Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ridho Kesurupan?


"Suruh tunggu dulu di ruang tamu, kami akan segera ke sana..." kata pak bos pada mbok Sri.


"Baik, Tuan..." kata mbok Sri yang kemudian menutup pintu.


"Kamu menghubungi dia?" tanya pak bos.


"Nggak, Pak. Saya saja habis kecekek setan. Mana bisa saya nelfon orang, saya teriak aja Bapak nggak denger..."


"Lalu bagaimana dia tau kalau kamu ada di rumah saya?"


"Waktu bapak ke kontrakan kebetulan Ridho juga lagi di sana, Pak. Kalau bagaimana dia bisa sampai disini, ya mana saya tahu dan tempe, Pak!" aku jawab sekenanya aja.


"Lagian ini sudah jam 11 malam, Pak. Mungkin dia khawatir Bapak bawa anak perawan orang dan belum dikembaliin jam segini,"


"Memangnya Ridho Bapak kamu?" pak bos sewot.


"Ya bukan sih, Pak. Tapi kan..."


"Ya sudahlah, kita temui dia di ruang tamu sekarang," pak bos berdiri dan berjalan ke pintu keluar.


Aku yang main ditinggalin pun segera berlari mengejar doi yang sulit diraih, eh sorry curcol dikit!


Nggak lama, kita udah sampe di ruang tamu. Ridho udah duduk. Tapi raut wajahnya beda, nggak tau kenapa. Kayak bukan Ridho gitu.


"Malam, Pak. Maaf saya bertamu malam-malam begini. Saya kesini mau..." ucap Ridho belum selesai tapi udah diserobot pak bos guaaaalakkk.


"Jemput Reva?" tanya pak bos yang kemudian duduk di sofa single sedangkan aku cuma berdiri. Bingung gaes aing mau pilih yang mana. Aih, susahnya jadi cewek antik.


"Ayo, Va! sudah jam 11, kasihan Mona sendirian di kontrakan..."


"Permisi, Pak..." kataku berpamitan.


"Hem..." pak Karan cuma berdehem.


Aku pun mengikuti Ridho yang berjalan keluar. Sampai di depan motor gede nya, dia ngasihin jaket.


"Pakai," kata Ridho


"Nggak usah,"


"Nggak usah ngeyel, udah malem. Besok pagi kita mau...


"Pergi ke rumah Karla kan?" aku meneruskan ucapan Ridho.


"Nah itu tau! nih tangkep!" ucap Ridho dan melemparkan jaket kulitnya ke muka ku.


"Aaaishhh! nyebelin banget, sih!"


Aku pun memakai jaket kepunyaan Ridho yang dipakai di badan aku tuh udah jelas kedombrongan. Tapi ya udinlah ya daripada aing masuk angin juga. Kalau Ridho sih cuma pakai kaos, mungkin kulit dia setebel badak. Jadi nggak akan ngerasa dingin apalagi meriyang.


"Nih," Ridho ngasih helem ke aku, helem putih yang abis dipakai sama si karet nasi warteg itu.


"Nggak usah pakai helm!" aku menolak untuk memakai helm bekas kepala si karet nasi.


"Aku emang temenan sama si Karla, tapi jujur aja aku lagi bete aja sama dia. Kok dia bisa mepet si Ridho, kan dia tau kalau aku sama Ridho tuh temenan. Iya temenan," ucapku dalam hati.


Ridho tetep nyodorin helm putih itu, "Pakai,"


"Nggak mau, udah cangkolin aja di motor,"


"Kamu ngerti nggak sih tentang safety dalam berkendara? ogah banget ditilang gara-gara kamu. Cepetan pakai!"


"Nggak mau! aku bilang nggak mau ya nggak mau!" aku sebel banget sumpeh sama si Ridho, nggak biasanya dia maksa begini.


"Aaarrrghhh!" Ridho ngebanting tuh helem. Aku sampe shock, sedangkan kita masih di pelataran rumah pak Karan yang luasnya nggak kira-kira.


"Hufh, tolong pakai..." kata Ridho dengan suara yang lebih rendah. Dia mengambil kembali helm putih itu, aku masih takut.


