Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sesaji


Ridho nyuruh aku buat mandi dan sholat. Tapi baru juga mau ngelakuin perintah dari calon imam dunia akherat, ternyata aku ada 'halangan'. Tau lah apa yang dimaksud. Bendera merah sedang berkibar pokoknya.


Mungkin ini salah satu alasan kenapa aku bisa ngalami fenomena tindihan tadi. Aku yang lagi datang bulan ditambah tidurnya udah nglewatin waktu ashar bahkan maghrib, bikin syaithon-syaithon yang terkutil itu pada kesenengen karena kayak punya kesempatan buat gangguin gitu.


Oh ya, karena bahan makanan sudah ada beserta peralatan masak memasak udah tersedia. Malam ini lidahku bakal dimanjakan sama masakannya kangmas. Aku emang calon istri yang warbiasah ya, bisa dapetin calon suami yang jago di dapur. Bakalan betah aku dimasakin terus.


"Ayok, makan!" ucap Ridho yang udah bikin sop daging.


Sedangkan Mona tadi bikin sambel kecapnya.


"Beuh malam-malam gini emang enak makan yang anget-anget dan berkuah!" ucapku yang udah ngiler ngeliat apa yang sudah tersaji di mangkok besar.


"Tadi aku sempet liat si Gadis, selewatan doang pas aku habis tindihan. Jangan-jangan itu hantu yang ngerjain aku..." aku nuduh Gadis dalam batin.


"Vaaaa ... makan dulu, jangan ngelamun!" ucap Ridho.


"Tauk nih! pacarnya ada di depan mata malah ngelamun nggak jelas, lagi mikirin siapa, hayooo?" ucap Mona mancing keributan.


"Mon jangan ngadi-ngadi deh, aku jejelin sambel baru tau rasa!" ancamku. Sedangkan Ridho cari aman nggak mau komen.


"Dho besok aku mau medical check up!" ucapku.


"Tapi aku kayaknya nggak bisa nganterin..." kata Ridho.


"Nggak apa-apa, ntar aku naik pesen ojol aja..."


"Semua pintu dan jendela jangan lupa di kunci, kalau ada suara-suara mencurigakan cepet telfon aku!" suruh Ridho.


"Iya, Dho..." ucapku.


"Kalau aku pasti denger kalau ada yang grudag-grudug, kalau Mona beda lagi. Mau ada


Setelah makan malam bareng, Ridho pamit pulang. Ternyata dia udah pindah ke kosan yang di samping rumah ini. Barangnya Ridho emang nggam banyak cuma dua tas besar. Jadi dia nggak riweuh kalau mau pindah-pindah kosan.


Malam ini aku berharap nggak ada gangguan apapun. Baik dari orang yang emang sengaja berniat jahat maupun dari para makhluk ghoib yang nggak ada kerjaan.


Tapi semua itu sepertinya hanya dalam angan-angan. Nyatanya tengah malam ada suara-suara aneh yang berasal dari samping rumah ini.


Aku duduk dan berusaha buat najemin pendengaranku.


Yap, ada orang yang lagi mondar-mandir nggak jelas, padahal waktu udah nunjukin pukul 3 pagi. Kayaknya terlalu dini buat beraktivitas kayak nyabutin singkong misalnya.


"Siapa sih, gabut banget? hoaaammph," aku bergumam sendiri.


Aku yang cuma pakai baju tidur bawahan celana panjang ambil sweater dan ngiket rambut panjangku.


"Ini lagi si Gadis kemana? dimintain tolong malah kabur-kaburan mulu," ucapku sambil ngancing sweater yang batu aku pakai.


Aku baru kenal nih. gantu paling nggak konsisten sedunia, pasti sewaktu dia idup, dia sukanya php in orang. Makanya tuh arwahnya jadi gentayangan kemana-mana.


Mengingat nama Gadis aku jadi inget waktu aku tindihan. Aku penasaran kenapa di dalam mimpiku atau apalah itu aku ngeliat Gadis kayak deketin tapi mau nyelakain Ridho. Tapi menganalisis itu sekarang sepertinya buka waktu yang tepat.


Aku ambil hape dan mencoba keluar kamar. Suara kedebag-kedebug semakin jelas.


Aku ketok pintu kamar Mona.


Tok!


Tok!


Tok!


"Moooon?" bisikku dibalik pintu.


