
Manusia kamfret emang, hobi banget bikin orang guondok setengah metong kayak gini. Aku ngelirik ke jok belakang, nggak ada setan. Maksudnya kalau ada mah, mau aku suruh buat ngejambakin nih lakik.
"Apa perlu saya bukakan pintu untuk anda, Nona?" tanya Ridho yang ngeliat aku masih lengket sama jok mobil.
"Jalan!" kataku nunjuk jalanan di depan.
"Okeey..." kata Ridho yang mengunci lagi pintu mobilnya.
Maap, ini Ridho mobil dapat nyolong atau dapet fasilitas dari kantor? Soalnya kan aku tau banget, dia lebih mengedepankan kepentingan adik dan ibunya daripada kepentingannya sendiri. Dan kalau diliat-liat nih mobil bagus dan nyaman juga.
"Jadi aku antar ke?"
"K-A-N-T-O-R!" aku menyebutkan dengan sangat jelas, moga aja dia nggak budeg.
"Baiklah, aku jamin kita akan sampai disana tahun depan..."
Aku refleks dan melotot ke Ridho.
"Maksud saya, kita akan sampai secepatnya!" dia meralat ucapannya tadi.
Rasanya aneh, jantung deg-degan dan nggak tau harus berbuat apa di dalam mobil berdua dengan kangmas yang bikin suasana nggak kalah horor. Ya gimana nggak horor, hati yang udah terbentengi dengan sangat kokoh bisa ambrol seketika hanya berbekal satu senyuman manis dari dia. Lalu, aku bisa lupa kalau dia udah ngeghosting aku gitu aja dengan seenak udelnya.
"Apa hidupmu jauh lebih baik, Va?" tanya Ridho tiba-tiba.
"Ya, tentu aja! aku nggak akan merana hanya karena seseorang!" ucapku yang nggak relate sama hati.
Nyatanya aku berusaha nyariin dia selama ini, tapi nggak pernah nemu. Termasuk di perusahaan yang dulu pernah nerima dia jadi karyawan. Ternyata Ridho udah resign duluan dari sana.
Ridho manggut-manggut, sambil nyetir. Senyum nggak, merengut juga nggak. Lempeng aja udah ekspresinya kayak jalan tol.
Kamu salah besar kalau ngira cewek itu makhluk yang lemah, nggak bisa bergerak maju karena tertahan cinta yang bikin sumpek pikiran dan kalbu. Cewek itu awalnya doang pada down, ngerasa putus asa, ngerasa nggak guna, nangis berhari-hari sampe puas. Tapi setelah semua rasa sakit itu dituntaskan, kita para cewek tuh bisa bangkit. Bahkan bisa lebih bersinar dari sebelumnya.
Nggak heran, banyak cewek yang lebih glow up setelah mereka ngerasain apa itu putus cinta.
Mungkin kata-kataku terlalu nylekit, sampe Ridho nggak ngomong apa-apa lagi setelah itu. Kita sibuk dalam diam sampai akhirnya aku udah sampai di depan perusahaan yang lagi aku rintis.
Mobil berhenti. Ridho nengok ke arahku. Tatapannya masih sama, dalem dan ah sulit banget buat dijelasin. Karena beberapa detik pandangan kita terkunci.
Tapi ketika dia mencondongkan badannya ke aku, sontak aja aku agak mundur dan mencoba narik handle pintu mobil dengan gugup.
"Tunggu!" kata Ridho.
Aku pun menengok dengan muka garang dengan segala kebencian, "Apalagi...?!'
Klik.
Dia mencet kuncian seatbealt.
"Sabuk pengamannya belum dibuka!" lanjutnya.
"Ck, begookk!" ucapku dalam hati.
"Hati-hati..." ucap Ridho setelah sabuk pengaman terlepas dari badanku yang super ramping ini.
Tanpa nunggu aba-aba aku menyambar tas dan kaki jenjangku keluar dari mobil Ridho.
Braaakkk!
Aku tutup mobil itu dengan kasar, lalu berjalan masuk ke dalam gedung yang di design sangat elegan buatku.
"Aaarghhhh! sialan!" aku lempar tas mahal ke atas sofa.
