
Semaleman aku ngobrol sama Ridho. Ngobrol sesuatu yang sama sekali tidak berfaedah yang berakhir aku ketiduran di kursi. Pokoknya dia dilarang merem sebelum aku duluan yang ngantuk. Cuma entah bagaimana caranya aku yang tadinya duduk di kursi single, sekarang tidur selonjoran di sofa panjang di ruang tamu rumah pak Sarmin. Sofa sederhana yang lumayan nyaman pas buat tiduran kayak gini. Sementara Ridho berada di tempatku, dia tidur sambil duduk.
"Apa dia yang pindahin aku kesini? ihhhhh to twiiiiit banget sih kamu..." ucapku sambil mandangin wajah kangmasku.
"Emang aku to twiit, Va! makanya kamu pas aku nyatain cinta kan langsung klepek-klepek!" Ridho ngomong tapi sambil merem.
"Dih, nglinduuur!"
"Nggak ngelindur, Va!" Ridho langsung melek.
Astogeee, dia nggak bener-bener tidur ternyata. Kesenengen banget mesti pagi-pagi dipuji aing. Eh, tunggu. Betewe ini masih malem atau pagi. Aku gratakan hape yang ada di meja.
"Semalem ada yang missed call-in mulu tuh! ganggu banget, jadi aku senyapin suaranya!" kata Ridho yang ngeloyor pergi, aku cuma oh aja.
"Baru jam setengah 5," gumamku.
"Emang siapa yang nelpong malem-malem?" aku ngomong sendiri.
Dan setelah diliat, ya siapa lagi kalau bukan pak Karan. Haish, nggak kira-kira dia missed call sampai 40 kali, nggak pegel itu tangan.
Beralih ke chat berwarna ijo royo-royo, disana pun banyak chat dari dia.
📱Kamu dimana?
📱Heh, Reva! angkat telpon saya!
📱Kamu pingsan atau pindah planet, huh?
📱ANGKAT, CEPAT!
📱REVA! SEBENARNYA KAMU KEMANA? KENAPA TIDAK ADA DIKONTRAKAN?
Dan banyak lagi chat dari mantan bos aing yang galaknya ampun-ampunan, capslocknya bisa jebol semua. Sebagai mantan karyawan yang sabodo amat, aku pun cuekin aja chat ataupun missed call dari adek sepupu yang beberapa waktu lalu ngutarain niatnya untuk mempersunting aing.
Beberapa detik kemudian berkumandanglah adzan subuh. Dan aku mencium bau harum dari arah dapur, kayaknya bu Ratmi lagi masak. Tapi aku nggak denger bletak-bletok orang lagi ngegoreng atau srang-sreng orang lagi numis atau apalah gitu. Atau bau makanan ini merupakan halusinasib aing yang perutnya udah kruyukan daritadi? tau, deh!
Pas aku lagi ngantongin hape, ternyata pak Sarmin udah siap mau pergi ke masjid.
"Loh kok disini Nak Reva?" tanya pak Sarmin. Dia mungkin kaget kenapa aku ada di ruang tamu.
"Eh iya, Pak. Mau ke masjid ya, Pak?" tanyaku.
"Iya, Nak. Sama Ridho juga, dia katanya mau nyusul. Bapak ke masjid dulu, sudah adzan..." kata pak Sarmin.
"Iya, Pak..."
Aku segera ke kamar buat ambil baju, niat ingsunau mandi gitu. Eh, baru juga beberapa langkah aku ketemu sama bu Ratmi yang juga udah pakai mukena.
"Ibu ke masjid sebentar ya, Nak..." kata bu Ratmi.
"I-iya, Bu..."
"Lah yang masak tadi siapa? baunya harum dan bikin laper!" aku dalam hati.
Selepas bu Ratmi pergi, Ridho pun udah gagah dengan baju koko dan sarung, kayaknya udah mandi juga dia, soalnya dia segeran gitu sama tuh rambut masih basah juga.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Mau sholat ke masjid!" jawab Ridho.
"Terus aku sama siapa?"
"Ada bu Ratmi kan?" Ridho malah balik nanya.
"Bu Ratmi juga baru aja pergi ke masjid, aku takut ah di rumah sendirian!"
