
"Sementara kita mencari bersama-sama dan jangan berpencar dulu," ucap pak Sarmin.
Kita mah iya-iya aja. Komando ada pada pak haji. Cuaca pagi yang cenderung dingin bikin kita yang jalan masuk ke dalam hutan sama sekali nggak keringetan.
Selama menyusuri hutan aku nggak ngomong sama Ridho, mulutku kayak kekunci. Tapi mata jangan ditanya, udah kayak cctv berjalan aing. Nggak ada aku kasih kesempatan si mas pacar buat deket sama mbak Luri.
Walaupun aku 100% yakin kalau ayang Ridho cinta setengah metong sama Reva Velya, tapi jangan salah. Adanya perselekongan bukan karena ada niat pelaku, tapi juga ada kesempatan. Jadi emang kudu waspada kita.
"Kamu kenapa sih, Va?" tanya Ridho yang berada di belakangku.
Aing diem bae. Bodo amatlah, orang lagi bete.
Setelah kurang lebih 2 jam jalan, kaki udah mulai tuh otot-otot kaki pada pegel-pegel. Sebenernya aku udah ngerasa capek dari setengah jam yang lalu, tapi aku coba tahan. Masa aing kalah sama si Luri? nehi ya!
Banyak ranting dan akar pohon, aku harus berhati-hati takut jatuh apa gimana. Tapi ketika kaki udah kayak nggak kuat, untungnya pak Sarmin teriak.
"Kita istirahat!" ucap pak Sarmin.
Dan semua menurut, kita duduk di bawah lurusin kaki. Aku buka botol minum.
Glek!
Glek!
Glek!
Seger banget. Tapi pas aku mau minum lagi, ada tangan minim akhlak yang nyamber botol punyaku.
"Haus, Va..." ucap Ridho.
Dan aku ngeliat si mbak Luri ini buka termos kecil yang pasti isinya air kobokan, eh air panas.
"Mas Ridho mau kopi?" tanya mbak Luri, dia nyodorin satu cup kecil kopi.
"Mas Ridhonya aku lagi ngurangin kopi! sini buat aku aja!" kataku yang nerima cup dari tangan mbak Luri.
"Oh, mbak Reva suka kopi juga?" tanya mbak Luri, tapi aku cuma senyum-senyum tapi nggak ada manis-manisnya.
"Kopinya, pakdhe..." ucap mbak Luri yang ngasih kopi buat pak Sarmin.
Sedangkan Mas Rahman, Danang dan juga Juned mereka ngambil sendiri-sendiri. Kita istirahat bentar, aku senderan di dahan pohon.
"Ingat ya, disini jangan pernah ngelamun! pikiran tidak boleh kosong," kata pak Sarmin.
"Siap pak haji!" ucap mas Danang.
Aku yang tadi pegang cup yang isinya kopi panas pun berniat buat meminumnya. Tapi Ridho tiba-tiba mencegah.
"Kalau nggak biasa ngopi jangan ngopi, nanti asam lambung bisa naik" kata Ridho.
"Halah, bilang aja kamu yang pengen minum nih kopi kan? iya kan?" mataku memicing.
"Nggak, Sayang! aku minum air putih aja, kan kata kamu biar sehat!" kata Ridho.
Ya udah aku nggak jadi minum, aku taruh cup kopi di sampingku. Sementara yang lain ngatur napas dulu sebelum dapat instruksi lagi dari pak Sarmin.
Sreeek!
Sreeek!
Sreeek!
Aku ngedenger kayak ada kaki yang diseret-seret.
"Ah, mungkin aku halusinasib lagi!" aku geleng-gelengin kepala.
"Kenapa, Va?"
"Kayak ada suara orang jalan tapi diseret!" aku jawab sambil mataku berkeliling kesana kemari, waspada.
"Makanya jangan kebanyakan diem, marah sama akunya jangan lama-lama," kata Ridho memperingatkan.
Pak Sarmin sepertinya merasakan hal yang tidak biasa, terbukti dari ekspresi yang ditampilkannya saat ini. Dia nampak begitu waspada. Pak hajiembaca sesuatu, ya mungkin untuk perlindungan kita semua. Bagaimanapun kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi di hutan ini.
"Ada apa pak haji?" tanya Rahman mewakili kita semua.
"Sepertinya kita harus secepatnya berpindah, tempat ini tidak cukup aman untuk beristirahat. Kalian sudah bisa melanjutkan pencarian?" tanya pak Sain.
"Bisa pak haji, kalau begitu kita harus segera pergi dari sini," kata Ridho yang menjauh dariku dan membantu mbak Luri memasukkan kembali perbekalan ke dalam tas.
