
Pagi harinya, ketika aku buka pintu depan.
Aku dikagetkan dengan begitu banyak ikan busuk yang ada di depan pintu ruang tamu. Bau amis begitu menusuk hidung.
"Hoooweeeeekkkk!" aku ngibrit ke kamar mandi.
"Kamu lari-larian begitu ada apa?" tanya pak Karan.
Aku nggak ada waktu buat jelasin, ini perut udah terlanjur mual dan pengen dikeluarin isinya.
Ridho yang denger aku buka pintu kamar mandi dengan kasar pun keluar dari kamar Mona.
Ngeliat aku yang mual-mual dia inisiatif buat pijetin nih tengkuk.
"Keluar sana, Dho! ntar kamu jijik!" kataku yang berdiri di wastafel kamar mandi.
"Nggak lah. Itung-itung latian jadi suami siaga," kata Ridho.
"Kamu masuk angin apa gimana?" tanya Ridho.
Aku pun segera mencuci mulutku dan ngebiarin kran ngebuka beberapa saat lalu menutupnya lagi.
Aku berbalik dan geleng-geleng kepala.
"Muka kamu pucet!" Ridho ngebelai pipiku.
Gimana nggak pucet, orang lambung berasa dikuras. Pak Karan datang ngecek keadaanku juga.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya pak Karan.
Aku menggeleng lagi. Suwer deh, aing nggam ada tenaga. Ridho mapah aku keluar kamar mandi. Jangan pada protes ya, katanya rumah biasa tapi kok ada wastafel dalam kamar mandi. Tanya aja sama yang punya rumah ya, ntar aku kasih nomer sepatunya. Ini rumah minimalis, bagus dengan design rumah jaman sekarang tapi nggak mewah.
Keluar dari kamar mandi aku coba dengan sisa tenaga buat bilang kalau di depan ada ikan busuk banyak banget.
"Masa sih? tapi seharusnya kalau ada orang yang melakukan itu hantu Gadis kan harusnya ngasih tau kita..." kata Ridho.
Aku menggeleng, "Mungkin Gadis udah pikun! dia lupa disuruh jaga malah tidur, eh hantu tidur juga nggak sih?" aku malah mikirin hal yang nggak penting.
"Kamu tiduran dulu di kamar Mona. Biar aku cek keluar," kata Ridho yang mapah aku ke kamarnya Mona diikuti pak Karan.
"Kita cek keluar," ajak Ridho pada mantan bosnya.
"Kamu saja!" sahut pak Karan cuek.
"Saya nemenin Reva, kasian kalau ditinggal sendirian!" lanjutnya.
Ngeliat keadaanku yang lemes, Ridho nggak nyautin tuh bos rese. Dia keluar kamar dan membiarkan pintunya tetap terbuka.
"Ada apa, Mas? hoaaaamph," tanya calon adek ipar yang baru bangun.
"Reva ada di kamar kamu, temenin dulu sana! Mas mau ngecek pintu depan," bukannya ngejawab pertanyaan si Mona, Ridho malah nyuruh adeknya buat liat kondisiku.
Tapi Mona nggak langsung ke kamarnya, aku denger dia masuk dulu ke kamar mandi. Setelah cuci muka dan keliatan seger baru dia nemuin aku.
"Kenapa, Mbak?" tanya Mona yang berdiri nggak jauh dari tempat tidur. Sedangkan pak Karan duduk di tepi ranjang sambil pijit-pijit telapak tanganku yang rasanya dingin.
"Mbak lagi sakit?" Mona nanya lagi.
"Dia habis menemukan ikan busuk di luar!" jawab pak Karan mewakili aku yang nyebutin kata 'busuk' aja perutku udah bergejolak.
"Ikan busuk?" Mona muter bola matanya kayak bianglala.
"Astaga Mona, kenapa juga harus nyebutin kata 'ikan busuk' lagi. Perutku mendadak berontak ini," aku protes sama Mona dengan sisa tenaga yang ada.
"Yaaaa, Maaaaas!" sahut Mona dengan lupa ngatur volume biar enak di denger.
