mahal, biar nggak digampangin atau diremehin.


Dan bener aja, ketika kita masuk lift. Hawanya makin nggak enak. Tapi aku nyoba diem aja.


"Ada aku, tenang aja..." Ridho genggam tanganku. Seakan dia tau kalau aku sekarang lagi cemas.


"Huuufh," aku coba netralin rasa gugup ini dengan ngatur napas.


Aku lepasin genggaman tangan Ridho, aku malah tautin jari jemariku, ngusir rasa dingin yang makin lama makin kerasa.


Untungnya pintu besi segera kebuka, jadi aku bisa ngerasa lebih lega sekarang.


Aku jalan diikuti Ridho. Sampaindindepan unit waktu aku masukin kode akses. Ada bayangan yang leqat di belakang aku dan Ridho. Aku refleks noleh


"Masuk aja," ucap Ridho.


Aku segera buka pintu dan masuk ke dalam.


"Ada yang ngikutin kamu," ucap Ridho, dia segera nutup pintunya.


"Nggak usah ngarang cerita,"


"Aku cuma sekedar ngasih tau," kata Ridho.


Tak!


Tak!


Tak!


Ada suara kaca yang diadu dengan benda logam.


Mata Ridho melihat ke sekeliling, "Sering kayak gini atau?"


Dia nggak butuh jawabanku, si kutu kupret ini jalan menuju kamarku.


Tak!


Tak!


Tak!


Suara tadi terulang kembali.


"Hey, ini kamarku!" aku mencegah tangan Ridho saat menyentuh handle pintu.


Tak!


Tak!


Tak!


Kali ini sangat jelas kalau suara itu beraaal dari dalam sana.


Aku lepas tanganku yang tadinya megang dan nyegah tangan Ridho buat buka kamarku


Ridho pun perlahan membuka pintu.


Dan jelas terlihat di depan mataku ada satu sosok berbaju putih yang berada di jendela yang kebetulan nggak tertutup tirai.


"Disana..." lirihku.


Ridho segera berlari menuju jendela, namun sosok itu tiba-tiba terbang entah kemana.


"Dia sudah pergi," ucap Ridho yang menoleh ke arahku.


"Apa kamu sering mendapat gangguan di sini?" tanya Ridho yang menutup tirai jendela.


"Nggak, sesering setelah ketemu sama kamu," ucapku jujur.


Lah emang iya kok. Aku kalau gabung sama Ridho, mas dan mbak etan kayaknya demen deketin dan nyamperin aing mulu.


"Ya udah berarti kita harus selalu bersama, Va..." kata Ridho.


"Kalau aku deket sama kamu, itu setan dari negeri antah berantah mendadak pada dateng kesini,"


"Kamu salah, Va. Justru aku datang, buat meredam magnet yang ada di dalam diri kamu..." ucap Ridho dia pegang kedua bahuku.


Hadeuuh mulai deh mulai, itu tangan tolong jangan nemplok sembarangan.


"Aku nggak ngerti," ucapku menatap kedua mata milik Ridho.


"Kata pak Sarmin, magnet yang ada di dalam diri kamu itu terlalu kuat. Sehingga para makhluk itu seakan terpanggil dan ingin mendekat, makanya waktu kejadian di rumah tua itu mereka berebut buat ngedapetin kamu. Padahal awalnya Mona yang jadi incaran mereka..." kata Ridho.


"Aku sempet sowan ke rumah pak Sarmin saat aku lagi bener-bener buntu. Karena aku bisa liat kamu, tapi aku nggak bisa munculin diri aku di depan kamu..." lanjut Ridho.


Ridho menangkup kedua pipiku, "Tanpa kamu ketahui, aku terlalu sering berada di tempat yang sama dengan kamu,"


Aku menautkan kedua alisku.


"Beneran, Va. Kalau kamu nggak nyadar, berarti penyamaranku emang terlalu sempurna. Sayangnya aku kecolongan, kamu malah deket sama pria lain..." Ridho lagi-lagi sendu.


Ting!


Tong!


Aku ngeliat jam, "Aih jangan-jangan Ravel yang dateng? mampus kalau dia tau ada Ridho disini..." batinku meronta.


"Ada yang dateng, biar aku buka..." ucap Ridho.


"Jangan, itu pasti Ravel! duh gimana ya?" ucapku gugup.


"Kebetulan aku kan udah lama nggak ketemu sama dia, di resto tadi juga liat cuma sekilas,"


"Nggak usah macem-macem! sekarang kamu ngumpet disini, awas aja kalau sampai ngeluarin suara, aku cakar-cakar tuh muka biar pada baret semua!" ucapku memasukkan Ridho ke dalam ruang ganti.


Ting!


Tong!


Suara bel bunyi lagi.


Aku keluar kamar, "Iya bentar! nggak sabaran banget sih!"


Aku cepetan buka pintu dan bener yang nongol si Ravel.


"Buka pintunya lama banget sih, Mbaak?" keluh Ravel.


"Mbak habis dari toilet! mana si Dilan?" aku celingukan nyari kebwradaan pacar adekku itu.


"Dia aku suruh pulang, udah malem soalnya. Hoaaammmph, aku juga udah ngantuk..." kata Ravel yang masuk dan nutup pintu depan.


"Mbak, disini kok hawanya nggak enak ya, Mbak. Padahal dulu nggak gini loh, aku nunggu mbak buka pintu aja kayaknya was-was banget," ungkap Ravel.


Jadi, Ravel juga ngerasain kalau di tempat ini mulai nggak enak situasinya.


"Kamu belom sholat kali, makanya setan-setan pada suka, dan ngintilin kamu sampe kesini," ucapku.


"Masa sih? nggak usah mengada-ngada deh, Mbak!" Ravel yang mau ke kamarnya mendadak nggak jadi setelah denger sesuatu.


Braaaakkk!


Ada suara benda jatuh dari dalam kamarku.


"Apaan tuh?" tanya Ravel.


"Kayaknya suaranya dari kamar mbak, deh..." Ravel berbalik dan menajamkan pendengarannya.


"Mana? nggak ada. Mbak nggak denger tuh. Dah sana tidur, udah malem..." aku dorong Ravel masuk ke kamar.


"Huuuffhhh, untung aja, dia nggak banyak cingcong!" aku bernafas lega saat Ravel udah aku masukin ke dalam kamar tamu.