"Mon ada orang di luar, Mooon! buka pintunya!" aku masih bisik-bisik tetangga.


Tapi seberapapun aku mencoba manggil Mona, itu cuma sia-sia. Nggak ada sahutan dari dalam. Aku coba buka pintu kamarnya tapi dikunci.


"Astogeh, kenapa pakai dikunci segala sih?" aku berusaha buka pintu tapi tetep nggak bisa.


Akhirnya aku pukul tuh pintu karena saking keselnya.


Brak!


"Aaawh!" telapak tanganku yang sakit sendiri rasanya.


Praaaaaaang!!!


Kaca jendela di dapur pecah.


Aku yang kaget langsung jongkok dan tutup telinga. Buru-buru aku telpon Ridho, "Dho? cepetan ke kontrakan, Dho! kaca jendela ada yang mecahin! aku takut!"


"Kamu tenang aku kesana sekarang!" kata Ridho sebelum telfonnya ditutup.


Praaaaaaang!!!


Kini kaca jendela yang di ruang tivi yang dilempar dengan batu dan itu berhasil membangunkan si putri molor, Ramona.


Ceklek!


Aku berdiri dan berpegangan pada Mona.


"Mbakk ada apa ini, Mbak?" ucap Mona dia gemeteran.


"Mbak nggak tau, Mon!"


Dalam keadaan kayak gini aku nggak bisa mikir sama sekali.


Aku takut kalau ada rampok dan semacamnya.


Dan Tiba-tiba aja pintu dibuka seseorang.


Tap!


Tap!


Tap!


Langkah kakinya menuju ke tpat kami berada.


Aku dan Mona kompak teriak, "Aaaaaaa!"


"Hey, kalian tenang. Ini aku!" ucap Ridho.


Aku yang ngeliat Ridho ngelepasin tangan Mona dan berhambur ke pelukan kangmas, "Ada orang yang mecahin kaca jendela," aku nunjuk keca yang udah bolong.


"Kalian tunggu disini!" ucap Ridho.


"Tutup dan kunci pintu depan, dan jangan keluar apapun yang terjadi!" Ridho pergi keluar rumah.


Sedangkan Mona ngikutin aja apa yang disuruh Ridho. Dia ngunci pintu depan dan memegang kunci itu.


"Gimana ini, Mon? aku takut Ridho kenapa-napa," ucapku khawatir.


"Aku mau nyusulin Ridho!" kataku yang mau meraih handle pintu.


"Jangan, Mbak! bahaya. Tadi Mbak denger kan apa yang dibilang mas Ridho? kita disuruh nunggu disini," Mona ngingetin.


"Tapi, Mon---"


"Jangan, Mbak!" kata Mona.


Tapi aku nggak mau terjadi seauatu sama calon suami aing. Aku rebut kunci yang asa di tangan Mona dan lari keluar.


Ceklek!


Braaak!


"Mbakk Reva!" panggil Mona. Tapi aku nggak ngerewes.


Aku jalan ke arah samping rumah.


"Dhooooo!" aku panggil kangmas yang lagi berjongkok persis di depan pintu belakang rumah akses untuk masuk ke dapur.


"Dhooo, Ridhoooo?" aku dekati Ridho. Dia berdiri dan berbalik dngan seekor burung yang ada di tangannya.


"Kamu mau ngapain, Dho?" tanyaku.


"Kenapa kamu keluar?" Ridho nanya balik.


"Mbaaaak!" Mona dateng dari aeah belakang aku.


"Kalian berdua masuk!" suruh Ridho.


"Kamu jawab dulu, kamu mau apakan burung itu?" tanyaku.


"Ini, mau aku lepasin!" ucap Ridho yang kemudian membiarkan burung yang ada di tangannya terbang.


Dia nunjukin sebuah kertas yang di gulung di tangannya.


"Ada yang sengaja mengikat kaki burung tadi, beruntung cepet aku lepasin..." kata Ridho.


Dan bukan hanya itu, di depan pintu ada dupa yang dibakar dan juga sesaji.


"Itu apaan, Mas?" tanya Mona.


"Itu sesaji," jawab Ridho.


Aku dan Mona saling pandang.


Ridho lalu menyingkirkan sesaji itu, "Besok baru kita beresin! sekarang lebih baik kita semua masuk ke dalam!"