Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Perpustakaan Kampus


"Nggak usah gugup kayak gitu juga kali, Mbak. Mona ngerti kok," lah si Mona cengar-cengir dewek!


"Nggak gitu, Mon!"


"Halah, Mbak nggak usah malu. Lagian aku sih setuju aja kalau Mbak jadi pacarnya mas Ridho," Mona makin ngelantur nggak jelas,dia makan juga kayak kesetanan. Ayam yang ketemu telor dalam satu piring itu diembat sama Mona barengan sambel yang katanya puedessse pol-polan.


"Ssshh, edan yang bikin sambel!" Mona mendesis, lalu minum dengan bibir yang hampir jontor.


"Sshhh, Mbak Reva kok nggak kepedesan?" Mona megap-megap.


Aku gelengin kepala, "Nggak begitu pedes kok, Mon!"


"Wah, aku aja yang tingkat nahan pedesnya lumayan jago, buat aku ini pedes banget, lah apakabar kalau yang makan ini mas Ridho? bisa minum air 1 liter dia!" Mona ngomong dengan susah payah.


Dia mulai garuk kepala pakai punggung tangan, "Pedes tapi kok enak, ya? racun banget nih sambel!" aku cuma ketawa aja liat tingkah bocah ini.


"Mon? itu ayam ama telor ketemu di perut kamu nggak berantem, tuh?"


"Nggak, Mbak! sssshh, kan aku udah sakti mandraguna," Dia jawab sambil kasih sambel lagi diatas suwiran ayamnya.


Setelah makan dengan tingkat kepedesan diatas rata-rata, kita berdua istirahat dulu sebelum pergi ke kampus Mona jam 3 nanti.


Aku rasanya baru mau ngliyep, tapi si Mona ngegoyangin badan aku, "Mbak mbak! katanya mai nemenin ke kampus? Mbaaaak...?"


"Jam berapa sih, Moooon?" aku jawab sambil merem.


"Jam 3 sore, Mbak! ayo dong, Mbak! aku udah siap, nih..."


"Iya iya, bentar aku mandi dulu!" aku bangun dan ngeloyor ke kamar Mandi.


Setelah beberapa saat, aku balik keluar udah pakai baju lengkap. Nggak ada Mona. Ah, mungkin dia nunggu di ruang tamu. Aku lihat di cermin memar dan luka di sudut bibirku sudah lebih tersamarkan.


"Ampuh juga nih minyak dari Biyungnya si Karla," aku tersenyum senang.


Aku mengambil botol minyak di tasku, "Aku oles lagi, ah!" aku menuangkan minyak itu di ujung jari telunjukku dan aku oleskan di bagian yang membutuhkan itu.


Aku yang lagi tepokin bedak di pipi dikejutkan dengan teriakan Mona, "Mbak? dandannya udahan beloooom...?"


"Iyaaaaaa, ini mau keluaaaaar!" aku nyaut pakai nada C.


Aku pun menyambar tas dan keluar dengan menggerai rambut panjangku yang hitam berkilau.


"Yuk?" aku langsung buka pintu depan. Mona langsung ngikutin.


Sebelum pergi aku kunci pintu dulu dan aku simpan lagi ke dalam tas. Sedangkan Mona udah nyetarter motor matic-nya.


"Kalau kamu yang bawa, kayak jomplang banget, Mon!" aku protes. Secara badan Mona mungil banget, kayak kurang pas gitu diliatnya kalau aku yang dibonceng dia.


"Mbak Reva yang mau nyetir?"


Aku nyuruh dia turun dan pindah ke jok belakang, "Aku aja, kamu tinggal ngasih tau aja jalannya..."


"Oke," sahut Mona.


Setelah memakai helm dan jaket aku pun segera meluncur membelah jalan raya. Nggak begitu jauh sih nih kontrakan sama kampus Mona. Jadi cukup 15 menit aja kita udah nyampe di kawasan kampus tuh bocah.


Kalau dilihat sih enak dan nyaman banget ini kampus. Banyak pohon rindang dan juga tamannya juga. Tapi kalau sore-sore kayak gini hawanya jadi beda ya gaes.


