Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bus Hantu


Malam ini aku dan Ridho udah sampai di halte. Aku menyiapkan satu tas punggung, begitu juga dengan Ridho. Kita nggak mungkin bawa koper, karena sudah pasti kan jauh lebih ribet.


"Ini beneran nunggunya disini?" tanyaku.


"Kayaknya..." jawab Ridho.


"Loh, kok kayaknya? emang kamu belum pernah naik bus ke arah sana?"


"Belum pernah sayang? lagian waktu itu kan kita kesana bareng-bareng. Dan itu pertama kalinya aku ke rumah Karla," kata Ridho.


"Beuuhhhh dipanggil sayang, hati adek meleleh Baaaaaaang!" aku dalam hati.


Tapi cengiranku ini seketika berhenti karena angin dingin yang tiba-tiba aja menerpa tubuhku.


"Gila, dingin banget!" kataku.


"Ya iyalah, kan ini udah jam 10 malem..." jawab Ridho yang celingukan.


"Jam berapa sih di tiketnya?" aku nanya, soalnya kita udah nunggu hampir satu jam tapi si bus ini kok nggak lewat-lewat gitu.


"Jam 9..." sahut Ridho, dia duduk di sampingku dengan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket.


"Mungkin lagi ngaret," lanjutnya.


"Ngaretnya nggak kira-kira ini mah! jangan-jangan kita salah halte?" aku natap kangmas Ridho.


"Bener kok! disini, nggak mungkin salah, oeang aku nanya waktu beli tiketnya!"


"Beli sendiri atau lewat calo?"


"Calo! capek antrinya!" kata Ridho yang sesekali liat jam di tangannya.


"Kan kan udah curiga..."


"Yang penting dapet tiketnya kan? ini juga aku belinya mahal loh!" kata Ridho.


Aku mending no komen aja lah, kesel tapi mending diem. Padahal mulut pengen banget ptotes sama Ridho, tapi tahan aja udah.


Gaes, masalahnya kalau bus nya nongol sih nggak apa-apa mau beli lewat calo kek mau beli sendiri kek, fine-fine aja. Lah ini kita ngejogrog tanpa kepastian kan bikin bete.


Tapi disaat kegundahan sedang merajai hati yang pengen ngedumel tapi nggak bisa, aku ngeliat ada sinar lampu dari kejauhan.


"Dho, Dho! mungkin itu bus-nya!" aku tepokin bahu Ridho.


"Mana?" Ridho yang lagi main hape langsung ngantongin tuh beda gepeng ke dalam sakunya lagi.


"Huuufh, akhirnya dateng juga!" kataku bersemangat, udah kayak anak SD yang lagi mau piknik.


Aku narik Ridho buat siap-siap ngegendong tas masing-masing. Dan Bus itu berhenti pas banget di depan halte tempat kita berdiri.


"Kita cek tiketnya dulu, Va..." kata Ridho yang mau ngerogoh sakunya.


"Halah kelamaan, itu busnya udah berhenti. Nanti yang ada kita malah ditinggal, Dho...!" aku narik mas pacar buat masuk ke dalam bus.


Kondisi bus lumayan ramai, cuma aja dua bangku yang tersisa.


"Kayaknya itu tempat duduk kita deh," aku berjalan tengah, diikuti kangmas. Dan Bus pun mulai berjalan membelah jalanan.


"Va, aku kan belum ngecek tiketnya! kalau kita salah naik bus kan gawat!" kata Ridho.


"Nggak akan salah! tadi aku liat di depan, ada tulisan kota yang kita tuju kok! udah deh, duduk yang tenang!" kataku yang duduk di sisi jendela dan Ridho mau nggakau pasrah menuruti apa mauku.


Daripada berdebat nggak ada gunanya kan ya, aku ngeluarin satu botol minuman rasa mangga.


Glek.


Glek.


Glek.


Beuuuhh segernyaaaaaaa. Suasana malam begitu dingin. Ac busnya nggak main-main, bikin aku harus mepet ke Ridho.


"Kenapa? dingin?" tanya Ridho, aku ngangguk.


"Va ... kayaknya bukan bus ini deh..." Ridho celingukan kayak ke arah depan dan belakang. Lampu sengaja dimatikan, mungkin supaya para penumpang bisa beristirahat, dan itu membuat kita nggak bisa begitu dengan jelas melihat kondisi di dalam sini.