Tapi beberapa detik kemudian, aku samperin tuh tas karena inget berapa harganya.
"Deuh, bocel nggak ya?" ucapku sambil ngelus-ngelus tas mehong. Lalu aku taruh kembali dengan hati-hati. Aku senderin punggungku di sofa.
"Sumpeh, nyebelin banget tuh orang!" aku ngomel sendiri. Aku tumpangin kaki di kaki satunya.
Sedangkan tanganku mijitin kepala yang mendadak kliyengan, "Kalau aja Arlin nggak pake acara ijin ke rumah sakit, nggak bakal begini nih ceritanya!"
Aku bangkit dan bergerak ke arah meja kerja sambil bawa tas yang tadi sempet jadi kelempar sama tangan manja aing, aku taruh di meja kerja.
Aku ngambil satu dokumen dan mulai nyibukin diri sama kerjaan.
Aku sengaja biarin kaca jendela kantor yang segede itu terbuka, biar aku bisa ngeliat dunia luar kalau otak udah jenuh. Kayak sekarang, kepalaku udah nyut-nyutan rasanya, aku senderin kepala di kursi kerja super nyaman ini. Meremin mata bentar, biar nggak perih liat tulisan mulu.
Tapi niat awal yang cuma merem bentar eh malah keterusan. Pas aku buka mata ternyata langit udah gelap.
Aku kebangun karena aku ngerasa ada yang sliweran di depanku, bahkan aku bisa ngerasain kalau ada orang yang berada cukup dekat dengan wajahku dan sesekali mengusap pipi dan menciumku dengan sangat lembut.
"Ya ampuuun, bisa-bisanya ketiduran! huuufhhh," aku benerin posisi duduk yang agak merosot.
Aku gelengin kepala," bisa-bisanya pakai acara ngimpi segala,"
"Hoaaaammmph, jam berapa sih?" aku benerin rambut dengan jari, lalu ngeliat jam tangan yang ngelingker di pergelangan tangan.
"Setengah 7 malem? aku tidur apa pingsam, sih? bisa nggak kerasa udah lewat maghrib!" ucapku sambil beresin kertas yang ada di meja.
Sebelum pulang aku ke toilet dulu buat cuci muka, toilet yang letaknya di dalam ruanganku sendiri. Aku kondisikan pikiranku sendiri supaya nggak mikir yang aneh-aneh walaupun dalam hati nggak bisa dipungkiri kalau ada sedikit rasa dalam tanda kutip 'agak ngeri' nih pas nanti keluar dan nyusuri lorong sepi di lantai ini. Tapi ya udah, aku yakin ajah.
"Bismillah, nggak bakal terjadi apa-apa!"
Suasana udah mulai berbeda, aku segera keluar dari ruangan.
Mataku memicing saat aku ngeliat di depan ruanganku ini, ngejogrog manusia yang tadi pagi ketemu aku di cafe, lagi senderan di tembok sambil masukin tangan di saku celana.
"Akhirnya keluar juga," ucapnya reflek ketika ngeliat aku nutup pintu ruangan.
"Ngapain kamu kesini?" aku judes.
Aku sempet ngeliat kakinya, okeh napak ya gengs. Berarti orang yang di depanku ini masih terdaftar dalam golongan manusia.
Dia berjalan mendekat, "Saya baru ingat kalau anda--"
"Siapa yang ngijinin kamu buat masuk kesini?" aku nyerobot ucapan Ridho.
Dia nunjukin ID cardnya. Oke ya Reva guoblok jangan dipelihara, dia bisa nemuin aku karena dia utusan dari perusahaan sebrang yang lagi ada kerja sama dengan perusahaanku.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?" tanyaku mode galak.
"Sejak kapan ya? mungkin beberapa saat yang lalu," ucapnya sambil ngeliat arloji di tangannya.
"Yang tadi itu cuma mimpi kan ya? nggak mungkin dia masuk, terus...?" gumamku dalam hati.
"Pulanglah! ini terlalu malam untuk membahas soal pekerjaan," ucapku.
"Ini juga terlalu malam untuk anda kembali masuk ke dalam ruangan anda, Nona!" balasnya, menunjuk tanganku yang belum terlepas dari handle pintu.