"Nggak, nggak boleh! aku nggak mau sendirian pokoknya, aku takut! aku mau mandi, kamu tungguin di depan pintu!"
"Reva, kamu itu udah bangkotan bukan anak kecil lagi. Masa iya mandi harus ditungguin?" Ridho geleng-geleng kepala.
"Nungguin gitu aja kamu protes, Dho? gimana kamu mau jadi suami aku yang siap melindungiku kapan aja dan dimana aja? gombal-gambel kamu, Dho! semua janji kamu itu palsu!" aku ngecepres.
Ridho nggak jawab dia cuma nempelin punggung tangannya di jidat nong-nongku.
"Nggak panas! saha ieu, teh!"
Aku singkirin tangannya, "Aing teh maung!" jawabku kesel.
"Aku nggak kesurupan, Dho!" lanjutku.
Dia senyum, " Ya kan barangkali, Va! abisnya kamu ngomong nyerodot aja nggak ada titik sama komanya,"
"Ya dah sana mandi. Aku tungguin disini, nanti aku sholatnya di rumah aja..." Ridho muterin badanku dan ngedorong aku buat masuk ke kamar mandi.
Aku yang ngedenger kangmas mau nungguin dan nggak jadi ke masjid agak lega, karena berarti aing nggak jadi sendirian di rumah yang lumayan asing ini. Ya nggak lucu lah, aing pingsan di rumah orang karena liat penampakan atau sejenisnya.
Tapi ya, walaupun udah dibilangin bakal ditungguin tapi akunya tetep nggak tenang. Aku pengennya sat set sat set kelar mandi. Pokoknya asal ketemu air aja, mandi yang khusyuk nya kalau aku udah balik lagi ke kontrakan. Kalau perlu aku mandi sehari sampai 7 kali deh, biar jebol itu rekening air.
Dan pas aku buka pintu, eh iya kangmas masih nungguin. Dia nyender di dinding sambil ngelipet tangannya, wajahnya adem bikin aing jadi kesengsem.
"Kok cepet?" tanya Ridho.
"Takut kamu kram dan pegel karena kelamaan nungguin!" aku ngeles.
Sembari nunggu aku bersiap, Ridho ngulang lagi tuh wudhunya. Kan tadi batal karena pegang jidatku. Ya udin, kita ngelakuin dua rakaatnya di ruang tivi yang nggak luas-luas banget.
Pas kita udah selese, pak Sarmin dan bu Ratmi balik dari masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah.
"Nak Ridho, ada beberapa orang yang akan ikut kita mencari teman kalian. Kalian bersiaplah," kata pak Sarmin.
"Baik, Pak haji!" jawab Ridho.
Karena kamar yang ada cuma satu, jadi gantian aku sama Ridhoakainya buat ganti baju yang dirasa fleksible buat menjelajah hutan. Tadi Ridho duluan yang ganti sementara aku sembari menunggu memilih buat ngerapihin mukena dan balikin lagi ke bu Ratmi.
Dan pas aku udah udah selesai ganti dengan outfit andalanku jeans dan kaos lengan panjang yang menurutku udah paling simple, aku pun keluar dari kamar. Tapi aku sayup-sayup ngedenger ada orang ngobrol di teras.
"Ridho ngobrol sama siapa?" aku bertanya dalam hati.
"Samperin, ah!"
Baru juga beberapa langkah menuju ruang tamu, bu Ratmi manggil.
"Nak Reva mau kemana?"
"Ke depan sebentar, Bu..." jawabku.
"Oh ya, sekalian panggilkan Nak Ridho untuk sarapan dulu sebelum kalian berangkat ke hutan," ucap bu Ratmi.
"Iya, Bu..."
Aku lanjutkan langkahku yang sempat di pause perkara dipanggil bu Ratmi, istrinya pak Sarmin.
Pas handle di buka ternyata aku ngeliat Ridho lagi duduk berhadapan dengan seseorang, seorang wanita lebih tepatnya.
"Eh, Reva. Udah siap?" tanya Ridho.
Dan wanita itu berbalik, dia memutar badannya menatapku.
...----------------...