
Melihat kepulan asap dari gelas belimbing yang ada di hadapan si pria berjaket hitam tadi membuat lambung kita juga pengen ikutan dapet yang anget-anget.
"Kaki dia napak, Dho! berarti dia manusia asli bukan palsu!" aku narik Ridho buat deketan.
"Berarti bukan imitasi, ya?" ucap Ridho yang ngelambaikan tangan ke arah penjual yang ada di dalam warung. Kita ini duduk di depan gitu, mengahadap ke arah luar.
"Ngapain ngelambai gitu, sih?" aku sewot.
"Mau pesen minum. Haus, Va. Dingin juga..."
"Diem tangannya, biar aku aja!" aku teplak lagi tangan Ridho biar nggak ngangkat lagi. Dan perdebatan kita ini kayaknya jadi tontonan gratis si mas yang lagi nyeruput kopinya dikit-dikit karena masih vanash.
"Iya, gimana, Mbak? mau pesan apa?" tanya si wanita yang disinyalir bernama Luri.
"Kamu mau kopi atau teh, Dho?" aku nengok ke arah kangmas.
"Kopi aja,"
"Mbak ada---" baru juga Ridho mau nanya sama si mbak Luri tadi, aku segera tutup mulutnya pakai tanganku.
"Dibilangin biar aku aja!"
"Mbak, kopi satu sama teh panas satu. Oh ya, ada mendoan juga nggak?"
"Mendoan? ada, Mbak..."
"Bikin yang baru, ya! lagi pengen yang panas, udah itu aja makasih!" ucapku. Si mbak tadi segera masuk ke dalam dengan kening yang berkerut.
Setelah si penjual tadi masum baru aku lepasin mulutnya si kangmas.
"Astaga, Reva! ganas banget, sih?"
"Bodo!" ucapku dengan lirikan nggak suka.
Sementara kita berdua lagi berdebat, si mas yang duduk di depan kami cengar cengir sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf, Bang! dia suka cemburuan!" ucap Ridho ngejelasin ke masnya tadi.
"Nggak apa-apa, Mas. Perempuan memang begitu, keluar tanduknya kalau ngeliat ada ancaman!" si Masnya menimpali ocehannya Ridho.
"Kalau boleh nanya, kalian bukan orang sini, ya?" tanya si Mas.
"Iya, kita kesini karena mau mengunjungi saudara," kata Ridho.
"Kenalin, saya Muklis. Saya kang ojek yang biasa mangkal disini..." ucap si mas yang kini melipat tangannya di depan dada, ngelawan hawa dingin.
"Oh iya, Bang. Kebetulan banget kita kayaknya butuh ojek buat ke tempat saudara saya itu!" ucap Ridho.
Dan Ridho pun ngejelasin ke desa mana yang menjadi tempat tujuan kami.
"Oh itu sih deket banget, Mas! cuma nfelewatin dua desa lagi!" ucap si Muklis.
"Oh ya, kalian naik kendaraan apa? kok bisa sampai tengah malam disini?"
"Naik bus, Bang!" sahut Ridho.
"Bus? memangnya ada yang nyampe jam segini ya? kok saya baru tau?" Muklis kayaknya bingung. Kagak tau aja dia, kita baru numpang sama bus hantu.
"Memangnya biasanya bus datangnya jam berapa sampai sini, Bang?" tanya Ridho.
"Ya paling cepet jam 4 pagi lah. Tapi berhentinya juga bukan di sekitar sini, tapi agak jauhan dikit, ke arah barat sana. Tapi banyakan kang ojeknya pada mangkalnya di warung ini sambil nunggu penumpang yang datang dari kota," jelas Muklis.
Sekilas aku ngelirik jam tangan Ridho, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Berarti kita ngehabisin waktu hanya dua jam lebih di dalam bus hantu tadi. Padahal kalau normalnya, kita bisa ngelewatin lebih dari 5 jam perjalanan. Bener-bener emejing! Mungkin kita terbang di awang-awang kali ya?
"Silakan, Mas Mbak..." ucap ibuk-ibuk yang datang mengantar minuman kami.
"Lah, si Mbaknya berubah wujud jadi emak-emak? jangan-jangan dia syaithon?" aku memperhatikan bentuk rupa si ibu-ibu yang menyuguhkan minuman di depan kami.
"Dia ibu Wijah, Mbak. Pemilik warung ini, dan yang tadi Luri, anaknya. Kembang desa!" ucap Muklis selepas ibu Wijah pergi.
"Ayo, diminum Mas Mbak! keburu dingin!" ucap Muklis. Aku cuma tersenyum menampakkan sedikit keramahanku.
Nggak lama datanglah si Luri yang katanya kembang desa incaran semua pria. Wajahnya emang lugu, ayu tanpa sentuhan bedak dan foundation. Definisi gadis desa lah, yang masih alami.