"Tiket!" ucap seorang pria yang akubyakini sebagai kondektur bus.


Ridho segera mengambil dua tiket yang dia simpan di dalam kantong celananya.


Kondektur itu mengembalikan tiket tanpa ada separah dua patah kata lagi.


"Tuh kan bener? kalau kita salah naik bus, itu bapak tadi pasti udah nyuruh kita turun tau...! aku sotoy.


"Iya, tapi..."


Aku yang lagi ikutan ngemil, baru ngerasa kalau suasana bus ini begitu sepi. Nggak ada orang ngobrol sama sekali.


"Apa mereka udah tidur?" aku bergumam.


"Kenapa?" Ridho nengok ke arahku.


"Sepi banget, pada tidur apa ya, Dho?" aku nanya Ridho yang cuma jawab dengan angkat kedua bahu, yang artinya dia juga nggak tau kenapa nggak ada suara orang sedikit pun.


Aku ngelongok ke kursi belakang. Mataku menangkap sesuatu, eh bukan. Lebih tepatnya sesosok anak perempuan kecil yang sedang duduk bersama seorang wanita, kemungkinan ibunya.


Dia mendongak dan menyeringai ke arahku dengan wajah pucatnya.


"Hah!" nafasku memburu.


Aku kembali duduk di posisiku semula, aku melihat ke arah Ridho yang lagi merem, nggak melek.


"Dhooooooo....!" aku nusuk-nusukin jariku di pipinya. Nggak melek-melek nih orang terpaksa aku teplak pipinya.


Plak!


Plak!


Aku tabok pipinya dua kali.


"Aaawwhhh!" Ridho mengaduh dan akhirnya matanya yang bikin aku nat nut nggak jelas itu akhirnya terbuka juga.


"Sakit tau, Vaaaaa!" Ridho ngusap pipinya.


Sekarang giliran jaketnya yang aku tarik-tarik.


"Dhooo! Dhooooo! kayaknya ini bus nggak beres deh!" aku bisik ke telinganya.


"Diem aja udah! kan kamu yang ngajakin aku naik bus ini, iya kan?"


"Iya tapi tadi---"


"Makanya kalau calon suami ngomong itu di dengerin dulu! jangan ngeyel!" Ridho malah nyalahin.


"Iya tapi di belakang itu ada----"


"Sssstt! semakin kamu berisik, semakin kamu bikin mereka curiga. Sekarang diem dan nikmati perjalanan ini, berdoa aja mereka nggak nyasarin kita!" ucap Ridho tegas.


"Takuuuuut..." aku tambah mepet saat aku melihat dua orang sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk bersebrangan dengan kami. Sekilas wajahnya terlihat karena pantulan cahaya dari luar jendela.


PUCAT!


Deg...


Deg...


Deg...


Jantungku kayaknya lagi pada tabuh menabuh.


Sekarang aku terpaku pada benda yang ada di tangan sang pria.


"Rubik?" lirihku.


Klak klek klak klek.


Aku denger suara rubik yang diputar-putar secara random. Dia memainkan benda kotak itu tanpa melihatnya. Ridho ngeliat ke samping kanannya. Dan pandangannya kembali lurus ke depan.


Bulu kudukku meremang.


"Dho, kayaknya..."


"Suuuuuttt, nggak usah disebut! aku udah tau dari pertama napakin kaki di bus ini. Jangan ribut mulu, Va. Nanti yang ada kita dibawa ke alam mereka," ucap Ridho.


"Jangan nakutin, Dho..."


"Loh, siapa juga yang nakutin? sekarang kamu jalan aja ke depan. Liat satu-satu penumpangnya. Itu juga kalau kamu berani..." kata Ridho.


"Nggak mau. Takuuuuut, kita turun aja, Dhooooo..."


"Udah terlanjur! kita tunggu aja sampai bus ini berhenti, baru kira turun..." kata kangmas.


"Kalau nggak berhenti gimana?"


"Ya wassalamualaikum warohmatullahi wabatokatuuuuh!" sahut Ridho.


"Jangan nakutin!" aku tabok congornya.


...----------------...