"Ehm, Mon? ini belok ke mana?" tanyaku pada Mona saat melihat sebuah persimpangan.


"Kanan, Mbak..."


Aku langsung aja gas, kemana arah yang ditunjuk Mona sambil sesekali melihat ke arah kaca spion.


"Duduk disana saja, Mbak..." lirih Mona ia menunjuk sebuah bangku yang masih kosong.


"Hai, Mon? siapa nih? kayaknya bukan mahasiswa sini," tanya seorang pria yang sepertinya teman Mona.


"Pacarnya mas ku ... kalian jangan aneh-aneh!" kata Mona.


"Galak amat, Mon! lagian siapa juga yang aneh-aneh? kan cuma kenalan doang, Mon!" ucap si cowok tadi aku mah males nanggepin.


"Sssstttt! hey, kalian! jangan berisik, ini perpustakaan. Kalau mau ngobrol di luar sana!" tegur seorang petugas wanita dengan kacamata nangkring di hidungnya yang minimalis.


Mona ngejawab, "I-iya, Buk..."


"Ish, ini tuh gara-gara kamu, Beno! aku jadi dimarahin," kata Mona.


"Dih kok malah nyalahin aku, sih? aku kan cuma minta kenalan sama kakak cantik ini," kata cowok yang ditatap nggak enak sama Mona.


"Udah lah, minggir. Kita mau lewat..." Mona narik aku menjauh dari temannya itu.


Mona ngajak aku ke bangku paling pojok. Deretan meja itu kosong. Mungkin karena hari makin sore dan kebetulan pengunjungnya lagi sedikit.


"Mbak tunggu disini, ya? aku mau buku di rak sana..." kata Mona sambil nunjuk ke bagian tengah perpustakaan.


Aku nganggukin kepala, "Ya udah aku tungguin disini,"


Mona pun pergi menjauh, dan itu cewek udah ilang aja dibalik rak buku yang menjulang tinggi. Awalnya aku cuma duduk dan nungguin Mona, tapi karena tuh bocah nggak nongol-nongol akhirnya aku pun bergerak menyusuri ribuan buku yang ditata dengan sangat rapi dan teratur di ruangan ini.


Aku sempat menarik sebuah buku, dan mulai membacanya. Namun, sepertinya ada seseorang juga di belakangku yang sedang melakukan hal yang sama.


Sesaat aku merasakan orang tersebut seperti melakukan hal yang berulang-ulang. Menarik dan memasukkan buku, dan suara itu membuatku sedikit terganggu.


"Hey, bisa nggak sih jangan berisik?" aku memutar tubuhku menegur orang yang ada di belakangku.


Dan yang aku lihat...


Seorang wanita berambut pendek yang berdiri mematung dengan memegang sebuah buku bertuliskan alam kegelapan.


Aku merasa ada hal yang nggak beres, dan mengembalikan buku yang ada di tanganku ke dalam rak.


Ketika aku akan melangkah, dia mengatakan, "Mau kemana?" seraya menoleh memperlihatkan wajahnya yang pucat dan tanpa ekspresi.


"Ah! h-hantuuu..." aku berjalan mundur, sebelum akhirnya mengambil langkah seribu, melewati rak-rak buku yang nggak kehitung jumlahnya.


Si wanita berjalan mengikuti kemana aku berlari, "Hah ... hhh ... hhhh," rasanya dia berjalan lambat namun yang aku lihat jarak kami sangat dekat.


Aku terus berlari sampai akhirnya aku menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku di tangannya.


Braaaakkk!


"Sorry sorry! aku nggak sengaja!" aku langsung membantunya membereskan buku tanpa melihat siapa orang yang bertabrakan denganku.


"Nggak apa-apa," jawab pemilik suara yang diduga wanita dan aku sangat familiar dengan suara itu.


Aku mendongak untuk memastikan dugaanku itu benar atau salah.


"Mbak Senaaaa?" aku memekik saat melihat sosok mbak Sena berada tepat di hadapanku. Dia yang dipanggil namanya langsung mengangkat wajahnya.


"Revaa?"


...----------------...