"Bentar ya, Mbak! aku samperin mas Ridho dulu!" kata Mona. Aku pun ngangguk.
Sayup-sayup aku denger kalau Ridho minta keresek kecil ama yang besar. Dia juga minta disiapin pel-pelan. Beneran calon suami idaman, dia tanggap apa yang harus dia lakuin.
"Heh, jangan ngelamun!" ucap pak Karan.
Aku maksain senyum walaupun cuma sekian detik, karena sesungguhnya senyuman aing tuh bikin candu, jadi harus dikondisikan.
Pak Karan sekarang ngambil tangankubyang lain dan dipijetnya lagi, "Saya kan sudah bilang. Lebih baik kamu tinggal di rumah saya yang lain, disana lebih aman karena ada orang-orang saya yang menjaga rumah itu 24 jam,"
Aku nggak ada tenaga buat ngejawabin, tadi saking keselnya sama Mona aja makanya aku bisa keluar suara.
"Pikirkan lagi, ide dari Ridho itu sangat buruk. Apa perlu hal yang buruk terjadi dulu baru kamu akan mengerti?" lanjut pak Karan.
Aku cuma natap kedua matanya, lalu pandanganku beralih pada jendela yang ada di kamar ini. Ada sedikit pergolakan batin. Memang apa yang dikatakan pak Karan ada benarnya juha. Kita udah minta bantuan Gadis si hantu rusuh, tapi malah nggak ada hasilnya. Malahan sampai saat ini dia nggak nongol sama sekali. Disini aku jadi tau, bukan cuma manusia aja yang suka ingkar janji, ternyata hantu juga begitu, sama aja.
Aku nggak tau apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Aku denger Mona dan Ridho lagi bersih-bersih di luar.
Aku yang ngerasa nggak enak pun berusaha buat bangun, "Aaawhh!"
"Jangan bangun dulu, kamu masih lemah. Biar aku telfon dokter!" pak Karan ngeluarin hapenya, tapi aku cegah.
"Nggak usah, aku nggak sakit!" kataku.
"Tapi muka kamu pucat!"
"Nanti juga baikan, ini bukan penyakit yang serius, please!" ucapku, padahal aku takut banget kalau iya pak Karan manggil dokter terus aku dituntin enjus enjus. Oh, No!
Ridho masuk ke dalam kamar, "Aku belikan bubur, ya?"
"Nggak usah, nanti kamu telat!ending kamu mandi aja, terus siap-siap ke kantor!" ucapku yang udah kayak bini yang care banget ama suaminya.
Pak Karan naikin satu sudut bibirnya, "Oh jadi kamu itu sudah bukan pe----"
Aku bangkit dan langsung tutup mulut pak Karan supaya nggak ngelanjutin ucapannya. Aku takut Mona denger.
"Tolong jangan bicara yang aneh-aneh!" ucapku yang kemudian ngelepasin tuh bekepan di mulut adek sepupu.
"Biarin aja dia mau ngomong apa juga, Va! nggak ngaruh buat aku! aku malah nggak suka demi dia nggak ngomong yang nggak enak kamu main nutup mulutnya dengan tangan kamu itu" kata Ridho yang mendekat ke arahku.
Aku yang atut kangmas berpikiran yang iya iya pun memilih buat berdiri walaupun kepala kliyengan.
Hap!
Ayang nangkep aku supaya nggak jatuh.
"Jangan langsung berdiri! kalau jatuh gimana tadi?" kata Ridho khawatir, aku berdiri degan di sanggah tangan Ridho yang melingkar di pinggangku.
"Tiduran lagi, biar aku bikinin teh!" kata ayang Ridho yang nyuekin pak Karan.
"Mau bikin teh gimana, Dho? kita kan belum punya komporr!" ucapku.
Dan Ridho auto nepok jidatnya sendiri, "Iya juga, yaaa!"
"Kalau kamu ada urusan, pergi saja. Reva biar aku yang menjaganya. Jangankan yang lain, teh hangat saja tidak bisa kamu sediakan!" ucap pak Karan yang bikin suasana jadi panas!
Yassssaaaalaaaaaaaaamm! ribut lagi nih pasti, aku auto pingsan.
...----------------...