"Apa karena dia menyimpan cincin itu? tatapan Ridho jadi aneh, apa dia kesurupan? apa lebih baik aku kabur sekarang?" aku memandang Ridho nggak percaya.


"Reva..."


Aku berlari menuju pintu gerbang, pak Satpam pun melihatku dengan tatapan bingung. Tapi bodo amat, yang penting aku bisa pergi dari sini.


Aku fokus berjalan. Ini kawasan perumahan elit, belum ngejangkau jalan raya aja bikin betis gempor duluan. Ditambah lagi suasana malam yang dingin, masih untung aku pakai jaketnya Ridho.


"Astaga, nasibku sial banget hari ini!"


Lagi enak-enak ngedumel tiba-tiba, motor Ridho udah ngejar aku.


"Vaaa..." dia manggil.


"Duluan aja, Dho..." aku sebenernya takut di malam dan sunyi ini aku sendiri tapi gimana takut juga sama Ridho yang emosi, walaupun emang aku yang ngeselin.


"Va ... aku nggak maksud bentak kamu. Va berhenti dulu, Va!" Ridho yang mencoba menarik jaket yang aku pakai.


"Iya iya aku tau kok, Dho. Iya nggak apa-apa," aku mempercepat langkahku. Tapi Ridho ternyata menghentikan motornya. Dan malah ngejar aku yang udah pegel jalan kaki di lingkungan perumahan ini.


"Va, tunggu!" dia narik tangan aku, aku ketakutan.


Aku nggak mau digamparin sampe dua kali, nggak banget makasih. Aku melepaskan cekalan tangan Ridho.


"Reva, Reva! liat aku," Ridho menggoyangkan kedua bahuku dengan kedua tangannya.


"Dho lepas ya, Dho. Please biarin aku hidup Dho..." aku udah bercucuran air mata.


"Maaf..." Ridho memeluk aku erat, "Aku nggak bermaksud, nggak ... nggak ada maksud buat ngebentak kamu kayak gitu..."


"Jadi? kamu nggak kerasukan?" aku menjarak badanku sama Ridho.


"Kamu kira aku kerasukan jin?" dia menekan jidatku pakai telunjuknya.


"Iya," aku mengangguk sambil mengusap air mata yang mengalir ke pipi ku.


"Pantesan langsung ngibrit kayak gitu," Ridho ngusap ujung kepalaku, tumben.


"Ya udah sekarang pulang sama aku, ya? kalau pakai helm ku yang itu mau nggak? aku nggak bisa bawa kamu, kalau kamu nggak pakai helm. Bahaya..." kata Ridho nunjuk helm full face-nya.


Aku ngangguk, "Iya, deh ... tapi congor kamu nggak bau kan, Dho?"


"Sembarangan! mulut aku ini bau surga tau, nggak!"


"Ya udah kita pulang sekarang, udah hampir jam 12 malem loh!" Ridho narik tanganku, tapi mendadak aku menahan tangannya.


"Kenapa lagi?" dia menautkan alisnya,


"Cincin mana, Dho?" aku nanya keberadaan cincin berlian berbatu merah.


"Ada," dia menepuk saku jeans biru nya.


"Mana..." aku menengadahkan tanganku yang nggak dipegang Ridho.


"Buat apa?"


"Kayaknya cincin itu punya pengaruh buruk, malam ini biar aku yang simpan..." kataku meminta cincin itu kembali.


"Tapi ini beresiko buat kamu," kata Ridho.


"Dan buat kamu juga. Mungkin kamu nggak melihat atau diganggu yang gimana banget dan mungkin aja efeknya tiap orang beda-beda. Yang jelas biarin malam ini aku yang simpan, pmya?" aku nggak mau Ridho sampai kerasukan kayak pak Karan sewaktu menyimpan cincin itu.


Kalau aku yang dikejar setan kan masih ada Ridho yang nolongin. Nah kalau si kamfret ini yang kerasukan? Big No, ya!


"Dho..." aku masih menengadahkan tanganku.


Ridho buang nafas sebelum mengeluarkan cincin berlian dari sakunya dan menaruhnya di atas tanganku, "Udah, kan? kita pulang sekarang!"


Aku mengangguk, dan menyematkan cincin itu ke jari manisku, "Lindungilah aku malam ini, tuhan..."


...----------------...