"Mendoannya, Mbak!"
"Makasih, Mbak Luri!" ucap Ridho sok ramah dan aku cubit pinggangnya.
"Aaaaadududududuh, sakit Vaaaa!" Ridho uget-uget, antara sakit dan geli.
"Makanya, nggak usah gatel!" ucapku.
Muklis lagi-lagi ketawa tapi sengaja ditahan terutama ketika mataku ngelirik ke arahnya, sinis.
"Hem!" Muklis berdehem, lalu nyeruput kopinya lagi.
"Fiuuuuuh!" Ridho niup kopi yang masih mengeluarkan asap putihnya.
"Minum, Va! abangnya takut kalau kamu liatin kayak gitu terus!" ucap Ridho.
Aku pun menurut apa kata calon suami. Aku menikmati teh panas ditengah hawa dingin malam ini dan memakan dua biji mendoan anget dengan cabe rawit.
Alhamdulillah, akhirnya perutku kenyang juga. Aku sempet nambah satu gelas teh panas lagi. Rasanya emang beda dengan teh-teh yang lain, atau air yang buat masaknya yang beda apa gimana aku nggak tau.
Yang jelas sampai ke tenggorokanku rasanya enak. Sekarang lambung jadi anget karema uda diisi dengan minuman dan makanan. Sekarang giliran kita buat bayar. Sekali lagi, aku nggak ngijinin ada interaksi antara si Luri dan Ridho. Kita sebagai wanita harus waspada, jangan biarkan ada celah yang berpotensi mengganggu hubungan yang sudah terjalin sangat romantis ini. Betul tidaaaakkk?
Sebelumnya, bang Muklis ini nelpon salah satu temennya buat dateng kesini. Kan nggak mungkin kita cenglu alias bonceng telu alias bonceng bertigaan. Selain nggak muat juga itu ban bisa mletus karena ketimpa bobot yang luar binasa.
Tapi ternyata kangmas nggak ngebiarin aku dibonceng sama kang ojek. Dia sendiri yang minta buat bawa motornya dan diiyain gitu aja sama bang Muklis. To twiiiit banget mas pacarkuuuuh.
Ridho ngebawa motornya dengan sangat hati-hati. Sekarang kita posisinya dibelakang motor yang ditumpangi Muklis dan satu teman sesama ojeknya itu.
"Dhoooo..." aku panggil Ridho sementara tanganku melingkar di perutnya.
"Kenapa?"
"Kamu nggak takut mereka orang jahat? kalau kita dirampok gimana?" tanyaku.
"Insya Allah, nggak. Percaya dan berlindung sama Allah, insya Allah kita dipertemukan dengan orang baik, Va..." ucap Ridho nenangin hati.
"Harusmya mereka yang mencurigai kita, bisa aja nih motor kita bawa kabur.Tapi kamu liat sendiri kan? bang Muklis percayain motor ini sama aku?" lanjut Ridho.
Iya juga ya, yang ada mereka yang curiga sama kita. Tapi bang Muklis dan temannya itu begitu percaya, dan memang betul kita boleh waspada tapi jangan terlalu over thingking.
"Percaya nggak percaya terkadang kita itu dibantu oleh orang yang sama sekali nggak kita kenal atas seizin Allah. Makanya jadi orang itu banyakin berbuat baik, jangan malah nyusahin..." ucap Ridho nyeramahin aku.
"AWAS JANGAN NYUBIT! AKU LAGI NYETIR! NANTI KITA BISA NYUNGSRUK INI!" tegas Ridho yang memang udah hafal kelakuanku.
"Iya iya ih! nggak usah ngegassssss juga kaliiii, Baaaaaaaaaaang!" ucapku.
Tengah malam gini naik motor menyusuri desa yang masih asri. Saking asrinya banyak lahan-lahan yang masih banyak pohon-pohon gede.
"Dhooooo, kita nggak bakalan nyasar, kan? kita nggak bakal digondol setan lagi, kan?" tanyaku sambil nemplok di punggung Ridho.
"Lah bukannya tujuan kamu kesini sengaja buat ketemu demit dan perkumpulannya?" sahut Ridho.
"Sembarangan! bukan ketemu demit, Dho! tapi buat nolongin mbak Sena!" kita berdebat diatas motor yang jalannya kayak dodol, mleyat mleyot.
"Nolongin mbak Sena kamu itu kan resikonya ketemu demit, gimana sih?" Ridho nggak mau kalah.
"Iya iya lah, terserah kamu aja mau ngomong apa!"
Dan motor yang dikendarai bang Muklis pun berhenti.
"Kalian di depan! sebentar lagi kita sampai!" ucap bang Muklis yang ngebuka setengah kaca helm-nya.
...----------------...