"Hhhhhhaaaaah..." ada nafas seseorang yang terdengar di telinga kananku. Aku menengok tapi nggak ada orang. Buru-buru aku gendong tasku lagi. Bulu kudukku merinding.
"Ayo, Vaaaa!" teriak Ridho yang sudah mulai berjalan. Sedangkan aku, jalanku melambat karena beberapa kali hembusan nafas itu terasa di telinga kananku.
"Ayo, Va. Nanti kita ketinggalan sama yang lain!"
"Yang lain atau sama mbak Luri?" aku nyindir.
"Kamu itu kenapa sih, Va? sepanjang hari ini kamu itu kayak marah mulu sama aku?" Ridho minta penjelasan, tapi aku malah ngelewatinnya begitu aja.
Ayang berada di barisan paling belakang dan aku di persis di depannya. Beberapa kali dia manggilin tapi aku masih gedeg, kenapa juga dia bantuin Luri. Orang yang lainnya kan bisa.
Ya aku tau, mereka semua disini karena mau ngebantu aku, tapi aku nggak suka pacarku sendiri ada perhatian ke orang selain aku, apalagi ke mbak Luri. Aku sama sekali nggak suka.
Lumayan lama kita berjalan menapaki tanah yang dipenuhi dedaunan kering.
"Mbaaak, mbaaak Sena. Kamu dimana sih, Mbak? aku dateng kesini buat jemput kamu, Mbaaakk!" aku bergumam sendiri.
Tapi balik lagi, aku tuh kayak ngedenger langkah kaki orang. Aku celingukan.
"Perhatikan jalan kamu, Va..." kata Ridho.
Aku sih diem ae, lagi males nanggepin dia ngomong. Ini jalan semakin lama semakin susah ya, tapi aku mencoba buat ngedarin pandangan. Kali aja aku nemuin mbak Sena ngegeletak dimana gitu.
Beruntung ini bukan jalan setapak banget, jadi medan masih oke lah. Tapi pak Sarmin tiba-tiba kasih kode buat kita ngumpul semua.
"Baiklah, matahari semakin naik ke atas. Kita harus keluar dari sini sebelum matahari tenggelam. Jadi kita bagi dua kelompok. Kelompok yang pertama, Saya, Danang dan Juned. Kelompok yang kedua, Ridho, Reva, Rahman dan Luri..." kata pak Sarmin.
"Loh, loh, loh, ini mbak Luri kenapa ada dikelompok saya pak Sarmin? elah!" aku protes, tapi cuma dalam hati. Batin mah udah berontak tapi mulut kayak susah banget buat ngomongnya.
"Mas Rahman, tolong jaga mereka. Nanti kita bertemu disini lagi sekitar 3-4 jam dari sekarang," lanjut pak Sarmin.
"Baik, pak haji..." ucap mas Rahman.
Ya udah, pak Sarmin ngelanjutin perjalanan dengan 2 orang dibelakanganya meninggalkan kita berempat disini.
"Mas Rahman? kita bisa istirahat dulu sebentar?" tanya mbak Luri yang udah pucet.
"Iya, Mbak! boleh, boleh..." kata mas Rahman.
Kalau fisik nggak kuat mendingan nggaknusah ikut, daripada nyusahin. Kita mau nyari orang bukan mau camping!
Kita nyari tempat buat selonjoran, tapi pas si Luri mau ngelepas tas yang lagi dia gendong. Tiba-tiba dia oleng.
Dan Hap!
Ditangkap siapa?
Rahman?
Bukan! tapi mas pacar!
Disitu tanduk aing udah nongol separo nih. Badan Luri ditahan Ridho, sedangkan tasnya udah jatuh duluan ke tanah.
"Hati-hati, Mbak!" kata Ridho.
"Astaghfirah!" mas Rahman deketin mbak Luri, dia pinggirin tas yang kejengkang.
"Mbak Luri nggak apa-apa?" tanya Rahman lagi. Si cewek kemayu cuma geleng kepala.
Dengan insiden dadakan ini aku yang udah duduk cuek aja, kayak nggak ngeliat apa-apa.
"Duduk duku, Mbak!" kata Rahman.
Dan lagi-lagi, dia duduk dibantu pacar aing. Disitu hidung aing udah kembang kempis, dan itu apa artinya? Ya aing udah MURKAAAAAA!
Aku berdiri dan main pergi.
"Va? mau kemana, Va...!" teriak Ridho.
Dia ngejar dan narik lenganku.
"Kamu mau kemana? kita istirahat dulu!" kata Ridho.
"Mana tangan kamu?" aku nanya dengan tatapan sinar X.
Ridho bingung, aku ambil kedua telapak tangannya.
"Tadi tangan ini kan yang udah nangkep badan mbak Luri?" kataku, dan aku hempaskan begitu aja tangannya mas pacar.
...----------------...
...----------------...